BAB 19 - Gruadation

165 9 0
                                        

Depok, 2013

Setelah empat tahun menempuh pendidikan di Universitas terbaik, dengan proses yang panjang telah dilalui. Akhirnya kelima anak manusia yang terdiri dari Nicholas, Lisa, Karel, Sea, dan Jonatan telah Sah dinyatakan lulus ketika sidang terakhir telah mereka jalani.

Seperti saat masih bersekolah dulu, Nicholas kembali menjadi lulusan terbaik berkat skripsi yang ia buat ditambah Nicholas dinyatakan sebagai mahasiswa
cumlaude. Nicholas dengan segala kejeniusan otaknya, semua perjuangan tidak akan sia-sia. Ia bahkan rela tidak tidur demi skripsi, mengejar dosen agar mendapatkan tanda tangan, bolak-balik memeriksa kembali skripsinya ketika ada yang salah ia perbaiki, tidak jarang Nicholas meminta pertemuan kepada dosen pembimbing untuk memperbaiki jika ada kesalahan. Ia merasa bersyukur karena mendapatkan pembimbing yang sangat baik.

Hari ini, merupakan pesta kelulusan untuk tempat kuliahnya. Nicholas tengah bersiap, hatinya sungguh berdebar walaupun ia mengatahui bahwa dirinya sudah lulus. Ia sedang mengenakan jas, menyisir rambut dengan menggunakan sisir.  Nicholas menghela napas sejenak, ia kembali meneliti penampilan dirinya. Entah mengapa disaat seperti ini, Nicholas jadi mengingat sang mama. Seharusnya sang mama ada di pesta kelulusan Nicholas, menemani dirinya, papanya, dan sang adik. Ia rindu sang mama, selama 4 tahun meninggalkan Nicholas. Sang mama sama sekali tidak pernah mampir kedalam mimpinya sedikit pun.

"Mas." Natanael mengetuk pintu yang tertutup.

Nicholas kembali ke alam sadarnya, ia pun menghembuskan napas dengan sangat panjang. Ia berjanji akan meraih kesuksesan dan membeli kembali rumah yang berada di Surabaya, walaupun harus menempuh perjalanan yang sangat panjang.

Natanael membuka pintu kamar Nicholas,  memandang Nicholas dari bawah kaki hingga ke atas kepala. Ia lalu tersenyum miring "Wih, ganteng banget masnya Natan kalau pake jas gini."

Nicholas memutar bola mata dengan malas, ia mengetahui jika Natanael memuji dirinya seperti ini pasti ada maunya.

"Jangan muji, mas yakin ada udang dibalik batu." Nicholas mengatakan dengan to the point.

Natanael kini sudah memasuki usia 17 tahun, ia tengah menempuh pendidikan di SMA Negri sama seperti Nicholas. Natanael terkekeh mendengar masnya berkata sartarkis seperti itu, padahal kali ini ia sungguh-sungguh memuji masnya bahwa memang Nicholas terlihat tampan dengan balutan jas tersebut.

"Aku wes serius mas, mas guanteng tenan pake jas. Pantes mbak Lisa klepek-klepek sama mas." Ujar Natanael.

"Halah, udah lah kamu jangan banyak omong. Mending sekarang kita berangkat." Nicholas menghampiri sang adik, lalu ia merangkul pundak Natanael.

Natanael mengikuti langkah Nicholas dengan sedikit kesulitan, karena Nicholas terus merangkul pundak Natanael dengan langkah yang terbilang cukup besar-besar.

"Mas lepas ah, aku bisa jalan sendiri." Natanael segera melepaskan tangan Nicholas dari bahunya. Ketika sudah berhasil melepaskan bahu Nicholas, ia pun melangkah lebih dulu.

Nicholas sempat menghentikan langkahnya, kemudian ia kembali melanjutkan langkah yang sempat tertunda akibat Natanael.

Nicholas kini sudah berada diruang tamu, ia melihat papanya yang sudah tidak muda lagi sedang menunggu sembari membaca koran.

Sebagai informasi, papa Nicholas saat ini menyibukkan diri mengantarkan katering keluarga Lisa. Sepertinya papa Nicholas mulai menerima kepergian sang mama, dan tidak jarang ketika tidak sibuk Nicholas membantu sang papa menjalankan tugas atau ketika papa Nicholas sedang tidak enak badan, Nicholas lah yang menggantikan tugas sang papa. Walaupun ia terkadang izin ditempatnya bekerja paruh waktu, demi menggantikan sang papa.

BUKTI  [THE END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang