Kegembiraan

157 21 1
                                        

Kan kalau kita memberi dengan tangan kanan, tangan kiri tidak perlu melihat.

•HukumCoulomb•




"Mau ngomong apa Neneng? Gue mau cari skincare nih."

Icha terkejut dengan ucapan Tomi, seperti cewek saja perawatannya. Kulit Tomi sudah putih, mau seputih apa lagi dia? Mau mengalahkan stipx? Aneh.

"Cewek banget lo." sindir Icha tertawa.

"Bukan buat gue."

"Jadi?"

"Buat kucing tetangga gue, kasihan warna bulunya hitam. Gara-gara itu dia jadi insinyur sama teman satu geng kucingnya."

"Insecure, bukan insinyur. Punya temen gini amat ya Allah." Icha meratapi nasibnya sambil menampung kedua tangannya.

"Seh, yang mau ngemis seh!"

Icha memutarkan pandangannya. Jenuh. Sangat susah berbicara serius dengan manusia satu ini. Eh, ralat. Sepertinya dia bukan manusia, melainkan ironman.

"Lo bisa gak sih satu hari aja ngomong tuh pakai otak." kesal Icha, dia meremas-remas jari-jarinya.

"Ngomong tuh pakai mulut, kalau otak tuh buat mikir."

"Nah, tumben pinter."

"Gue emang pinter Neneng!"

Perdebatan terjadi sangat panjang, tidak ada yang berani memisahkan mereka. Bisa-bisa yang lain yang kena semprotan maut mematikan dari mulut keduanya.

Sahabat-sahabat mereka yang selalu menjadi penengah pun, kini belum ada tampak batang hidungnya. Entah di mana mereka berada, kali ini Icha sangat membutuhkan mereka.

"Mulut lo tuh kayak odading, rasanya pedes banget!" lontar Tomi.

Orang-orang yang lewat pun tertawa, mereka juga tidak menyangka bahwa Tomi belum taubat. Sudah biasa bagi mahasiswa dan mahasiswi kampus ini menghadapi Tomi. Untung saja Tomi kaya dan juga sering neraktir satu kampus buat jajan di kantin. Kalau tidak, mungkin Tomi sudah keluar dari kampus ini karena dituntut untuk keluar.

Sudah, Icha sudah tidak tahan. Emosinya sudah memuncak, kalau begini terus Icha tidak bisa lagi menahan tangannya yang sedari tadi sudah gatal.

"Ikut gue!" Icha menarik paksa tangan Tomi dan membawanya ke taman kampus.

"Jangan-jangan lo suka ya sama gue?" tanya Tomi dengan terkejut, dia menatap Icha yang sudah berhenti.

"Gue mau nanya sama lo, lo kan yang setiap hari ngasih gue coklat? Gak bisa ngelak lagi lo sekarang." ucap Icha langsung pada intinya.

"Kata nyokap gue, kita tuh harus rajin sedekah. Kan kalau sedekah tangan kanan memberi tangan kiri gak perlu tau."

"Kalau lo mau sedekah, jangan sama gue!"

"Gue kan mau sedekah sama orang yang otaknya tidak mampu." celetuk Tomi, dia duduk di kursi panjang.

Icha membulatkan matanya, tangannya sudah sangat siap untuk menggampar pria ini. Tapi, dia harus bersabar. Dia yang normal seharusnya dia yang mengalah.

"Lo abis ngaca?"

"Ca!" tepat dipertanyaan Icha, ada orang yang tiba-tiba datang dan memanggilnya.

Dengan spontan Icha langsung mengalihkan pandangannya. Tomi juga sudah langsung kabur, kesempatan tidak boleh dibuang sia-sia katanya.

"Gue harap prasangka gue ini benar, Ca." batin Tomi. Dia mengintip Icha yang masih berbicara dari kejauhan.

Hukum Coulomb [ SELESAI ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang