BAB 6 - Surat Cinta

360 16 0
                                        

Sesudah membantu kedua orang tua menjaga toko. Nicholas kembali ke kamar agar menyelesaikan surat cinta, ia benar-benar buntu jika menyangkut soal cinta-cintaan.

Nicholas mengambil buku beserta dengan pulpen lalu mulai menuliskan surat cinta ala Nicholas. Ia berulang-ulang menulis, lalu mencoret kemudian meremas kertas tersebut ketika ia membaca surat cinta yang menurutnya berlebihan. Saat ini, sudah ada beberapa kertas berserakan dilantai kamar akibat ulah cowok itu. 

"Ahh!" Teriak Nicholas, sambil mengacak rambut. Ia masih tidak mendapatkan kata-kata yang tepat untuk surat cintanya.

Ia menyerah, lebih baik ia menanyakan hal ini kepada kedua orang tuanya. Mungkin kedua orang tua Nicholas bisa membantu menyelesaikannya.

Nicholas melangkah keluar kamar, menyusul papa dan mamanya yang berada di toko dengan membawa buku beserta dengan pulpen. 

"Pa, ma." Panggil Nicholas.

Nicky tidak merespon, ia sedang melayani pelanggan yang membeli beras, telur, dan bahan-bahan dapur lainnya. Sementara Niken sedang menghitung hasil penjualan kemarin, lalu ia melihat kearah Nicholas.

"Kenapa, sayang?" Tanya Niken.

Nicholas duduk dihadapan Niken, dengan meletakkan buku dan pulpen dengan tampang kusut "Ma, bantuiin Nic buat surat cinta ma. Nic ngga ngerti sama sekali."

Niken tersenyum, anaknya ini benar-benar menggemaskan. Ia mengelus kepala Nicholas dengan sayang "Surat cinta untuk apa sayang? Kamu mau nyataiin perasaan kamu ke cewek yang kamu suka, ya?"

Nicholas memutar kedua bola mata dengan malas. Mamanya malah menggoda Nicholas disaat seperti ini "Ma, astaga. Bukan buat nyataiin perasaan, tapi ini disuruh sama osis. Kurang kerjaan banget emang."

Niken menggelengkan kepala mendengar Nicholas yang sedang menggerutu "Inget sayang, semua yang ada di hidup kamu. Kamu harus mensyukuri dan jangan mengeluh, kalau bisa kamu harus nikmati semua yang terjadi dalam hidup kamu."

Nicholas menghela napas, selalu seperti itu ketika ia sedang mengeluh atau menggerutu mamanya akan memberikan ceramah panjang pendek untuk dirinya. 

"Iya ma, maaf." Ujar Nicholas. 

Niken terkekeh, ia tidak marah namun Nicholas malah meminta maaf pada dirinya. Niken mengambil pulpen beserta dengan buku Nicholas, lalu ia mulai memikirkan kata perkata yang tepat untuk dituangkan di dalam buku Nicholas.

Niken mulai menulis ketika memang ada inspirasi di otaknya. Tanpa perlu menunggu lama, Niken sudah selesai menuliskan surat cinta Nicholas. Ia memberikan surat cinta tersebut kepada Nicholas.

"Nih." Niken menyodorkan buku kehadapan Nicholas.

Nicholas yang memang masih duduk dihadapan Niken dengan menggoyangkan kaki, sambil melihat keseliling toko langsung menghentikan aktivitasnya lalu melihat kearah sang mama.

Nicholas mengambil buku itu, kemudian membaca surat cinta buatan sang mama. Ia tersenyum tipis, kata yang sederhana namun sangat indah. Sungguh mamanya sangat luar biasa.

"Bagus ma. Makasih ya!" Seru Nicholas setelah selesai membaca surat cinta tersebut. 

Niken mengangguk kepala sebagai jabawan. Nicholas bangkit berdiri lalu ia mengecup pucuk kepala sang mama, hendak kembali ke kamar. Ia akan menyalin di kertas yang berbeda sembari  diukir sedikit.

Nicholas saat ini sudah berada dikamar, ia duduk di kursi meja belajar. Lalu, mengambil kertas dan menyalin surat cinta yang dibuat oleh sang mama.  Cowok itu terkekeh sejenak membacanya, ia benar-benar tidak percaya karena sang mama bisa membuat surat cinta.

BUKTI  [THE END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang