CALANTHA -51-

665 28 0
                                        

Rebecca menggeram kesal ketika orang-orang membicarakan kedatangan Alex yang menggenggam tangan Caca tadi pagi. sial, rencananya tidak berhasil.

"sia-sia aku ngelukain Annette." kata gadis itu kepada Jennice, yang sudah beberapa minggu menjabat sebagai antek-anteknya.

"gue nggak tahu, Caca pake pelet apa, sih? Cantik biasa aja, males banget lagi jadi murid, udah gitu dia centil. Gue nggak paham banget sih kok Alex sama Gio bisa suka sama dia."

Gadis itu tidak menyadari jika Rebecca sedang mendelik ke arahnya. Berani-beraninya ia menyebut nama Gio.

Rebecca diam dalam waktu yang cukup lama, membuat Jennice merasakan suatu kejanggalan.

"Rebecca, lo ngedengerin gue nggak sih?" tanya Jennice sambil menatap kearah temannya.

"Kamu berisik." sinis Rebecca membuat Jennice menautkan alisnya lalu ia bertanya, "lah lo kenapa?"

Rebecca mendesis merutuki kebodohan Jennice. "mending kamu cariin cara lain buat misahin siluman ular sama Alex."

Rebecca melirik temannya sekilas, dan sepertinya Jennice sedang berpikir.

Tidak lama gadis itu membuka suaranya, "Em.. Gimana ya.."

Perkataan ragu-ragu itu membuat Rebecca menatapnya penuh tanda tanya, "kenapa?"

Jennice tersenyum pahit sambil menelan salvilanya "gue emang nggak suka sih sama Caca, I mean, dia centil, males, sok cakep, berisik, nggak pantes buat Alex."

Rebecca diam menajamkan tatapannya membuat Jennice semakin gugup. "tapi..kayanya gue berhenti aja deh."

Jennice tahu gadis didepannya akan segera marah besar, karena itu ia langsung memberi penjelasan. "gue nggak suka, tapi rasanya yang kemarin agak keterlaluan.. Gimana ya.. Gue jadi ngerasa nggak enak pas tahu dia minggat dari rumah."

Gadis itu memberi jeda, "ya, gue kan nggak suka sama hubungan dia sama Alex, tapi malah ngehancurin hubungan keluarganya. Gue ngerasa.."

"ngerasa sekarang kamu jadi sok suci? pengecut yang sok suci?" sarkas Rebecca memotong ucapan temannya.

Dengan cepat Jennice menggeleng. "gue masih nggak suka, tapi ngeliat Alex segitu pedulinya bikin gue semakin nggak enak. Dulu gue lumayan deket sama Alex. dia nggak gampang deket sama orang, dan gue rasa lo juga tahu gimana susahnya dia bergaul."

Ia menarik napas lalu menambahkan kalimat dengan ragu-ragu. "gue rasa.. Alex juga butuh Caca."

Rebecca berdiri dengan kasar, sedikit menyentak kursinya membuat Jennice agak terkejut. Gadis itu pergi dengan wajah yang sangat muram.

Jennice sudah tahu ini akan terjadi, dan ia juga sudah tidak begitu membutuhkan Rebecca. jadi, persetan. Ia punya banyak teman.

##

Satu jam sebelum istirahat dan jamkos, sungguh surga dunia.

Caca sedang berkumpul bersama Gabriella dan Lisa. Tentu saja mereka membahas bagaimana seorang Alexander Rehaam memegang tangannya tadi pagi.

"Lo ngapain hayo tadi pagi?"

Godaan Gabriella membuat Caca tersipu malu. Bagaimana tidak? Seantero sekolah melihat Alexander Rehaam-- ketua OSIS yang aneh dan menyebalkan itu memegang tangannya terlebih dulu.

"Nggak sengaja kok.."

"halah bohong.. Lo ada apa-apa ya sama Alex?" tanya Lisa penuh curiga membuat Gabriella dan Caca mengeriyitkan dahi.

"bukannya emang dari dulu ada apa-apa?" balas Caca dengan memberi pertanyaan.

"ya emang, tapi dulu dia nggak kaya gitu." Lisa mencoba memberi penjelasan.

"tadi itu beneran nggak sengaja.. Caca nginjek tali sepatu Alex, gara-gara itu dia megang tangan Caca biar kita-- Caca sama Alex nggak jatuh."

Bukannya Caca tidak menyadari perubahan Alex, hanya saja ia tidak mau menjadi terlalu percaya diri. Bagaimana jika nanti pria itu malah memilih Annette, astaga itu tidak boleh terjadi.

"Ca temenin gue ke toilet kuy. "

Caca menyipitkan mata lalu menggeleng seraya berkata, "nggak mau. Ngapain juga nemenin Lisa ke toilet."

"awas lo minta ditemenin." setelah itu Lisa melangkahkan kakinya untuk pergi ke toilet.

Sedangkan Gabriella dan Caca melanjutkan obrolan mereka.

"Ca, kayanya nih, Alex mulai suka sama lo deh. Berubah gitu sikapnya."

Sekali lagi Caca mengelak pernyataan itu, "enggak deh, dia emang nggak sengaja aja."

Gabriella berdecak, "Lo tuh ya.."

Mereka terus mengobrol hingga Lisa datang dengan raut wajah yang tidak terbaca. "Ca.."

Caca menautkan alisnya, "kenapa? Kok muka Lisa aneh gitu.. agak.. merah?"

Lisa malah tersenyum, sedikit tersipu sambil menjawab pertanyaan Caca dengan malu-malu, "gue habis ketemu kak Iel. Dia.. Ngacak rambut gue.."

Mata Caca melebar, "Kak Iel?"

Lisa mengangguk dengan mantap. "oh iya, gue lupa, dia nyariin lo tuh. Samperin gih, didepan kelas."

Caca menatap Gabriella dan Lisa bergantian. ia sangat bingung saat ini. Bagaimana jika Iel mengatakan sesuatu yang tidak ingin ia dengar, seperti 'Ca, balikin duit yang lo bawa kabur' atau mungkin 'Ca, papa nggak mau bayarin lo sekolah'

"buruan Ca, ditungguin tuh." kata Lisa yang juga di setuju dengan Gabriella.

Akhirnya dengan sangat terpaksa Caca keluar ia melangkahkan kakinya yang terasa sangat berat.

Kepalanya celingukan karena ia tidak dapat menemukan Iel didepan kelasnya.

"Lisa bohongin Caca?" gumamnya pada dirinya sendiri. "Nggak mungkin sih, mukanya beneran merah."

Tidak berhasil menemukan Iel, ia memutuskan untuk kembali ke kelasnya, namun suara bariton seorang pria membuat niatnya harus terurung. "Calantha, kamu bisa ikut ke ruangan saya."

Mata gadis itu mengerjap beberapa kali. "Mr. Nuel?" Caca salah apa ya? Batin gadis itu.

"ada yang perlu kita bicarakan Calantha, bisa kamu ikut ke ruangan saya? Sebentar saja. Saya bisa meminta izin ke guru yang sedang mengajar di kelas kamu sekarang."

"nggak kok, lagi jamkos." jawab Caca dengan polos sambil menggelengkan kepala.

"kalau begitu kamu bisa ikut saya sekarang, Calantha?"

Caca menggelengkan kepalanya, ia mencari Iel bukan Mr. Nuel, dan ia harus menemukan Iel secepat mungkin.

"Kamu ada kepentingan lain?" tanya kepala sekolah yang cukup muda itu sambil mengeriyitkan dahinya.

"ya, Caca harus nemuin... "

Sebelum Caca selesai kepala sekolah itu sudah lebih dulu menyela ucapannya dengan berkata, "Gavariel?"

Caca mengangguk dengan antusias, tapi bagaimana Mr. Nuel bisa tahu? "Kok--"

Ia menghentikan ucapannya lalu menepuk jidatnya sendiri, ia bodoh memang. Tentu saja kakaknya sedang berada di dalam ruangan Mr. Nuel

=C=

littlerain, 14 05 20

CALANTHA [completed] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang