Enjoyyy🎉🎉🎉
Vote and comment jangan sampe lupa😅 budayakan menyemangati author yee😂😂
Aku terbangun dan kukerjapkan penglihatanku yang masih sama dengan kemarin. Ternyata aku masih disini dengan selang infus di tanganku. Aku menyadari Mama dan Papaku tidak ada disini.
Ceklek!
Aku menengok ke arah pintu Wc yang terbuka dan keluarlah Mama dari dalam.
"Eh kamu udah bangun!" Mama menghampiriku dan membantuku duduk bersandar di kepala brankar.
"Ma papa kemana?" Tanyaku.
"Papa udah pulang katanya masuk kerja hari ini" jelas Mama aku hanya mengangguk saja.
Ceklek!
Pintu ruanganku terbuka dan menampilkan 2 orang gadis yang terlihat khawatir masuk kedalam.
"Lira Abel" aku terkejut dengan kedatangan mereka tiba tiba.
"Alyaa kamu gak apa apa kan?" Tanya Abel ketika sampai disamping tempat tidurku.
"Kita khawatir banget sama kamu Al soalnya kamu gak masuk kampus trus gak ada kabar kita kerumah kamu aja eh kata tetangga kamu kamu masuk rumah sakit" jelas Lira panjang lebar yang diangguki Abel.
"Hmm" aku hanya berdehem.
"Aku juga udah kabarin Mba Anna sama Mba Anes kalau kamu masuk rumah sakit" sambung Lira lagi aku hanya Mengangguk.
"Ehh hay tante" sapa Abel dan Lira yang menyadari kehadiran Mama disini juga.
"Lira dan Abel yah?" Tanya Mama memastikan mereka berdua mengangguk lalu tersenyum.
"Tante titip Alya dulu yah mau beli bubur didepan" sambung Mama lagi.
"Okee siap tante" jawab Abel
Mama ku pergi keluar ruangan. Kini hanya ada Aku dan kedua sahabatku disini.
"Kenapa sih Al kok bisa masuk rumah sakit?" Tanya Lira.
"Iya kamu emangnya sakit apaan sih?" Sambung Abel yang tak kalah penasarannya.
Akupun menceritakan semua kejadian kepada mereka berdua mulai aku yang tak enak badan sampai hampir tertabrak truk sampai Levin yang menyelamatkanku hingga tak sadarkan diri atau kritis lebih tepatnya. Mereka berdua ternganga mendengar ceritaku sampai geleng geleng kepala seperti tak percaya.
"Ya ampun Al trus keadaan Levin sekarang gimana?" Tanya Lira
"Gak tau juga Lir kayaknya dia belum juga sadar" jawabku lirih.
"Semoga saja dia cepat sadar" ujar Abel.
"Al maaf gak bisa lama aku sama Abel ada kelas hari ini nanti kita balik lagi yah" pamit Lira seraya beranjak dari tempat duduk diikuti oleh Abel.
"Iyaa gakpapa makasih udah datang" Kataku seraya tersenyum
"Kita pergi dulu Al cepat sembuh yah" balas Abel Lalu melangkah keluar Bersama Lira.
Mamaku masuk lagi kedalam ruanganku tapi kali ini ia tidak sendiri ia bersama wanita yang seumuran dengannya. Aku tidak mengenal wanita itu dia siapa? Dari gayanya ia orang yang berkelas. Aku hanya terdiam mengamati mama bersama Wanita itu.
"Alya ini Mamanya Levin"
Deg!
Mamanya Levin? Jadi wanita ini mama Levin? Untuk apa dia menemuiku? Apa dia akan marah marah atau meminta tanggung jawabku karena sudah membuat anaknya kritis seperti itu? Aku takut terlebih dia akan melaporkanku ke penjara.
"Kamu Alya?" Tanya Wanita itu
"Ii..iiya aku tante" jawabku gugup sampai kurasakan badanku gemeteran karena ketakutan.
"Kamu yang ditolong anak saya itu?" Kata wanita itu lagi aku hanya menunduk takut.
"Ehmm i..iya tante tapi tante aku minta maaf tante gara gara aku Levin jadi kayak gini hiks..hikss aku minta maaf aku yang salah hiks..hiks.." aku terisak karena ketakutan.
"Ehh kenapa menagis Alya? Ada apa?" tanya ibunya Levin panik.
Aku mendongkak menatapnya yang juga menatapku heran.
"Aku yang salah maafin aku tante" ujarku Lirih.
"Alya tante gak marah sama kamu karena kejadian ini sayang tante tau ini sudah takdir kamu atau Levin yang harus kecelakaan tante malah bangga sama Levin karena dia menolong orang sampai dia sendiri harus kritis seperti ini"
Tersirat raut sedih di wajah ibunya Levin dan semakin membuatku merasa bersalah karena membuat Ibunya sedih. Tapi dilain sisi aku senang Ibunya Levin tidak mempermasalahkan kejadian ini dan tidak menuntut tanggung jawab kepadaku ternyata ibunya sangat baik.
"Tapi tante ini juga salah aku"
"Sudahlah Alya yang penting kamu baik baik saja dan Levin kata dokter dia akan segera sadar dia juga baik baik saja"
"I..iya tante" Aku merasa lega mendengar Levin baik baik saja setidaknya kekhawatiranku padanya sedikit hilang.
"Kamu sudah makan?" tanya ibunya Levin.
"Ohh iya ini Alya mama tadi beli bubur buat kamu" Mamaku langsung mengeluarkan kotak bubur di dalam tas dan memberikannya padaku.
"Kamu makan dulu biar cepat sembuhnya" kata Ibunya Levin seraya mengelus rambutku pelan.
"Makasih yah bu' salma sudah mau memaafkan anak saya padahal gara gara Alya Levin harus kritis" sambil memakan makanananku aku mengamati dua orang wanita paruh baya yang sedang bercerita.
"Tidak apa apa bu' semua terjadi tanpa ada yang tau dan ini bukan salah Alya dia waktu itu juga sedang sakit kan"
"Iya bu' saya gak tau kalau saja Alya yang tertabrak truk itu saat keadaanya lemah mungkin sekarang ia lebih parah dari kondisi Levin sekarang"
"Sekarang mereka baik baik saja Levin masih dalam masa pemulihannya mungkin sebentar lagi dia juga akan sadar"
"Sekali lagi makasih yah bu' saya pikir bu' salma akan marah dan malah menuntut balasan kepada Alya"
Ibunya Levin malah terkekeh pelan lalu ia tersenyum lembut ke arah mama.
"Tidak lah bu' saya tidak seperti itu lagian tidak ada yang menjadi korban" kata Ibunya Levin santai
"Ehmm ma Alya sudah selesai makan" panggilku pada Mama. Mama segera mendekatiku dan mengambil kotak bubur yang sudah kosong lalu memberikan ku air minum.
"Sekarang minum obatnya" aku mengambil pil obat lalu meminumnya.
"Bu' rita saya pamit dulu mau liat anak saya ehm Alya tante pamit yah" Ibunya Levin kulihat sudah berdiri dari duduknya.
"Oh iya bu' makasih sudah jenguk Alya" kata Mama.
"Makasih tante" sambungku dengan tersenyum hangat.
Ibunya Levin melangkahkan kaki keluar dari dalam ruanganku. Aku kembali beristirahat dan Mama yang katanya mau pulang ke rumah sebentar setelah aku meyakinkan mama bahwa aku baik baik saja disini.
Okee gaess thankyou so muchhh for Reading🤗
Fllw ig: lhalamamonto
KAMU SEDANG MEMBACA
SORRY!
RandomBerharap yang tak pernah bisa aku dapatkan adalah sakit yang sudah sering ku rasakan. Sejauh jauhnya aku melangkah hati ini selalu ingin kembali berlabuh pada sesuatu yang sudah pasti dan sangat mustahil ku raih Maaf! Kata yang ingin ku ucapkan saat...
