fourty nine #S1

3.6K 502 49
                                        

"Mau sekeras apapun kamu berusaha, aku bakalan tetap pergi."



"Rel, emangnya lo ada masalah apa sih sampe putus sama Hyunjin? Ceritain semuanya ke gue rel." tanya Chaeryeong yang tengah berbaring di atas kasur Maurel. Ya Chaeryeong sekarang tengah berada di rumah Maurel.

Maurel menghela nafas berat, rasanya sangat sulit untuk menceritakan ini. "Gue cuman gak mau Hyunjin kenapa-napa, apalagi sampe dia celaka."

Chaeryeong mengernyit bingung, "Maksud lo apa rel? Emangnya ada yang pernah ngancem mau nyelakain Hyunjin?"

Maurel mengangguk sambil tersenyum getir, "Ya, dan lucunya.. orang itu bokap gue sendiri."

Chaeryeong kini mengerti, tanpa ditanya lebih jauh pun Chaeryeong sudah sangat paham. Sebelumnya Chaeryeong memang sudah tau tentang ayah Maurel karena Maurel sering curhat kepadanya.

Chaeryeong lalu bangun dan memeluk Maurel yang tengah duduk dari belakang.

"Yang sabar ya beb, gue tau ini berat banget buat lo."

"Gue sebenernya gak mau mutusin Hyunjin yeong.. gue masih sayang banget sama dia.. tapi.. gue harus ngelakuin ini biar dia gak kenapa-napa.."

Pertahanan Maurel lalu runtuh, gadis itu menangis dan bahunya bergetar hebat.

"Dan kenaikan kelas nanti gue bakalan pindah sekolah.. gue juga gak bakalan tinggal di rumah ini lagi.."

Chaeryeong membelalak kaget, ia menatap Maurel tak percaya.

"Gila?! Itu bokap lo yang nyuruh juga?!"

Maurel mengangguk yang membuat Chaeryeong sama sekali tidak habis pikir dengan ayahnya Maurel. Kenapa orang itu kejam sekali?

"Parah ini mah.. kenapa lo harus pake pindah juga sih?!" Chaeryeong jadi ingin ikut menangis. Ia benar-benar merasa sangat iba kepada Maurel. Sudah harus putus dengan pacar kesayangannya, gadis itu harus pindah sekolah dan rumah pula.

"Gue sama sekali udah gak punya pilihan lagi selain nurutin semua permintannya ayah yeong.. lo tau kan ayah gue itu orangnya gimana.. apalagi ini nyangkut keselamatannya Hyunjin juga.. gue gak bisa diem aja yeong!"

Chaeryeong mengusap-usap punggung Maurel sambil menatap gadis itu iba. "Gue ngerti posisi lu rel, gue juga sebenernya pengen banget bantu lo. Tapi gue bingung mesti bantu kayak gimana. Bokap lo terlalu kejam sama lu rel.."

"Udahlah yeong gapapa, mungkin emang udah jalannya semuanya harus kayak gini."

Chaeryeong kali ini tidak bisa menahan air matanya. Ia sama sekali sangat merasa tersentuh melihat ketulusan seorang Maurel. Ia kemudian memeluk Maurel sambil ikut menangis.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BAD HABITS✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang