BAB 46 - Titik Terang

148 12 1
                                        

Adriella sudah selesai ujian nasional dari dua hari yang lalu, dan sejak saat itu mereka mulai mencari Diego sesuai dengan janji Nicholas. Nicholas juga sudah meminta bantuan kepada seseorang, ia harap seseorang tersebut dapat menemukan orang yang dia cari. Walaupun informasinya sangat minim, tapi ia yakin ia bisa menemukannya.

Semenjak dua hari juga, hubungannya dengan Adriella bisa dibilang cukup membaik, gadis itu tidak berkata kasar ya meskipun ia masih sering berkata jutek kepada Nicholas. Dan jangan lupakan Nicholas dengan tongkat kruk yang masih setia menemaninya, sedang duduk di sebuah cafe bersama Adriella. Ia menghela napas sejenak, rasanya begitu sulit berjalan jauh dengan menggunakan tongkat kruk. Lelah selalu menyerangnya tapi ia tidak boleh mengeluh.

"Lo yakin bisa nemuiin Diego?" Adriella bertanya namun fokusnya kepada buku menu di cafe tersebut.

Nicholas mengedikkan kedua bahunya "Saya juga kurang percaya diri, ya tapi setidaknya kita coba dulu."

Adriella menuliskan pesanannya, ia lalu menatap keaerah Nicholas "Lo mau pesen apa?"

Nicholas melihat kearah buku menu tersebut, ia hanya memilih minuman saja  "Ice Tea aja."

Tanpa mau banyak bertanya, Adriella langsung menuliskan pesanan Nicholas. Ia memberikan kertas tersebut kepada pelayan yang telah ia panggil tanpa senyum sedikit pun.

Menghela napas, ia melihat kearah Nicholas "Terus kita harus cari kemana?"

"Ke seluruh Universitas Swasta!" Jawab Nicholas dengan santai.

Adriella membulatkan kedua mata, Nicholas pasti sudah gila. Universitas Swasta tidaklah sedikit, yang benar saja! "Serius? Lo tahu kan di Jakarta campus ngga sedikit."

Nicholas mengangguk, kini tubuhnya sedikit dicondongkan kepada Adriella "Saya tahu, tapi ini salah satu cara buat nemuiin Diego sesuai permintaan kamu. Saya juga udah minta bantuan sama seseorang kebetulan dia IT, siapa tahu dia bisa bantu kita buat nemuiin dimana Diego."

Adriella mengangguk mengerti, ia akan mengikuti cara Nicholas. Ini pasti akan jadi hari yang melelahkan.

"Kamu ngga coba cari di akun sosmed Maurren? Siapa tahu kita bisa nemu dimana kampus dia." Usul Nicholas.

Adriella mendesah napasnya, wajahnya terlihat sangat kecewa "Udah, tapi ngga ada tanda-tandanya sama sekali. Maurren ngga pernah masukkin foto sama pacarnya."

Hmm. Cukup sulit, tapi Nicholas kini mengeluarkan senyuman miringnya. Jika sudah seperti itu, ia tahu solusi apa yang harus ia berikan "Di pertemanan? Ngga mungkin sepasang kekasih ngga berteman di sosmed, kamu udah cari di pertemanan mereka?"

Adriella menggeleng dengan antusias, ia mengambil ponselnya dengan begitu semangat. Aplikasi pertama yang ia buka adalah facebook, ia mencari di pertemanan Maurren lalu mulai mencari nama Diego disana. Adriella menemukan dua nama Diego yang tertera dikolom pertemanan tersebut, ia membukannya secara satu persatu. Tapi, pria itu tidak mencantumkan lokasi apapun di facebooknya.

"Dia ngga masukkin apa-apa disini." Ujar Adriella, semangatnya hilang begitu saja.

Nicholas hendak menjawab Adriella, namun ponselnya berdering. Ia mengambil ponselnya di saku celana dengan cukup sulit, melihat nama yang tertera di ponselnya.

Ia menjawab panggilan tersebut "Hallo."

"Di Universitas Trisakti, biasa clubbing di Umbra sekitar jam 22.00 dia udah disana, dan yang paling terpenting dia orang yang cukup berbahaya. Gue saranin hati-hati, lebih baik kalau mau kesana lo bawa polisi sekalian. Gue bisa bantu." Seseorang itu langsung memberitahu membuat Nicholas tersenyum.

BUKTI  [THE END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang