"Bican, lagi apa?" Adriella bertanya saat melihat sang bibi sedang berada di dapur.
Bi Imah melirik kearah Adriella dengan sedikit tersenyum "Bibi lagi mau buat makan malam non."
Adriella mengangguk mengerti, ia kini menopang dagunya sendiri di atas meja bar minimalis dirumahnya "Tumben bi, mama sama papa emang udah pulang kerumah?"
"Nyonya dan tuan belum pulang, ini bibi siapin buat non Adriella." Seru bi Imah sembari memotong sayuran dengan menggunakan talenan kayu.
Adriella menaikkan sebelah alis "Ngga usah bi, aku pengen pergi sama Maurren nanti."
Bi Imah menghentikan memotong sayur, ia lalu membalikkan tubuhnya kearah Adriella dan menghampiri gadis itu "Non, sejujur-jujurnya bibi ngga suka banget kalau non lagi main sama non Maurren. Dia itu ngga baik non."
Adriella menghela napasnya "Bi, cuman dia yang ngertiin Adriella saat ini."
"Ngga gitu non, bibi ngerasa banget kalau dia itu bawa dampak negatif buat non. Bibi bilang kayak gini karena sayang banget sama non Adriella, pas non pingsan? Kemana non Maureen? Katanya dia sahabat tapi malah ninggalin non gitu aja." Perkataan bi Imah sungguh membuat Adriella sedikit merasa berpikir kemana perginya Maurren?
Adriella berdehem, lalu tersenyum tipis "Bibi tenang aja ya, aku dan Maurren ngga ngelakuiin hal yang aneh-aneh kok. Maurren sahabat baik aku bi."
"Non yakin banget ngga ngelakuiin hal macem-macem? Non selama ini selalu pergi ke celub kan? Non pulang dalam keadaan mabuk, bibi bener-bener khawatir non. Bagi bibi non Adriella udah kayak anak bibi sendiri." Bi Imah mengatakan hal itu dengan pancaran kesedihan diwajah wanita paruh baya itu.
Memang baginya, Adriella adalah seperti putri kandungnya sendiri. Ketika gadis itu lahir kedunia, bi Imah lah yang menggendong tubuh mungil bocah itu, dengan perawakan wajah campuran seperti Andreas maupun Amelia, beranjak remaja bi Imah yang selalu menemani Adriella bermain. Hingga masa SMA, gadis itu mulai berubah, mulai keluar malam dan insentitas mereka bercerita sangat sedikit. Sangat berbeda ketika sewaktu Adriella SMP, gadis itu pasti selalu menceritakan hal apapun kepada bi Imah, entah itu temannya yang jahil, temannya yang selalu mengejeknya, atau hal apapun. Dan bahkan saat itu, Adriella mengenalkan Maurren kepadanya. Awalnya bi Imah biasa saja dengan Maurren sewaktu SMP, tapi semakin bergulirnya waktu bi Imah mulai merasakan ada hal yang tidak beres dengan gadis itu. Menurutnya Maurren membawa dampak yang negatif untuk Adriella.
Adriella yang polos, kini berubah menjadi Adriella yang kasar.
Adriella yang polos, kini berubah menjadi Adriella yang bandel.
Adriella yang selalu menurut, kini berubah menjadi gadis pembangkang.
Ia sempat mencuri dengan percakapannya dengan kedua orang tua Adriella beberapa bulan yang lalu.
>Flashback On<
Adriella sedang menonton televisi sembari tertawa ketika ada hal yang lucu. Saat ini, ia sedang menonton stand up comedy yang ditayangkan oleh program tv nasional. Celetukan-celetukan yang disampaikan oleh komika itu membuat perut Adriella seperti dikocok, ini benar-benar lucu.
"Anak papa nontonnya asik banget." Seru sang papa saat baru masuk kerumah, sepertinya mereka baru pulang bekerja.
Hari ini, Adriella memutuskan agar berdiam diri dirumah. Ia terlalu malas berdandan dan mengunjungi club seperti biasanya.
Adriella hanya melirik sekilas, tanpa berniat membalas perkataan sang papa.
Sang mama langsung duduk disamping Adriella "Tumben ada dirumah? Biasanya main sama Maurrenmu itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
BUKTI [THE END]
RomanceBukti yang akan membuktikan segalanya, membuktikan bahwa sebuah perjuangan tidak akan sia-sia, sebuah perjuangan yang membuahkan hasil yang baik. Walaupun, Nicholas tahu sangat sulit mengubah seorang gadis menjadi pribadi yang lebih baik, seorang...
![BUKTI [THE END]](https://img.wattpad.com/cover/134621921-64-k439948.jpg)