BAB 49 - Niat berubah

172 10 3
                                        

Adriella menghembuskan hisapan sinte terakhirnya, sudah hampir dua minggu ia tidak memakai barang tersebut. Akibat kejadian Nicholas masuk kerumah sakit, dan kesibukannya mencari Diego. Sudah beberapa hari semenjak pelaporan kepada polisi masih belum ada tanda-tanda bahwa pria itu ditangkap! Padahal Adriella sangat menginginkan hal tersebut, bukannya jahat mendoakan orang lain ditangkap polisi tapi Adriella akan merasa lega karena setidaknya mengurangi orang jahat didunia ini.

Adriella membuang puntung sintenya, ia menghela napasnya sejenak. Entah sampai kapan ia akan memakai barang ini, ia ingin berubah sungguh. Tapi ia bingung bagaimana caranya, ia tidak bisa berjalan sendirian. Ingin meminta bantuan kepada orang tuanya, namun ia yakin pasti kedua orang tuanya sangat sibuk. Haruskah ia meminta bantuan kepada Nicholas?

Adriella membuang abu dari sinte kedalam closet, menyimpan asbak beserta dengan korek apinya di dalam lemari. Ia akan menyimpan kedua barang tersebut agar tidak ada yang dapat membuangnya. Setelah selesai, ia kini menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur. Ia ingin memejamkan kedua matanya, namun sial ia tidak bisa tertidur akibat suatu hal.

Ia mengambil ponselnya, mendial nomor ponsel seseorang.  Ketika sudah dijawab Adriella langsung memotong sapaan dari sebrang sana "Gue tunggu di taman yang waktu itu kita jalan, jangan pake telat! Bhay!"

Adriella mengganti pakaiannya, dari pakaian piyama. Kini ia sudah mengganti dengan celana denim dan kaos oblong teddy bear berwarna putih, setelah dirasa cukup rapi. Ia meninggalkan kamarnya dan langsung menuju taman.

Adriella mengemudi mobilnya tidak sampai dua puluh menit, ia keluar dari mobilnya tanpa mengunci mobilnya terlebih dahulu. Entah mengapa ia begitu menggebu-gebu ingin berubah, ia rasa ini waktunya untuk berubah. Ia lelah, lelah dengan sikapnya yang mudah marah akibat obat tersebut, lelah karena harus menjadi seseorang yang penyendiri, dan ia lelah harus hidup ketergantungan dengan obat-obatan sialan itu!

Adriella melangkah ke seseorang yang telah ia hubungi, orang itu rupanya datang lebih dulu dari pada Adriella. Entah dorongan dari mana, Adriella begitu cepat berjalan sehingga kini membuatnya harus terbentur oleh dada bidang pria itu. Adriella mendekapnya dengan sangat erat, apakah ini akibat sinte tersebut? Ia begitu berani memeluk tubuh pria itu tanpa persetujuan pria itu.

Untuk kedua kalinya, selain insiden dirumah Nicholas. Ia memeluk tubuh tegap pria yang lebih tinggi darinya, pelukkan yang pertama memang tidak mendapatkan pelukan dari pria tersebut berbeda dengan pelukan kali ini. Pria itu membalas pelukannya, ia bahkan mengelus surai rambut Adriella yang panjang begitu lembut.

"Are you okay?" Tanya Nicholas Putra Sastrowardoyo masih memeluk tubuh gadis itu.

Adriella menggelengkan kepala "I'm not okay, but i'm so tired."

Nicholas tidak mengerti arti perkataan Adriella, gadis itu lelah? Ia tidak mengerti lelah seperti apa yang dimaksud oleh Adriella. Tidak mungkin lelah yang dimaksud Adriella seperti lelah badan, jika ia lelah badan. Gadis itu tidak mungkin menghampiri dirinya kemudian memeluknya dengan begitu erat, seperti seseorang yang sedang membutuhkan bantuan.

"Lelah? Kenapa kamu lelah?"

Adriella melepaskan pelukannya kepada Nicholas, mendongkakan kepalanya dan menatap mata Nicholas dengan tatapan yang mungkin Nicholas dapat artikan seperti tatapan memohon "Can you help me, please?"

Tanpa menunggu lama, Nicholas menganggukkan kepala. Ternyata benar, Adriella pasti membutuhkan bantuan darinya. Hatinya sedikit bersorak senang, karena setidaknya Adriella benar-benar menerima keberadaannya.

"Bantu gue buat berubah Nic, gue lelah kalau harus terus hidup begini. Gue pengen nikmatin masa muda gue, gue pengen sehat sampai gue tua nanti, dan gue lelah cari perhatian yang bakalan rusak masa depan gue kayak Maurren. Dari Maurren gue udah banyak banget belajar, gue sadar sekarang."

BUKTI  [THE END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang