Adriella menatap kesal cowok yang berada dihadapannya. Ia sungguh-sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran cowok itu, dan apa motif cowok itu berada dirumahnya malam-malam begini? Kalian juga harus perlu garis bawahi, bahwa saat ini cowok itu mendapatkan perlakuan manis dari bi Imah. Terlihat sangat jelas bahwa bi Imah sangat menyukai cowok itu.
"Ngapain lo?" Adriella menarik kursi dihadapan Nicholas, bertanya dengan nada tidak santai setelah berhasil mendaratkan bokongnya pada kursi itu.
Ya, pria yang berada dihadapan Adriella saat ini adalah Nicholas. Sehabis pulang bekerja, sesuai perkataannya pada Karel. Disinilah Nicholas berada disebuah rumah mewah bertingkat dua, dengan cat yang berwarna putih dan duduk dihadapan sang empunya rumah.
"Ngecek kamu." Ujar Nicholas dengan begitu santai, seperti biasa senyum selalu terbit dibibir Nicholas.
Adriella menaikkan kedua alis, meminta penjelasan kepada Nicholas atas ucapannya.
Bi Imah langsung memotong perkataan Nicholas, saat pria itu ingin menjelaskan "Kemarin yang bawa non pas pingsan, tuan Nicholas sama temennya."
Adriella masih menampilkan wajah datarnya, ia tidak berniat mengucapkan terimakasih atau hal apapun. Ia memang mengingat kejadian terakhir kali bahwa ada seorang pria yang menolongnya saat ia ingin diserang oleh pria yang tidak dikenal, dan seketika itu semua gelap. Adriella tidak mengingat hal apapun.
"Ngga ada niat mau bilang apa gitu sama saya?" Kode yang diberikan oleh Nicholas, hanya disungguhi tatapan datar oleh Adriella. Gadis itu seperti menulikan telinganya.
Adriella membalikkan piringnya, menyedok nasi sedikit ke piringnya, mengambil udang asem manis beserta dengan sayur sawi putih. Adriella menatap bi Imah sebentar "Sini ikut makan bi, belum makan kan?"
Nicholas memperhatikan setiap gerik Adriella, ia tidak menyangka bahwa sosok Adriella yang terkesan sombong dan cuek ternyata bisa begitu perhatian dengan asisten rumah tangga, ia hanya bingung mengapa Adriella sangat bersikap dingin kepada kedua orang tuanya?
"Baik banget, kamu ngga nawarin saya?" Ucap dan tanya Nicholas.
Kini, perhatian Adriella teralih kearah Nicholas. Ia memandang pria itu dengan datar "Udah duduk kan? Udah disiapin juga sama bican kan? Yaudah tinggal makan, ribet banget sih!"
"Ketus banget sih!"
"Biarin, orang kayak lo perlu diketusin!" Adriella kini mulai menyantap makanannya, melupakan rasa dongkol yang ada pada dirinya terhadap Nicholas.
Sementara bi Imah? Hanya melihat keduanya berinteraksi, bi Imah hanya memandang takjub pada cowok yang berada dihadapan Adriella. Pria dengan segala sejuta kesabaran, pria yang murah senyum, pria yang tidak mudah marah. Bi Imah hanya berharap bahwa Nicholas bisa terus berada disamping Adriella, entah mengapa bi Imah merasakan aman jika Adriella berpergian bersama dengan Nicholas ketimbang sih Maurren. Nicholas sangat terlihat bahwa ia pria yang berpendidikan, pria yang baik, pria penyanyang dan pria yang sopan.
"Bi, aduh maaf jangan liatin saya kayak gitu. Saya jadi salah tingkah nih." Seru Nicholas dengan mengelus tengkuk lehernya, ketika memergoki bi Imah menatapnya dengan sangat lekat.
Adriella yang sedang menyuapkan nasi beserta dengan udang, melirik kearah atas sembari kakinya terus bergoyang "Berlebihan." Cibir gadis itu.
Bi Imah sendiri langsung tersenyum kikuk "Maaf."
Nicholas mengangguk sebagai jawaban atas permintaan maaf bi Imah, ia lalu melihat kearah Adriella "Bukan berlebihan. Saya ngerasa sedikit risih kalau ditatap diem-diem gitu, mendingan ditatap terang-terangan kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
BUKTI [THE END]
RomanceBukti yang akan membuktikan segalanya, membuktikan bahwa sebuah perjuangan tidak akan sia-sia, sebuah perjuangan yang membuahkan hasil yang baik. Walaupun, Nicholas tahu sangat sulit mengubah seorang gadis menjadi pribadi yang lebih baik, seorang...
![BUKTI [THE END]](https://img.wattpad.com/cover/134621921-64-k439948.jpg)