Tok tok tok
Pintu kamar gadis itu diketuk dari luar. Sudah lebih dari lima belas menit salah seorang pelayannya berdiri di depan pintu, tapi masih saja tidak ada sahutan.
"Nona, Nona harus bangun sekarang, ini sudah terlalu siang, Nona bisa terlambat."
Suara itu kembali terdengar, mengganggu tidur seorang gadis yang masih dililit oleh selimut tebal. Gadis itu mulai menggeliat lalu merapatkan kembali selimutnya, menandakan ia tidak ingin beranjak dari kasur.
"nona muda Calantha." pelayan itu kembali bersuara. Rasanya ia ingin pergi saja dari depan kamar ini karena membangunkan nona mudanya itu terlalu sulit.
Setiap hari hampir selalu terjadi hal seperti ini. Seorang pelayan akan berdiri setengah sampai satu jam, hanya untuk membuat Calantha bangun.
"Nona muda.." suara pelayan itu mulai terdengar frustrasi.
Tapi sepertinya sang pemilik kamar memang suka menyulitkan pelayannya, karena keadaan masih sama, hening. Sama sekali tidak ada sahutan atau bahkan suara tanda tanda kehidupan dari dalam kamar.
Tania meletakan pisau dan selagi yang ia pegang, lalu segera beranjak naik kearah kamar Calantha. Ia sudah tidak betah mendengarkan suara ketukan pintu disertai dengan nada nelangsa yang keluar dari mulut pelayannya.
"Pergilah." wanita itu memerintahkan pelayannya untuk pergi, lalu dengan segera membuka pintu kamar Calantha, ia menyiapkan selimut putrinya sambil berkata.
"Calantha Aldenate! Bangun. Lihat berapa banyak pelayan yang kamu habiskan waktunya setiap pagi." wanita itu mengguncang tubuh putrinya. Tapi tetap sama, tidak ada pergerakan.
Tania duduk di tepi ranjang, "Calantha dengar. Mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk membuat orang lain menunggu! Calantha.. Bangun! Gio sudah menunggu selama lima belas menit."
Tidak sampai tiga puluh detik, gadis itu mengganti posisinya dari tidur menjadi terduduk. Tentu saja karena mendengar nama pacarnya, Gio disebutkan.
Gadis itu mengambil ponsel di atas nakas lalu menjerit, "astaga, mama! Kok baru bangunin Caca sekarang?! Astaga, Gio udah nunggu dari tadi."
Gadis itu tidak menghiraukan ucapan Tania berikutnya, ia berlari menyambar handuk, dan dalam waktu kurang dari lima menit, gadis itu sudah keluar dari kamar mandi. Tentu saja dengan seragam yang rapih.
Tania mwlenarkan mata melihat tingkah putri bungsunya, "Calantha, kamu tidak bisa mandi secepat itu."
Calantha tersenyum bodoh, lalu melambaikan tangan kepada Tania, dengan cepat ia menurun anak tangga, berpamitan dengan Iel dan bibi Margareth, kepala pelayannya.
"Bye Kak, Caca berangkat ya, bye bibi Margareth!"
Ia tidak benar-benar tidak sempat sarapan, bahkan mengikat tali sepatunya.
Gio sudah menunggu terlalu lama, dan ia akan membuat mereka terlambat.
"Gio maaf, Caca kesiangan," kata Calantha sambil memasang sabuk pengaman.
"Gapapa kok Ca santai aja, kalo telat aku juga telat ya sama kamu."
Astaga, digombalin begini saja bisa membuat wajahnya seketika me merah, dan jantung ya berdegup tidak karuan.
Pria itu mengusap puncak kepala Calantha, "iket dulu sepatu kamu."
Calantha melirik sekilas kearah sepatu Nike yang terpasang di kakinya, benar, ia lupa mengikat sepatu.
Tangan gadis itu bergerak, memukul jidatnya sendiri. "astaga maaf caca lupa.. untung ada Gio. Hampir aja Caca jatuh."
Gio tersenyum, keluguan Calantha benar benar membuat Gio merasa gemas. Ia sudah berencana akan mengajak Caca pergi malam ini, terhitung dua bulan sejak peresmian hubungan mereka tapi kedua anak manusia itu bahkan belum pernah nonton berdua atau dinner romantis.
KAMU SEDANG MEMBACA
CALANTHA [completed]
Novela Juvenil[a love story of Calantha Aldenate and Alexander Reeham Soedtandyo] Sometimes love will drive you crazy, do something you can't believe, and make you look like the most stupid people in this universe Calantha means bloom, kamu pernah dengar bunga-b...
![CALANTHA [completed]](https://img.wattpad.com/cover/207226683-64-k937242.jpg)