BAB 29 - Berkunjung

141 8 0
                                        

Nicholas tengah berada di dalam perjalanan untuk menuju ke tempat peristirahatan terakhir mamanya, rasanya sudah lama sekali ia tidak berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir sang mama. Sebelum ia pergi berangkat bekerja, ia memutuskan untuk berkunjung terlebih dahulu. Ia sepertinya ingin meminta izin kepada sang mama tentang rencananya yang akan mengubah anak gadis dari sahabatnya itu.

Nicholas yakin apabila mamanya masih hidup, pasti sang mama akan mengizinkan niat baik Nicholas. Kemarin malam sehabis pulang dari rumah Lisa. Ia telah mengatakan niatnya pada sang papa tentang rencananya ini, sang papa sangat sangat mengizinkan niat baik Nicholas.

>Flashback On<

Nicholas membuka jaketnya, meletakkan diatas sofa lalu menyalam sang papa yang kebetulan sedang membaca koran di ruang tamu. 

"Abis kencan?" Sang papa bertanya dengan menutup koran karena ia ingin mendengarkan setiap cerita Nicholas.

Nicholas mendudukkan bokongnya disofa, lalu ia tersenyum "Sekalian minta izin."

Kerutan di dahi sang papa kelihatan begitu nyata, bertanda bahwa sang papa bingung dengan perkataan Nicholas. Seperti mengerti kebingungan sang papa, Nicholas berdehem sejenak "Adriella, dia kayaknya lagi terjerumus pergulan bebas. Nic pernah liat dia ngerokok, dan kayaknya setiap malam dia pergi ke diskotik atau club malam. Pas pertama kali liat Adriella, ada rasa untuk mengubah gadis itu. Ya, walapun Nic tahu pasti sulit rasanya."

Penjelasan dari Nicholas membuat Nicky tercengang, tidak mungkin anak sahabatnya itu terjerumus pada kenikmatan dunia melihat bagaimana sikap Andreas dan sang istri yang seperti orang-orang berpendidikan pada umumnya.

"Sekarang Nic mau minta izin sama papa biar semua bisa berjalan dengan lancar, dan papa ngga berpikir yang macem-macem. Ini murni dari hati Nic sendiri tanpa mengharapkan hal apapun." Nicholas kembali bersuara karena sang papa tidak merespon sama sekali.

Nicky menatap dalam mata Nicholas mencoba mencari kebohongan, namun yang ia temukan hanyalah sebuah pancaran kejujuran. Ia pun tersenyum kearah Nicholas "Papa akan dukung keputusan baik kamu, asalkan kamu bisa jaga diri dan jangan malah kebawa dengan pergaulan Adriella. Karena pergaulan buruk dapat merusak kebiasaan kamu yang baik, kamu harus bisa buktiin bahwa kamu bisa membawa terang dan berdampak baik bagi Adriella atau teman-teman kamu yang lain."

Nicholas tersenyum miring "Tenang aja pa,  Nic yakin bisa buat gadis itu berubah. Ya pastinya dengan jangka yang lama, Nic juga yakin pasti masih ada hal lain yang Adriella lakukan selain sering ke club dan merokok."

Nicky mengangguk mengerti, ia tidak menyangka bahwa anaknya bisa peduli kepada seseorang yang baru saja dikenal seperti Adriella. Sama seperti orang tua pada umumnya, jika anak melakukan kebaikan pasti akan didukung. Ia mendukung seratus persen keputusan Nicholas, kalau pun kedepannya Adriella tidak bisa berubah karena terikat setidaknya Nicholas sudah pernah berusaha.

"Semangat nak, kalau kamu lakukan hal yang positif pasti segalanya dimudahkan. Tapi kita ngga tahu sikap seseorang gimana, kalaupun nanti Adriella tetap ngga berubah kamu jangan maksa dia buat jadi apa yang kamu inginkan, karena kalau kamu maksa dia buat berubah itu ngga akan baik," Ada jeda kemudian Nicky menepuk pundak Nicholas berkali-kali "Segala sesuatu yang dipaksakan pasti hanya bersifat sementara, sangat berbeda apabila Adriella berubah dengan niat dan hatinya itu akan bersifat abadi."

Nicholas akan selalu menanamkan apa yang saat ini papanya katakan, papanya memang benar ia tidak akan pernah meminta Adriella berubah karena dirinya. Biarlah Adriella berubah karena ia ingin dan karena hati nuraninya menuntun untuk dirinya berubah menjadi lebih baik.

BUKTI  [THE END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang