fifty seven #S2

2.7K 332 22
                                        

Hyunjin menghentikan motornya di depan rumah Minjoo. Terlihat gadis itu yang langsung menghampirinya dari arah pintu depan.

"Ayo berangkat." ujar Minjoo setelah naik ke atas jok motor Hyunjin. Hyunjin mengangguk kecil dan segera menjalankan kembali motornya.

Selama perjalanan menuju sekolah Hyunjin dan Minjoo banyak mengobrol seputar pengalaman mereka. Ya Hyunjin dan Minjoo kini sudah mulai akrab. Karena berdua sama-sama bernasib serupa dan mereka pikir dengan mereka saling berbagi tentang masalah mereka,  semuanya akan membaik dan mereka tidak akan terlalu terlalut dalam kesedihan lagi.

"Ternyata kisah kamu lebih tragis dari aku ya? Aku gak kebayang kalo misalnya hal itu malah nimpa ke aku. Pas lagi sayang-sayangnya dan manis-manisnya, dia malah milih pergi gitu aja. Mungkin kalo aku jadi kamu aku udah frustasi berat." ujar Minjoo yang ditanggapi Hyunjin dengan senyuman tipis.

"Kalo boleh tau? Emangnya dia mutusin kamu karena apa? Terus sekarang dia dimana?" tanya Minjoo penasaran. Sekarang mereka tengah berjalan beriringan ke arah kelas. Dan itu menjadi pusat perhatian siswa-siswi lain tapi mereka berdua tidak terlalu memperhatikan hal itu.

"Dia gak mau kasih gue alasan yang jelas. Dan abis itu.. dia tiba-tiba pergi gitu aja dan dia sama sekali gak ngasih tau ke gue dia bakalan pindah kemana." jelas Hyunjin diakhiri dengan senyuman miris.

Minjoo jadi tersenyum iba, ternyata kisahnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kisah Hyunjin yang terdengar begitu tragis.

"Tapi gue yakin kalo dia punya alasan tersendiri yang gak bisa dia kasih tau ke gue. Dan gue juga.. masih yakin banget kalo gue ini sama sekali belum bisa dia lupain." ujar Hyunjin lagi sambil tersenyum meyakinkan dirinya sendiri. Entah kenapa hatinya memang selalu memerintahkannya untuk tidak berhenti berharap akan Maurel.

"Kalo lo sendiri gimana? Apa dia juga tiba-tiba mutusin lo tanpa alasan?" giliran Hyunjin yang sekarang bertanya. Minjoo jadi terdiam, sejujurnya.. kisahnya juga bisa dibilang tragis sih. Apalagi jika cintanya itu bertepuk sebelah tangan.

"Kalo aku.. sebenarnya aku gak ada hubungan apapun sama dia. Dia cuman tetangga aku dari kecil, dan bodohnya dari dulu sampe sekarang aku belum berhenti ngejar-ngejar dia. Padahal aku tau sendiri kalo dia itu orangnya gak mau nengok sedikitpun buat liat aku." jelas Minjoo diiringi dengan helaan nafas berat diakhir.

Sepertinya kisahnya ini terdengar sangat menyedihkan. Bagaimana rasanya menyukai seseorang selama bertahun-tahun, tapi orang itu sama sekali tidak pernah melihat ke arah kita. Rasanya ini lebih menyesakkan ketimbang terlibat ke dalam friendzone.

Hyunjin lalu menepuk-nepuk punggung Minjoo sambil tersenyum menenangkan.

"Artinya mungkin.. dia emang bukan yang terbaik buat lo."

"Biarin Jeno ngedeketin lo, siapa tau hati lo jadi kebuka sendiri buat dia

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Biarin Jeno ngedeketin lo, siapa tau hati lo jadi kebuka sendiri buat dia."

Sedari semalam perkataan Chaeryeong terus terngiang-ngiang di kepala Maurel. Dan Maurel sepertinya memang harus mengikuti saran dari sahabatnya itu.

BAD HABITS✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang