"Cukup Kak, stop it" ~Allisya Clarence
"Kenapa All? Gue salah apa sama lo?" ~Zeo Angkasatama
"Aku capek Kak. Aku pengen kembali ke kehidupan aku yang sebelumnya. Kehidupan yang penuh dengan ketenangan dan kenyamanan." ~Allisya Clarence
"Jadi lo ngga...
Perjalanan pulang dari bandara hanya diisi dengan kebisuan dari Allisya maupun Zeo. Keduanya tidak ada yang memutus tali sunyi yang membentang di antara mereka. Allisya dengan pikirannya sendiri begitu juga dengan Zeo. Hingga sampai mobil milik Zeo berhenti di depan rumah Allisya, masih belum ada yang membuka mulut untuk sekedar mengucap sepatah kata.
Zeo memutar kunci mobil dan suara mesin mobil yang menjadi teman pengantar perjalan mereka berhenti. Zeo menghembuskan napas sebelum menoleh ke samping.
Disana, di jok samping kemudi, terdapat seorang gadis berambut panjang yang sedang mengecek ponselnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kamu kenapa sih?"
"Hah?" Allisya bukan tidak mendengar. Hanya saja ia ingin memastikan jika baru saja Zeo berkata padanya.
"Kamu kenapa?"
"Maksud Kak Zeo?" mata Allisya menyipit menatap Zeo. Cowok itu menatap lurus ke depan dengan pandangan menerawang.
Zeo menjawab tanpa repot-repot menatap Allisya, "Kamu ada rasa sama dia? Kamu suka sama cowok jelek itu?"
Geraman rendah itu bisa Allisya tangkap di ujung kalimat Zeo. Astaga! Apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang?
"Sejak kapan Kak Zeo jadi cowok jelek?"
"Apa?" secepat angin berhembus, secepat itu pula Zeo menoleh menatap Allisya.
"Euggh, aku pusing Kak. Aku nggak ngerti sebenarnya kita itu lagi bahas apa."
"Kamu itu yang bikin pusing!"
Allisya membelalak tak percaya, "A-aku?"
"Siapa lagi?! Ridho? Bahkan dia sekarang gak ada disini."
Sudah cukup. Allisya semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraannya dengan Zeo. Karenanya, Allisya bergegas untuk beranjak dari dalam mobil. kepalanya mendadak pening oleh suatu hal yang ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya.
"Kita belum selesai," Zeo mencekal pergelangan tangan Allisya. Pembicaraan ini harus segera dituntaskan sebelum mengakar dan menjalar kemana-mana.
Allisya menghembuskan napas berat. "Kak," ucapnya dengan nada terdengar jenuh, "Aku nggak ngerti kita sekarang lagi ngomongin apa. Dan demi apa, aku udah lapar Kak! Bukannya tadi Kak Zeo bilang kalau kita belum makan siang?"
"Bahkan sekarang makan udah nggak penting lagi All." Zeo memejamkan mata sejenak dan menarik napas dalam lalu menghembuskannya tanpa melepas cekalan pada pergelangan tangan Allisya.
"Aku tanya sekali lagi." Zeo menatap intens kedua manik mata Allisya, "Kamu ada rasa sama dia? Kamu suka cowok jelek itu?"
Zeo akui bahwa ia tidak suka ketika mengucapkan kalimat itu. Rasanya tidak benar. Dan ia tidak siap untuk jawaban yang akan keluar dari bibir mungil itu. Bagaimana kalau jawabannya di luar ekspektasinya? Bagaimana kalau jawabannya-