Hari ini adalah hari dimana kelas Carra akan ada tes renang dalam pelajaran olahraga. Cukup di hindari sih, namun apa daya? Olahraga ini tidak bisa lagi di tunda hanya karena permohonan murid-murid yang lain.
Pak Arsen–guru olahraga–yang mengajar IPA 2 kali ini. Bisa di bilang, wajah Pak Arsen dan Pak Resha–guru olahraga–IPA 2 waktu kelas 11 itu tak beda jauh, tinggi, putih, ganteng, famous, dan gaya pun gak ada bedanya. Hanya saja, Pak Arsen lebih tegas di banding Pak Resha yang bisa di bilang lemah lembut dan murah senyum.
Itulah yang para murid-murid bedakan. Pak Arsen tidak pernah membiarkan siapapun lolos dalam pelajarannya. Mungkin dari berbagai macam bidang olahraga kemarin, anak IPA 2 sangat semangat di bandingkan sekarang.
Carra–gadis itu sedang berdiam diri di pinggir kolam renang dengan baju olahraga, di temani Senja dan juga Mega di sampingnya. Mungkin Carra memang tidak akan mengikuti aktivitas renang kali ini, dirinya hanya mengikuti pemanasan yang orang lain lakukan sebelum tes.
Di sebrang sana, sudah berdiri Pak Arsen dengan tangan di lipat dada dan peluit yang ia siapkan untuk memulai start.
“Gue pengen juga ikutan,” gumam Carra.
Mega yang tak sengaja mendengarnya lantas menepuk pundak gadis itu sambil tersenyum. “Semester dua lo juga bisa coba Ra,” semangatnya.
Carra mengangguk lalu tersenyum.
“Oke anak-anak, untuk tes nya bapak akan absen dari urutan satu sampai akhir. Mengerti?!”
Semuanya mengalihkan pandangannya menatap Pak Arsen lalu mengangguk serempak.
“MENGERTI!”
“Sebelum di mulai, di sini bapak ingin memberitahukan bahwa siswi yang bernama Carramel Andromeda tidak akan ikut dalam tes kali ini.” ucap Pak Arsen menatap satu persatu muridnya.
Semuanya mengangguk patuh tanpa berkomentar, karena mereka semua sudah tahu alasan apa yang Carra berikan karena tidak mengikuti tes kali ini.
Pak Arsen mengangguk kembali, kemudian tangannya bergerak membuka absensi siswa-siswi dan memulai tesnya. Sepanjang pelajaran tidaklah sepi, karena ada Panji–si ketua kelas yang humornya receh membuat suasana sedikit cair. Begitupun dengan Pak Arsen, notabennya guru yang kaku dan tegas juga kini sedikit terhanyut karena ulah muridnya.
“Baiklah, kali ini bagian Mega.” panggil Pak Arsen.
Di sebarang kolam, dengan susah payah Mega terus berdoa agar di lancarkan. Di temani Senja yang hanya menggelengkan kepalanya dan Carra menatapnya menyemangati.
“AYO DONG MEG! GUE PENASARAN, TUBUH TRIPLEK KAYA LO BISA RENANG?” tanya Panji berteriak di sebrang pinggir kolam tempat Mega duduk.
Cewek itu mendengus sebal, kakinya melangkah sedikit demi sedikit di tempat start yang Pak Arsen tunjukkan. Dengan telaten, Mega memulai tesnya dengan mengikuti arahan Pak Arsen sampai finis.
“Lo hebat Ga,” ucap Carra menatap temannya itu kagum.
Dengan sombong, Mega mengibas-ngibaskan tangannya. “Gue gitu lho,” bangganya.
“Eits, gue kira badan triplek kaya lo gak bisa renang Meg.” kata Panji tiba-tiba datang seraya terkekeh di ikuti Kenzo di belakangnya.
Mega mendengus sebal menatap cowok di depannya. “Tubuh triplek gue emang jago, lah elo! Tubuh gempal gitu bisa maju di dalam air?” tanya Mega lebih ke mengejek.
Bagian Panji yang mendengus sebal. Cowok itu memanyunkan bibirnya menatap kesal Mega, sebesar itukah tubuhnya? Bahkan jika di lihat-lihat lagi, tubuh Panji itu lebih mirip ke Bastian Steel–mantan personil CJR.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alaska (REVISI)
أدب المراهقينFOLLOW DULU SEBELUM BACA!!! (Plagiat di larang mendekat!) Jangan lupa tinggalkan jejak 🌻 Typo bertebaran harap maklum! __________________________________________________ Start 05/03/21 Finish 29/04/21 Ini tentang Alaska si cowok arogan yang berteka...
