BAB 58 - Terungkap

267 12 4
                                        

Tiga setengah tahun kemudian,

Adriella, Nicholas, papa Nicholas, Natanael, Amelia berserta dengan Andreas saat ini berada di tempat peristirahatan terakhir Maurren. Adriella memutuskan sebelum ketempat mama Nicholas, ia ingin ketempat peristirahatan terakhir Maurren atau yang lebih disebut rumah terakhir Maurren. Ini kedua kalinya ia berada di rumah Maurren, ketika pertama kali datang saat penguburan sahabatnya itu selebihnya ia tidak datang karena tidak siap.

Adriella mengusap batu nisan sahabatnya, banyak rumput liar yang tumbuh disana. Sepertinya sangat jarang keluarga Maurren mengujungi gadis itu, menghela napas. Ia menatap nanar nama yang tertera dibatu nisan "Mar, maaf karena baru kesini. Gue ngga kesini karena gue ngga siap Mar, gue ngerasa bersalah sama lo. Seharusnya gue bisa narik lo supaya ngga terlalu terjerumus dalam pergaulan bebas, bukan malah ikut terjerumus sama lo. Gue bodoh banget Mar! Gue pengen ngulang semuanya sama lo, gue pengen jadi sahabat yang baik buat lo, gue pengen lo bisa berubah jadi baik karena gue, dan gue pengen lo selalu ada disamping gue, Mar!" 

Adriella yang saat ini sedang menggunakan kaca mata hitamnya, mulai menangis saat mengingat masa-masa dimana ia masih bersama dengan Maurren, mengingat betapa bodoh dirinya sampai harus mengikuti segala permintaan buruk Maurren. Ia sangat menyesal jika mengingat hal itu.

"Seandainya gue punya kantong ajaib Doraemon, gue bakalan balik ke masa lalu Mar. Gue bakalan bikin lo sadar bahwa yang kita lakuiin dulu itu salah banget, ngga seharusnya kita kayak gitu Mar. Tapi sayangnya gue ngga punya kantong ajaib itu dan gue ngga bisa balik ke masa lalu, Mar sekali lagi gue bener-bener minta maaf! Mungkin gue kayak orang bodoh ngomong begini disaat lo sendiri udah bahagia di sana sama Tuhan, iya kan Mar pasti lo udah bahagia kan Mar? Karena di setiap doa gue, gue selalu minta supaya lo selalu bahagia di surga sana Mar! Ngga berasa udah hampir 4 tahun lo ninggalin gue Mar! Makasih banyak buat pembalajaran yang lo berikan buat gue Mar, lo akan selalu jadi sahabat terbaik buat gue!" Adriella menghapus air matanya, ia melihat kearah Nicholas lalu mengambil tangan pria itu dan menggenggamnya "Sebentar lagi gue bakalan nikah sama laki-laki yang super duper sabar ini Mar, berkat tulisan lo dalam surat dan perjuangan laki-laki ini gue jadi sadar sepenuhnya bahwa yang gue lakuiin adalah sebuah kesalahan besar, karena ngga seharusnya kita cari perhatian dengan cara yang salah, berkat lo juga orang tua gue jadi punya waktu buat gue Mar. Gue pengen berbagi kebahagiaan gue sama lo, tapi gue yakin tanpa gue kasih tahu pasti lo juga udah tahu kan? Karena lo kan orang paling kepo di seluruh dunia hehehe." Tawa Adriella diakhir kalimat.

"Yaudah Mar, gue ngga bisa lama-lama karena gue juga mau kerumah calon mertua gue." Adriella bangkit dari duduknya, ia meletakkan bunga diatas makam Maurren lalu pergi meninggalkan rumah Maurren yang diikuti oleh keluarganya dan juga keluarga Nicholas.

Nicholas mengelus pundak Adriella begitu lembut dan begitu penuh kasih sayang, ia tidak ingin melihat gadis yang dicintainya menangis seperti ini.

"Maaf karena ngga nepatin janji, aku lemah kalau udah berkaitan sama Maurren." Ujar gadis itu.

Nicholas tersenyum menenangkan "Gapapa sayang, aku maklumin kok."

"Makasih, ya!"

Nicholas hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.

Adriella sangat bersyukur menjalin hubungan dengan Nicholas, pria itu masih sabar menghadapi segala tingkah laku Adriella. Bahkan sangat jarang Nicholas marah terhadap Adriella, pria itu selalu mengajarkan hal-hal positif, pria itu selalu mengajarkan bahwa segala sesuatu perlu di dasari dengan doa, dan masih banyak lagi yang diajarkan oleh Nicholas untuk dirinya.

Karena menurut Adriella, laki-laki yang baik akan membuat pasangannya dekat dengan Tuhan bukan malah sebaliknya.

*****

BUKTI  [THE END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang