hiiii! aku iseng aja buat ini karena kangen sama mereka berdua, semoga kalian suka yaaaa. jangan lupa vomment-nya, ilysm!!!
Selamat membaca^^
Setelah seharian berdiri sembari berperang dengan peralatan bedah, akhirnya ia dapat duduk untuk mengistirahatkan kaki yang telah berdiri berjam-jam. Seiring bertambahnya usia membuat satu persatu fungsi tubuhnya melemah.
Hari menjelang sore, hatinya tidak sabaran untuk sampai ke rumah, sambutan hangat dari kedua anaknya serta senyuman manis dari sang istri membuatnya ingin cepat-cepat untuk pulang. Ia mendesah berat saat melirik arloji di pergelangan tangannya, kerinduan itu belum dapat di pulangkan terlebih dahulu.
Ia mengedarkan pandangan, menatap buku-buku usang yang tertata di rak buku di ujung ruangan. Matanya menangkap buku tebal dengan sampul merah bata hingga membuat kuasanya meraih buku itu.
Ia terkekeh mengingat bagaimana pegalnya bahu ketika buku itu berada di dalam tasnya semasa kuliah, ia juga mengingat buku itu merupakan hadiah pertama dari sang ayah saat ia lulus di fakultas kedokteran.
Ia memakai kacamatanya, sebelum membuka buku itu. Halaman pertama, ia melihat namanya tertera di sana.
Banyak sekali kenangan di buku itu, ia juga seringkali terkekeh melihat beberapa kata semangat yang ia tuliskan di buku itu saat ia mulai lelah dan jenuh belajar.
Ia beralih ke halaman terakhir, pandangannya buram tertutup air mata yang mulai menumpuk tatkala matanya menangkap beberapa impian yang ia tulis di buku itu, dan nama Rara yang juga ikut tertulis di sana.
Ia memutar memorinya, mengingat bagaimana nama wanitanya itu bisa ia tulis lima belas tahun yang lalu di buku itu.
Hari selasa, dua puluh tujuh agustus lima belas tahun yang lalu, Jeffrey mendapat ajakan sederhana dari Daffa untuk ikut berkumpul ke rumahnya. Sedikit bimbang kala itu, mengingat bahwa ia yang paling muda dari beberapa orang di kelompok belajar tersebut.
"Rumah lagi sepi atau gimana, Daff?" ucap lelaki berwajah Jawa kental di samping Daffa, "iya, orang rumah lagi pada keluar kecuali Jeno." sahut Daffa.
Mereka semua duduk melantai, melingkari meja bulat di depan mereka, kemudian memulai diskusi mengenai beberapa materi-materi kedokteran yang masing-masing mereka kuasai.
"Assalamualaikum, Rara-" fokus ketujuh lelaki itu langsung beralih menatap seorang gadis di daun pintu yang sedang menatap bingung orang-orang dihadapannya.
"Waalaikumsalam." sahut mereka, gadis bernama Rara hanya tersenyum kikuk membalas tatapan dari ketujuh lelaki itu.
Jeffrey salah satu dari ketujuh lelaki itu, hanya mampu menahan senyum dan debaran di dadanya. Akhirnya, rasa penasaran mengenai adik perempuan yang sering Daffa ceritakan padanya terbayar hari ini.
"Bukannya belajar malah main terus kamu, Ra." cibir Daffa menatap Rara, gadis itu langsung berdecak kesal, " Rara habis pulang les, Mas Daffa!" sahut gadis itu dengan kesal.
"Bagus. Sana buatin minum untuk temen-temennya Mas." gadis itu hanya dapat menahan kesal kemudian ia langsung melenggang pergi dari hadapan mereka.
"Adik kamu ya, Daff?"
"Iya."
"Wow, bening juga ya?"
"Matanya tolong di jaga ya temen-temen." sindir Daffa saat melihat teman-temannya memuji Rara.
"Yuta pasti udah ada ancang-ancang mau godaain ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dilamar✓
Fanfiction❝Bismillah. Ini pertanyaan yang dari awal sudah membuat saya bingung, sebelum proses ini, Mas Jeffrey langsung mengkhitbah saya tanpa ingin melalui proses ta'aruf terlebih dahulu. Apa yang membuat Mas Jeffrey seyakin itu dengan saya dan kenapa Mas J...
