"Jadi, kenapa kamu datang kerumah saya?" Tanya Nicholas saat mereka sudah berada diluar pekarangan rumah Nicholas.
Setelah makan malam tadi, Nicholas mengajak Adriella untuk menelusuri jalan sambil menikmati terpaan angin malam dengan menggunakan kedua kaki mereka. Saat ini Adriella sedang berjalan bersisihan dengan Nicholas, ia hanya berfokus lurus menatap beberapa orang yang sedang berlalu lalang menggunakan motor.
"Gue cuman pengen nanya aja sama lo, ya lebih tepatnya gue mau mastiin ke lo bahwa yang gue denger salah." Ujar gadis itu.
Nicholas memasukkan tangan ke saku celana, ia pun sama seperti Adriella fokusnya saat ini hanya kedepan jalan "Apa tuh?"
"Emang lo pernah nyium temen gue yang waktu itu di club?" Pertanyaan Adriella membuat langkah kaki Nicholas terhenti. Adriella yang merasakan pergerakan Nicholas, langsung menghentikan langkahnya.
"Hah? Maksudnya gimana nih? Cium temen kamu?" Nicholas seperti orang bodoh karena sangking terkejut mendengar pertanyaan mendadak Adriella.
Ini tuduhan yang tidak berdasarkan fakta, ia saja tidak pernah bertegur sapa dengan temen Adriella dan kenal dekat pun tidak. Bagaimana bisa ia mencium temen Adriella? Dari pada ia mencium bocah bau kencur seperti temen Adriella, ia lebih memilih untuk mencium bantal kesayangannya.
"Kok lo kayak orang bodoh gitu sih? Gue nanya lo pernah nyium temen gue?" Adriella bertanya dengan nada ketus.
Nicholas menggelengkan kepala "Dari pada cium temen kamu, mendingan saya cium bantal guling kesayangan saya. Sumpah."
Adriella menaikkan salah satu alisnya, ia tidak mengerti perkataan Nicholas "Jadi?"
"Duh, padahal kata-kata saya sudah sangat jelas loh. Kalau saya tuh ngga pernah cium temen kamu itu, saya aja ngga kenal deket."
Adriella mengedikkan kedua bahunya "Ya, kan mana tahu lo tipical cowok brengsek yang langsung serobot cium sana cium sini."
Nicholas berdecak namun ia masih terseyum "Perkataan kamu buat saya terluka, tapi kamu perlu denger baik-baik. Kadang kita ngga boleh terlalu percaya sama omongan orang lain, sebab bisa jadi orang tersebut ingin menjelekkan atau bahkan menjatuhkan kita. Maaf saya harus bilang, walaupun itu sahabat kamu sendiri. Kayaknya dia ngga suka liat kamu bergaul sama saya, makanya dia cari cara supaya kamu benci sama saya," Nicholas berdiam sejenak, lalu melirik kearah Adriella lalu melajutkan perkataanya "Prinsip saya adalah menjaga apa yang berarti untuk saya, bukan merusak demi kepuasan sesaat."
Adriella sempat merasa terpesona dengan perkataan terakhir dari Nicholas, ia mengetahui pria itu mengatakan dengan sangat tulus dan terpancar keseriusan dari nada bicara Nicholas. Tapi sekarang Adriella tampak berpikir sejenak, Nicholas pun melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda begitupun dengan Adriella.
"Masa sih kayak gitu? Tapi apa motifnya coba?" Tanya Adriella.
Nicholas mengedikkan kedua bahunya "Kemungkinan yang ada dipikiran saya adalah dia ngga mau kamu terlalu condong ke saya, terkesan takut kehilangan lebih tepatnya."
"Tapi gue kan selalu main sama dia, bahkan dia nyuruh apapun gue lakuiin." Ujar gadis itu.
"Termasuk ngerokok sama dateng ke club, ya?" Tambah Nicholas.
Adriella menganggukkan kepala "Sejujurnya, gue ngelakuiin hal itu karena pengen narik perhatian orang tua gue yang terlalu sibuk kerja. Gue kesepian, ngga ada orang yang bisa gue ajak ngobrol. Kebetulan saat itu Maurren ngajak gue dateng ke tempat begituan, gue ngerasa bahagia dan ngerasa lepas banget disana."
Nicholas menarik sudut bibirnya, ia tersenyum karena setidaknya Adriella mulai mau berbagi dengan dirinya. Sangat jarang hal ini terjadi, yang ada hanyalah penolakan, bentakan, perbuatan kasar dari seorang Adriella. Tapi malam ini ia melihat sisi lain dari Adriella.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUKTI [THE END]
RomanceBukti yang akan membuktikan segalanya, membuktikan bahwa sebuah perjuangan tidak akan sia-sia, sebuah perjuangan yang membuahkan hasil yang baik. Walaupun, Nicholas tahu sangat sulit mengubah seorang gadis menjadi pribadi yang lebih baik, seorang...
![BUKTI [THE END]](https://img.wattpad.com/cover/134621921-64-k439948.jpg)