As always, jangan lupa play lagu di mulmed ya
Happy reading :)
Siang itu Zeo sedang berada di salah satu kafe di kawasan Cempaka Putih bersama Ridho. Terdapat dua gelas dan sepiring kentang goreng yang tersisa setengah. Raut muka keduanya terlihat lebih serius daripada biasanya.
“Lo udah ambil keputusan?” tanya Ridho di sela-sela aktivitasnya memakan kentang goreng dengan berlumurkan saus tomat.
“Entahlah, gue masih bingung.” Zeo mengerang frustasi. Tampaknya masalah yang dihadapinya kali ini benar-benar serius. Kerutan di keningnya seolah mempertegas raut kegundahan dalam dirinya.
“Lo harus cepet nentuin Zeo. Anak-anak yang lain menggantungkan masa depannya dari keputusan yang akan lo ambil.”
“Iya gue tahu.”
Ridho mencomot satu kentang goreng yang masih bersih dari saus lalu melemparkannya ke arah Zeo, “Ya kalau udah tahu buruan tentuin, bego!”
“Ck, lo nggak ngebantu sama sekali tau Dho.”
“Ya lo minta bantuan apa dari gue? Semua itu tergantung lo sendiri, bukan orang lain.”
“Arrrgh, gue pusing.”
Melampiaskan rasa pusingnya, Zeo menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.
“Sebenernya apa sih yang bikin lo bingung? Semuanya menguntungkan kan? Prospeknya juga sama-sama bagus.”
“Udah cukup Dho. Lo jangan bikin gue frustasi. Gue bakalan ambil keputusan setelah turnamen nasional nanti, oke?”
Ridho mengedik acuh. Zeo itu jadi cowok terlalu ribet. Kalau Ridho di posisi Zeo maka dengan mudah ia akan mengambil keputusan untuk mempertahankan yang sudah ia capai selama ini. Secara, semua yang Zeo raih sampai saat ini bukan tanpa usaha kan?
Zeo meraih jaket yang tersampir di lengan kursi dan segera bangkit berdiri. Sambil masih mengenakan jaketnya, Zeo berkata, “Bayar.”
Mulut Ridho melongo membentuk seperti huruf O. “Dasar cowok kampret!”
“Gak usah banyak omong, buruan bayar keburu telat latihan.”
***
Latihan terakhir sebelum turnamen sudah selesai. Latihan kali ini tidak seberat latihan sebelum-sebelumnya. Pelatih memfokuskan kepada pemberian materi dan tidak terlalu memporsir tenaga anak didiknya.
Setelah pembicaraannya dengan Ridho tadi siang, pikiran Zeo jadi bercabang kemana-mana. Dan tentu hal itu tidak baik untuknya yang akan bertanding besok. Fokusnya benar-benar dibutuhkan untuk meraih kemenangan telak. Dan sekarang Zeo butuh untuk memulihkan fokusnya sebelum kembali ke rumah.
Zeo melambatkan laju mobilnya dan berhenti di pinggir jalan yang sepi. Diraihnya ponsel yang terletak di dashboard. Nada dering terdengar sebelum akhirnya panggilan itu diangkat.
“Kamu dimana?”
“Lagi jalan mau pulang.”
Zeo menyandarkan kepalanya yang tiba-tiba terasa berat ke jok kursi, “Abis dari mana emangnya?”
“Abis ketemu sama Tante Nat.”
“Kamu naik apa sih? Berisik banget.”
“Naik angkot.”
“Kenapa nggak naik taksi aja? Gak harus dempet-dempetan kan jadinya.”
Terdengar kikikan dari seberang, “Udah biasa juga.”
KAMU SEDANG MEMBACA
AlZeo [Completed]
Teen Fiction"Cukup Kak, stop it" ~Allisya Clarence "Kenapa All? Gue salah apa sama lo?" ~Zeo Angkasatama "Aku capek Kak. Aku pengen kembali ke kehidupan aku yang sebelumnya. Kehidupan yang penuh dengan ketenangan dan kenyamanan." ~Allisya Clarence "Jadi lo ngga...
![AlZeo [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/181995325-64-k54128.jpg)