27. Perubahan Arion

1.6K 267 12
                                        

"Karena...kalau kita senyum dan ramah ke orang lain, orang lain akan menganggap kita mudah untuk di dekati."

Itulah penjelasan Ciel ketika Arion bertanya padanya tentang Aciel yang sangat ramah pada siapapun 5 tahun yang lalu.

"Lagipula tak ada salahnya berubah jadi orang yang mudah di dekati, itu membuat kamu jadi mudah berkomunikasi dengan orang lain, punya banyak teman dan tentu saja, jika kamu kesulitan, orang lain tidak akan merasa segan membantu mu."

Arion menatap wajah Aciel yang memberi penjelasan sambil tersenyum ramah. "Jadi...Arion harus belajar tersenyum seperti kak Ciel?"

"....." Pertanyaan itu sontak membuat Aciel tersenyum paling lebar. "Iya. Belajarnya di depan cermin aja, cari ekspresi senyum yang paling tulus, lalu mulai tersenyum berlahan ke orang lain yang nggak kamu kenal, lihat reaksi mereka, kalau mereka balik tersenyum, itu berarti cara kamu senyum udah benar."

Arion mengangguk mengerti.

"Lalu belajarnya bicara yang lebih dari satu kalimat pendek. Jangan cuma bilang terima kasih dan datang lagi, tawari juga menu yang ada di estalase toko apa aja, jelasin kelebihannya. Kalau kamu berhasil melakukan hal itu, yakin deh, kue buatan Arion pasti jadi yang paling laris. Kan kuenya juga udah enak."

Arion kembali mengangguk. Itulah pelajaran yang yang di dapat dari Aciel tentang bagaimana menjadi penjual kue yang baik dan benar.

Varo yang duduk di samping Arion dan Aciel akhirnya mencibir karena pelajaran itu terdengar membosankan.

"Sebenarnya kamu nggak perlu merubah sikap mu, karena kue buatan mu sudah enak dan tampang mu yang nggak tebar senyum pun juga tetap sedap di pandang, kalau kamu berdiri di depan cafetaria membawa sampel kue dengan tulisan 'try me' pengunjung akan dengan senang hati memakan kue buatan mu lalu papa yakin mereka akan membelinya tanpa harus banyak bicara. Ini namanya menjual kualitas. Itu yang papa lakuin selama bertahun-tahun jadi penjual berlian."

"...." Arion dan Aciel menatap Varo yang ikut dalam pembicaraan mereka. Awalnya mereka pikir Varo tidak akan tertarik dengan tema pelajaran Arion hari ini.

"Itu karena Paman bukan orang yang langsung terjun bertemu dengan pelanggan, tapi pelayan toko Paman yang melakukannya. Mereka tersenyum semua ke pelanggan, bahkan ada pelajaran singkat sebelum toko perhiasan buka yang mengharuskan pelayan toko, belajar tersenyum, menyapa yang baik, memberi salam, dan menyambut pelanggan dengan ramah, bagaimanapun penampilan dan sikap pelanggan itu sendiri." Aciel yang bekerja part time di salah satu toko perhiasan milik Varo menyangga pernyataan pria itu.

Varo menarik nafas singkat. "Dalam bisnis memang ada pelajaran seperti itu. Namanya bukan senyum tulus tapi senyum palsu, kalau kamu butuh uang dan menganggap semua pelanggan adalah sumber uang, kamu akan otomatis tersenyum dan bersikap ramah."

Arion mengerutkan dahi. "Jadi....papa sering seperti itu?" Tanya Arion tidak percaya.

Varo menggeleng. " Itu papa katakan ke karyawan papa yang sulit tersenyum, kayak kamu."

"...." Oh.

"Tapi itu juga berlaku buat Arion!" Varo memberi penegasan pada kata-katanya. "Soal tersenyum tulus, kamu bisa melakukannya di depan orang yang kamu anggap dekat dan kamu sukai, contohnya, papa, mama, adek-adek kamu, kak Aciel kamu ini dan juga....anak perempuan  pria Korea itu."

"...."

"Kamu paling sering tersenyum di dekat kami, dan itu kamu lakukan tanpa sadar. Kamu juga kadang jadi banyak omong seperti sekarang. Nggak ada rasa terpaksa sama sekali. Intinya, kalau kamu terpaksa kamu boleh belajar cara tersenyum palsu dan bersikap ramah dengan baik dan benar seperti ajaran kak Ciel kamu ini. Tapi itu lebih ke...kamu belajar menipu orang lain. Tapi kalau kamu tulus, kamu sendiri nggak akan merasa terbebani dengan apa yang kamu lakukan."

(END) Love LockTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang