Natasya Almira, si gadis halu yang memiliki banyak mantan. Playgirl, tepatnya. Dia memilih masuk ke kampus sang artis idamannya. Ragil Akbar Pratama, si pria playboy.
Bagaimana kisah mereka? Kisah gadis yang selalu mengejar seorang pria, dan kisah...
Apapun yang terpancar dari mata itu tidak pernah berbohong. Mulut mungkin bisa mengelak, tapi mata tidak.
•HukumCoulomb•
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ragil - Icha ( Angga - Rebecca )
Icha tersenyum sangat manis dan sedikit tertawa.
"Sejak kapan gue punya kumis sama jenggot?" tanya Ragil pelan.
"Nanti bakal punya kok, makanya ini dibuat untuk membayangkan dulu."
Ragil kehabisan kata-kata untuk menjawab Icha. Icha membuat lukisan gambar wajah Ragil dengan kumis dan jenggot, walau gambarnya sedikit berantakan karena dia baru belajar.
Icha meminta Ragil untuk membawa pulang hasil karyanya ini, dan tidak lupa dia juga meminta Ragil untuk memajangnya di dinding kamar. Ragil hanya mengiyakan. Bukan karena hanya untuk membuat Icha senang saja, tapi dia akan benar-benar menuruti semua perintah Icha itu.
Setelah Icha siap melukis, mereka izin untuk pulang menyusul teman-temannya di Cafe milik papa Tomi.
Mas David berdeham keras, bermaksud untuk menyindir. "Gue juga salim." pinta David.
Ragil menyalin Mas David juga, begitupun dengan Icha.
"Icha juga pamit ya Mbak, Mas."
Gita memeluk Icha dengan hangat, "Lain kali main lagi ke mari ya, Mbak senang kalau rumahnya ramai."
"Iya Mbak."
🌙🌙🌙
"Lama banget lo berdua!" ketus Tomi kepada Icha dan Ragil yang baru saja datang.
"Iya, habis nyari lakban." balas Icha.
"Nyari lakban aja lama banget! Lo apain dulu? Diputar, dijilat, terus dicelupin?"
Icha kehabisan kata-kata, dia saat ini sangat malas untuk berdebat. Apalagi dia tidak mau Tomi sampai marah, bisa-bisa tidak jadi dia meminjamkan Cafenya ini.
Harusnya Icha yang men-skakmat Tomi, bukan malah berbalik arah. Icha ingin bilang kalau lakbannya untuk melakban mulut Tomi biar tidak berisik, tapi Icha gagal mengatakannya.
"TERSERAH LO!" teriak Icha geram.
"Gitu dong."
Yang lain tidak ada yang angkat bicara. Seperti biasa, mereka malas untuk meladeni kegilaan Tomi yang semakin hari semakin merajalela.
Setelah itu mereka semua kembali lagi mendekor Cafe yang akan mereka pakai untuk ulang tahun Tiara.
Icha kini tampak kesulitan untuk meletak bunga yang sudah dirangkainya ke atas, dia mencoba menjinjit dan akhirnya dia mengambil kursi untuk dipanjat.