Caca baru saja turun dari Range Rover hitam milik Alex. Ya, hari ini Alex mengizinkan Caca untuk berangkat bersama. Lagi pula, pria itu harus bertanggung jawab karena telah membuat Caca menginap di rumahnya.
Alex menurunkan Caca di hall, sedangkan pria itu memarkirkan mobilnya di halaman belakang sekolah. Sebenarnya, Caca tahu bahwa Alex melakukan ini karena pria itu tidak suka terlihat bersama dengannya.
Gadis bersurai coklat gelap itu menoleh ketika merasakan cekalan di pergelangan tangannya. Awalnya ia mengira itu adalah Alex. Tapi ternyata mantan pacarnyalah yang mencekal pergelangan tangannya.
"Gio..?" Caca terkejut. Sangat terkejut malah. Pasalnya ini sudah beberapa minggu sejak pertemuan terakhir mereka. Caca dan Gio memang sudah saling menghindari sejak beberapa minggu yang lalu. Tapi malah hari ini Gio mendatanginya terlebih dulu.
"Ca, kamu tahu kalau ada yang harus kita omongin,"
Caca menatap dalam mata pria itu "mau ngomongin apa lagi, Caca nggak ngerasa ada hal penting kok,"
Gio menghela nafasnya, "Ca kita mulai pacaran pake persetujuan bersama, putus ga boleh sepihak dong,"
Caca mendengus kesal, "Kamu tahu Caca tunangan Alex,"
"Kamu ga punya perasaan buat dia, aku tahu Ca, kamu cuma cinta sama aku," ujar Gio mencoba meyakinkan gadis yang berstatus mantan pacarnya itu.
"dulu sih iya, sebelum Caca tau kalau ada Rebecca di hati kamu,"
Caca mengucapkannya dengan penekanan di akhir kalimat. Mencoba membuat pria di hadapannya itu menyadari kesalahannya.
"Ca, look at my eyes, jangan bohongin perasaan kamu. Aku bisa jamin kamu ga suka sama Alex,"
Di saat yang bersamaan Caca melihat Alex berjalan mendekati posisi berdirinya dan Gio, "Gio salah, Caca suka sama Alex, at least I know he's better than you,"
Caca membiarkan Alex mendengar ucapannya dan gadis itu juga yakin bahwa Alex mendengarnya. Caca tidak sepenuhnya berbohong, ia memang belum benar-benar menyukai Alex, tapi yang pasti, hatinya sudah tidak menolak keberadaan pria itu.
"Ca aku nggak ada apa-apa sama Rebecca," Gio tidak menyerah, ia tetap mengupayakan segala cara untuk mendapatkan kembali apa yang telah dimilikinya.
"tapi Caca ada apa apa sama Alex,"
"Lo nggak suka dia Ca,"
"Caca suka sama Alex,"
"terserahlah, jangan nyesel,"
Alex mendengar itu sedikit tertegun, ada ekspresi tak suka dalam raut wajahnya tapi pria itu tetap menghiraukan kedua anak manusia yang sedang bertengkar dan menjadi bahan tontonan seantero sekolah.
Dari kejauhan Alex dapat melihat Ken sedang merekam kejadian dramatis itu.
"Lex, tunangan lo tuh, ga mau lo belain?"
Alex mendengus, ia menghiraukan Ken dan melanjutkan langkahnya memasuki kelas. Dilihatnya Garridan dan Aksan sedang bermain kartu dengan beberapa orang lainnya.
"wih, tumben nih si Ketos dateng sama cewek, anak bebek lagi. Ga risih lo lex?" Ucapan Gariddan hanya dibalas dengan anggukan oleh Alex.
Alex melangkahkan kakinya mendekati kerumunan tersebut. "ck, jangan main kartu," Alex mengatakannya karena di sekolah ini ada peraturan yang melarang anak muridnya bermain atau bahkan hanya bermain kartu.
Ucapan itu hanya dibalas dengan cengiran oleh mereka. "Aksan butuh rumah nih Lex, minggat lagi dia, ntar yang kalah nampung ni bocah sialan,"
Alex mengendikan bahunya tidak perduli mendengar penjelasan pria itu. Menurutnya mereka sedang tetap sedang melanggar aturan. Ia segera mengambil dan memasukkan kartu-kartu tersebut kedalam kotaknya. Alex menyita kartu mereka.
"aduh, kambuh kan ni ketos, sialan lo Lex, gue tidur dimana ntar malem?"
Lagi-lagi Alex mengendikan bahunya acuh.
"Haha! Mampus lo! Pake minggat segala jadi miskin kan," Garridan tertawa puas melihat kesialan yang menimpa temannya, ia juga tidak lupa berterimakasih kepada Alex karena telah menyelamatkan dirinya dari Aksan.
Bukannya tidak rela Aksan menginap dirumahnya. Hanya saja mereka sudah hapal kebiasaan orangtua Aksan. Jika anaknya minggat seperti ini dapat dipastikan bodyguard mereka berpencar mencari aksan hingga dapat kembali ke rumah. Tidak jarang bodyguard itu membuat keributan dimana-mana.
"tidur di rumah gue aja," sahutan itu membuat semua orang mengalihkan pandangan mereka. Termasuk Alex. Dan sepertinya Alex menyesali perbuatannya. Tawanya yang sempat merekah kembali pudar melihat kehadiran pria itu.
"Ah, sumpah lo baik banget Gi! Tapi gue takut sama bokap lo, makasih," Aksan mencoba berucap sekonyol mungkin untuk mencairkan suasana. Mereka semua tahu bahwa perseteruan antara Alex dan Gio membuat hubungan pertemanan mereka menjadi renggang. Terlebih lagi Gio menjadi jarang masuk sekolah akhir-akhir ini.
Alex segera menyingkir ketika Gio memasuki kerumunan mereka. Alex malas berdebat dengan pria brengsek seperti Gio.
"WOY lex kemana lo?"
Pertanyaan Garridan memang tidak mendapat jawaban dari Alex. Tapi pria itu dapat melihat Alex melangkahkan kakinya keluar kelas. Tenang saja masih ada lima belas menit sebelum bel tanda masuk berbunyi. Oh, jangan pernah berpikir bahwa Alex adalah siswa yang sering membolos seperti tokoh di novel-novel remaja.
Alex adalah tipe siswa yang anti membolos, ia benar-bemar mencerminkan sosok ketua Osis dalam kehidupan nyata. Perfeksionis dan begitu sistematis. Bedanya Alex terlampau berwibawa untuk ukuran ketua osis.
Sementara itu dari Caca baru saja keluar dari ruang guru. Ia baru saja mengumpulkan remidial Mr Smith. Dari sini ia dapat melihat Alex keluar dari ruangan khusus osis bersama seorang adik kelas yang namanya tidak diketahui oleh Caca.
Caca menggeram ketika melihat Alex tersenyum pada gadis itu. Baru saja akan menghampiri mereka, langkahnya sudah terlebih dulu di hadang oleh Rebecca dan.. Jenice.
Gadis itu hanya berdecak kesal memandang kedua orang yang juga tengah menatapnya tajam.
"Caca mau lewat, minggir deh,"
"Calantha, seharusnya kamu nggak pernah ada. Kamu cuma penghancur kebahagiaan yang udah ditakdirin sama semesta. Berhenti ngerebut milik orang Calantha, karma is real. Kamu nggak akan bahagia karena kamu selalu ngerusak kebahagiaan orang,"
Kening Caca mengerut karena ia tidak bisa memahami ucapan Rebecca. Bukankah Rebecca yang merebut Gio, yang (dulu) notabene adalah miliknya. Sudahlah Caca tidak ingin mengambil pusing perkataan gadis gila tersebut.
"nggak tau ah, banyak drama. Minggir cewek-cewek gila.. Sok puitis lagi, alay tau ga," ucapnya seraya melangkah gontai meninggalkan Jenice dan Rebecca yang memandang kesal ke arahnya.
=C=
HAI! RAIN'S BACK!
Kalian gimana self quarantine.. Pada bosen tidak? Tugas kalian banyak tidak? Ternyata tugas online school Rain lebih banyak dari tugas biasa :)
Buat kalian yang banyak tugas semangat :) kalau bosen baca Calantha oke?
Share juga Calantha ke temen-temen kalian biar makin banyak yang baca!
If u like this chapter Don't forget to Voment!
I wuf u <3
littlerain, 5 04 20
KAMU SEDANG MEMBACA
CALANTHA [completed]
Fiksi Remaja[a love story of Calantha Aldenate and Alexander Reeham Soedtandyo] Sometimes love will drive you crazy, do something you can't believe, and make you look like the most stupid people in this universe Calantha means bloom, kamu pernah dengar bunga-b...
![CALANTHA [completed]](https://img.wattpad.com/cover/207226683-64-k937242.jpg)