❝Bismillah. Ini pertanyaan yang dari awal sudah membuat saya bingung, sebelum proses ini, Mas Jeffrey langsung mengkhitbah saya tanpa ingin melalui proses ta'aruf terlebih dahulu. Apa yang membuat Mas Jeffrey seyakin itu dengan saya dan kenapa Mas J...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mengulik sekilas saat awal, Rara dan Jeffrey menjadi orang tua dari dua anak.
Seminggu pasca Reya di perbolehkan pulang ke rumah, keduanya dibantu penuh oleh Ibu dari Jeffrey dan juga Mama dari Rara. Rara yang masih belum sepenuhnya pulih, dan juga jadwal padat dari Jeffrey yang tak dapat di hindari membuat keduanya sangat terbantu oleh kehadiran dua wanita paruh baya itu.
Tetapi, bantuan itu tak dapat berselang lama, membuat Jeffrey dan Rara sangat kewalahan. Rayyan yang masih menginjak satu tahun lebih sangat membutuhkan keduanya, dan juga Reya yang baru saja keluar dari NICU membutuhkan perawatan ekstra untuk di jaga.
Setiap di pertengahan malam keduanya kerap kali terbangun akibat tangisan dari Reya ataupun dari Rayyan, namun karena sudah terbiasa terbantu membuat Rara dan Jeffrey kebingungan saat hari pertama di lepas untuk merawat Rayyan ataupun Reya seorang diri.
Pukul dua malam, tangisan Rayyan memenuhi penjuru kamar, Rara langsung membangunkan Jeffrey untuk segera menimang Rayyan. Sekali lagi, Rara belum sepenuhnya pulih, ia belum terlalu bisa beranjak duduk ataupun berdiri tanpa bantuan orang lain.
Sebenarnya ia tak tega untuk membangunkan Jeffrey, karena lelaki itu baru saja terlelap beberapa jam yang lalu, tapi bagaimana lagi? mau tak mau Rara menggoncang tubuh Jeffrey perlahan, berusaha membuat Reya yang berada di tengah mereka tak terganggu.
"Mas, Rayyan nangis." Jeffrey mengerjap, lelaki itu langsung duduk dan menghela napas sejenak.
"Jangan kelamaan, Mas. Nanti Reya kebangun jadi ikutan nangis,"
"Iya-iya." Jeffrey langsung beranjak dari duduknya dan mengambil Rayyan yang berada di box bayi.
"Anak Ayah kenapa, sayang?" Jeffrey menimang Rayyan dan menepuk-nepuk punggung sang anak dengan pelan.
"Haus ya? sama Bunda dulu ya, Ayah buatin susu," ucapnya pada Rayyan. Tangisan anak itu tak kunjung berhenti bahkan setelah Rara menimangnya, "Abang, jangan nangis nanti adiknya ikutan bangun," ucap Rara dengan lembut.
Ia ingin sekali beranjak berdiri dan membawa Rayyan ke dalam gendongannya untuk menghibur anak itu, sayangnya bekas operasi caesar beberapa minggu yang lalu membuatnya tak boleh untuk mengangkat barang berat termasuk untuk sekedar menggendong Rayyan.
Setelah Jeffrey kembali, lelaki itu kembali mengambil alih Rayyan dari Rara. Tangisan anak itu justru semakin kencang, bahkan menolak untuk di beri susu.
"Kamu maunya apa, Rayyan?"
Rara berusaha untuk bangkit dan berdiri, "gendong Bunda aja, mau?" Rara menyodorkan tangannya pada Rayyan, tetapi anak itu malah beralih memeluk tengkuk sang Ayah.
"Gak boleh dulu, Ra." ucap Jeffrey.
"Ya allah, gimana ini, Mas?"
"Kayaknya perut dia lagi gak enak deh. Mas bawa keluar aja dulu ya, takutnya Reya bangun,"