"Belum mau keluar ya, ma?"
Jevan menghela napas saat mendapat anggukan pelan dari ibu gadis yang dicintainya itu saat turun dari lantai atas. Gadis yang membuatnya merasa uring-uringan tiga hari ini.
"Maaf ya, Jev. Mama nggak bisa bantu kamu."
Jevan yang masih bersandar di tembok, menggeleng cepat. "Nggak papa, ma. Lagian juga emang salah Jevan."
Salahnya emang yang kurang peka. Setelah mama mengabarinya bahwa Ayumi pulang dengan kondisi menangis, Jevan langsung kerumah gadis itu. Hendak menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.
Namun Ayumi sama sekali tidak menghiraukannya. Menghindarinya berulang kali, bahkan ponselnya dibuat tidak aktif. Membuatnya kehilangan konsentrasi di kantor. Benar-benar khas seorang Ayumi sekali.
Apalagi menurut keterangan mama, Ayumi sudah setuju mau menikahinya. Jevan makin nggak karuan.
"Kamu udah makan? Mau mama masakin buat kamu?" tanya mama kemudian.
Makan. Jevan lupa, mungkin setelah makan siang saat meeting tiga hari yang lalu, ia benar-benar memasukkan makanan kedalam mulut. Jevan tidak berselera makan.
Jevan mengangguk pelan. "Boleh ma."
"Ya udah. Kamu tunggu bentar ya, mama masak dulu." ujar mama lalu berjalan menuju dapur dibawah tangga.
Jevan mendaratkan bokongnya di sofa, baju panjangnya sudah terlipat hingga lengan, dasi hitam yang dipakainya tadi disampirkan ya ke bahu. Sesekali cowok itu memejamkan mata, mencari kenyamanan disana.
"Kak.."
Jevan membuka matanya. Wajah tersenyum Arima, menyapa penglihatan nya.
"Hai, kak.." ucap gadis itu lengkap dengan lambaian tangannya.
"Arima." Jevan balas tersenyum. "Kok baru liat?"
Gadis itu menggaruk tengkuknya. "Butik lagi rame, jadi biar nggak mondar-mandir aku tidur disana."
Dua tahun yang lalu, Arima mulai ikut perawatan. Meski awalnya gadis itu enggan, namun setelahnya gadis itu berani datang sendiri kesana. Kebetulan adik dokter Sinta yang merawat gadis itu mempunyai butik, Arima menawarkan diri menjadi pegawai disana. Katanya biar nggak bosan dirumah.
"Bagus dong. Kakinya gimana?"
Arima tersenyum kecil. "Lumayan, nggak semati rasa kayak dulu."
Gadis ini. Jevan salut dengan kegigihannya, untuk sembuh dengan senyum yang masih saja seperti dulu. Tidak berubah sedikit pun.
"Ayumi, mau kemana?"
Suara mama sontak membuat Jevan dan Arima menoleh kearah sumber suara. Sosok Ayumi yang baru turun tangga menatap mereka sebentar lalu memalingkan wajah, kearah mama.
"Ada pertemuan dadakan ukm di kafe. Cuma bentaran kok, ma."
Mama melirik Jevan yang sudah beranjak berdiri dari sofa menuju Ayumi.
"Sama Jevan ya, udah malem." pinta mama.
Ayumi yang tidak sadar bahwa Jevan sudah berdiri dibelakangnya, menggeleng. "Aku bisa sendiri kok, ma. Nggak perlu ditemenin."
"Kalo nggak mau, nggak usah pergi."
Ayumi menoleh.
"Apa-apaan sih?"
Jevan menarik napas. "Aku ikut kamu."
"Nggak perlu!" Ketus Ayumi. "Ma, aku berangkat." ujarnya sembari berlalu keluar rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Idola [Completed]
Fiksi RemajaCover by @karhadid Part 43-end di PRIVATE Follow sebelum membaca Ayumi Mariska Cewek tercantik di SMA Gemilang. Idola sekolah. Punya follower terbanyak satu sekolah. Namun semua orang tahu bahwa Ayumi adalah Pembully sejati. Sehingga membuatnya dita...
![Idola [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/135690942-64-k816858.jpg)