Perjumpaan

295 73 16
                                        

Apa setelah kamu tahu keburukanku, kamu akan tetap menyukaiku? Ku harap iya, karena jika tidak berarti hatimu tak seindah ucapanmu.

•HukumCoulomb•




🌙🌙🌙

Paginya Icha sudah membereskan barangnya juga dengan yang lain. Mereka sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing, kecuali Tomi karena ini memanglah rumahnya.

"Gak ada yang ketinggalan, kan?" tanya Raka memastikan.

"Coba cek, entar lo pada punya alasan ke rumah gue lagi." sambung Tomi yang membuat kesal para pendengar ucapannya itu.

Icha yang kesal kini menghujati manusia dengan omongan yang tak pernah disaring itu. "Rumahnya enak sih bikin adem jadi pengen ke sini terus, tapi penghuninya gak ada akhlak buat nuansa rumah yang indah menjadi horor." ucap Icha sarkasme.

"Lo kalau ngehina gue cepet banget gak pake koma, nyerocos aja tuh mulut."

"Kalian cocok lo, kenapa gak jadian aja?" sambar Syifa.

"Gak!" serentak Icha dan Tomi.

"Ingat loh, dari benci bisa menjadi cinta." kini Tiara ikut mengompori

"Kalau tadi gue dibilang cocok sama kak Ragil, langsung gue aamiin-in." ujar Icha terus terang.

"Sorry gara-gara gue kita harus pulang sekarang." ucap Ragil mengelak dari perkataan Icha.

"Selo aja kali." sahut Raka ikut berbicara.

"Selo it--" Tomi ingin menyambung perkataan Raka, tapi Icha keburu menghentikannya.

"Bukan solo, plis goblok jangan dipelihara."

"Sotoy lo, gue aja pelihara kucing."

"Kok dari kemarin gue gak ada ngelihat kucing di rumah lo ya, kak?"

Tomi langsung mengarahkan layar hpnya tepat di depan wajah Icha.

"Masih pagi lo daritadi nyari ribut aja!" marah Icha yang dibalas tawaan deras oleh Tomi.

Bagaimana tidak marah, Tomi menunjukkan game talking tom yang ada di hpnya. Jawabannya tidak salah, tapi produksi otaknya yang agak diluar nalar orang normal.

"Dia bisa niruin suara lo, loh Ca." Tomi masih tidak habis-habisnya mengganggu Icha.

"Itu cewek atau cowok?" tanya Icha meladeni.

"Bisa berubah sesuai kemauan."

"Bencong dong." tawa Icha dua kali lipat dari Tomi.

"Dia suka sama lo Ca kayaknya nih, berarti entar cowok lo bencong dong." balas Tomi yang masih tidak mau kalah.

Tak ambil pusing dengan Tomi yang tak henti tertawa, mereka kini terus berjalan menuju keluar rumah Tomi. Ketika berada hampir di dekat pintu keluar, semuanya menghentikan langkahnya.

Pria berbadan kekar, tampan dan berwibawa yang ada di depan mereka menatap sinis ke arah Ragil.

"Sudah berapa kali kamu ke sini tanpa sepengetahuan saya?" pertanyaan mengerikan tertuju pada Ragil.

"Papa." Tomi memeluk pria ini untuk menghentikan interview-nya pada temannya ini.

"Saya tidak suka kamu main sama anak saya, bisa-bisa bawa pengaruh buruk."

"Papa kok tadi gak bilang sama Tomi pulang jam segini? Kan bisa Tomi jemput." Tomi masih berusaha menghentikan Papanya, tapi lagi-lagi tidak digubris.

Hukum Coulomb [ SELESAI ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang