BAB 32 - Menepati Janji

166 11 3
                                        

Sesuai dengan janji yang diberikan Nicholas semalam, disinilah Nicholas berada di depan rumah Adriella dengan setelan kantoran. Sepertinya setelah mengantarkan gadis itu ke sekolah, ia akan langsung berangkat bekerja. Untungnya hari ini Lisa tidak meminta dirinya untuk mengantarkan gadis itu ke kantor, karena jika terjadinya bentrok antara mengantarkan Adriella atau mengantarkan Lisa ke kantor berarti Nicholas harus memilih. Dan Nicholas paling benci jika harus memilih bagian terpenting dalam hidupnya, ia juga paling tidak bisa menyakiti hati perempuan.

Nicholas memasuki rumah Adriella dengan langkah yang sangat pasti. Ia kini juga tengah membawa tentengan berupa plastik putih yang di dalamnya berada styrofoam, ia membawa bubur untuk Adriella.

Nicholas sudah berada di depan sebuah pintu putih besar, ia ingin mengetuk pintu itu. Namun gerakan tangannya tiba-tiba saja berhenti dikarenakan pintu tersebut sudah terbuka dari dalam.

"Astaga, anjir!" Seru Adriella terkejut sembari memegang dadanya.

Ia tidak tahu bahwa Nicholas sudah berada di depan pintu rumahnya, ia pikir Nicholas akan lupa dan tidak menepati janji untuk mengantarkan dirinya ke sekolah. Pikiran Adriella ternyata salah.

Nicholas tersenyum dengan sangat hangat "Pagi."

Adriella bersedekap dada, menyenderkan tubuhnya di depan pintu "Ngapain lo kesini pagi-pagi?"

"Sesuai janji saya, saya akan antar kamu ke sekolah. Dan oh iya kamu sudah sarapan?"

Adrillela menggelengkan kepala, karena memang benar Adriella belum sarapan. Ia telat bangun, sehingga ia melupakan sarapannya.

Nicholas menyodorkan plastik putih tersebut kearah Adriella "Buat kamu."

Adriella menaikkan sebelah alis, tatapannya kini teralih antara plastik putih tersebut dan Nicholas selama beberapa detik.

Nicholas terkekeh, ia tahu bahwa Adriella sepertinya kembali ragu dengan apa yang ia bawa. Apa sesusah itu menerima pemberian dari Nicholas?

"Hmm, tenang aja. Saya ngga ngasih jampe-jampe kok, seperti yang saya bilang seb---," Penjelesannya Nicholas terpotong dikarenakan Adriella menerima plastik itu dengan sedikit kasar.

Adriella terlalu malas bila Nicholas terus mengejeknya, ini masih pagi dan Nicholas sudah membuat Adriella naik darah? Tidak bisakah pria itu sedikit saja membuat dirinya tenang.

Mendengus sebentar, ia segera berlalu dari hadapan Nicholas  "Buruan kalau mau anter!"

Nicholas kembali tersenyum, ia jadi sedikit yakin bahwa ia dapat merubah Adriella secepatnya. Ya, tapi ia juga tidak boleh terlalu percaya diri karena jika tidak sesuai kenyataan pasti rasanya akan sakit. 

Adriella sudah berada disamping motor Nicholas, ia meneliti sebentar sembari memikirkan kembali apakah ia akan setuju diantarkan oleh Nicholas atau ia membawa mobilnya sendiri. Terkadang Adriella suka bingung sendiri pada pilihannya, ia terlalu labil. Maklum lah namanya juga remeja.

"Gue ngga jadi naik motor lo, bisa item nanti gue!" Setelah memikirkan beberapa menit, akhirnya Adriella memilih untuk tidak ikut dengan Nicholas.

Nicholas yang berada disamping Adriella, segera menghadap ke gadis itu sambil tersenyum miring "Ini tuh matahari pagi bagus buat kesehatan, bukannya buat item. Lagian kan kamu udah pake jaket."

"Kenapa sih lo setiap ngomong sama gue selalu buat kesehatan? Kayak dokter aja." Protes Adriella.

Nicholas terkekeh "Bukan gitu, tapi emang yang saya bilang bener. Ayo sama saya aja dijamin bakalan seru."

"Ngga, gue ngga mau. Lo pulang aja gih."

Nicholas menghela napas dengan sangat kasar, baru ia senang karena Adriella langsung menurut padanya tanpa membantah. Sekarang malah yang terjadi penolakan, sungguh ia sangat semangat ketika mengingat bahwa akan mengantarkan Adriella ke sekolah. Rasanya ia bisa sedikit bernostalgia tentang masa SMAnya. 

BUKTI  [THE END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang