{57} Akibat dari semuanya

609 49 6
                                        

Tidak, mungkin kata-kata Shakilla beberapa detik lalu, yang mengatakn pemuda itu akan meninggalkannya dalam kegelapan itu salah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tidak, mungkin kata-kata Shakilla beberapa detik lalu, yang mengatakn pemuda itu akan meninggalkannya dalam kegelapan itu salah. Nyatanya, Aksa selalu punya cara sendiri untuk menyelamat Shakilla. Walau ada sedikit drama yang bahkan Aksa juga tidak ingin melakukannya, namun ia terpaksa.

Mana mungkin Aksa sanggup melihat wajah sendu gadisnya, mana mungkin juga Aksa mampu meninggalkan gadisnya dengan pemuda najis bernama Devan itu. TIDAK MUNGKIN.

Setelah mundur beberapa langkah, dan bahkan sempat berbalik badan. Nyatanya Aksa kembali lagi menghadap ke depan, langsung menyerang Devan dengan brutal membuat sang empu kewalahan.

Raka, Kemal, dan Venus ikut memasuki ruangan. Sedangkan anak-anak yang lain masih menyerang anggota Carlavet di luar sana. Raka langsung menghampiri Shakilla dengan mata yang sudah membengkak, membuka ikatan-ikatan sialan itu dengan gegabah. Beberapa saat kemudian akhirnya ikatan itu terbuka, Ajun langsung menyerobot dan memeluk Shakilla dengan erat. Menumpahkan segala kegundahan yang seharian ini terpendam.

Aksa yang melihat gadisnya di peluk jadi melotot tak terima, dirinya bahkan belum sempat memeluk. Hal ini jelas di manfaatkan oleh Devan untuk menyerang balik pemuda itu. Tanpa pikir panjang, ia memajukan belatinya ke arah Aksa. Aksa yang sudah sadar langsung menghindar, namun tetap saja belati itu tidak dapat ter-elakkan. Dan kini lengan kiri pemuda itu mulai tampak mengeluarkan darah, darah merembas dari baju hingga mulai bercecer kelantai. Seisi ruangan langsung memandang kaget, terlebih Shakilla.

"AKSA!" pekiknya panik. Shakilla yang hendak menghampiri pemuda itu langsung di hadang oleh Raka, walau sang empu memberontak dengan sangat keras. "Aksa, please udah..."

Nyatanya, Aksa masih mampu bangkit dan berdiri. Menggunakan meja sebagai media tumpuannya untuk berdiri, sedikit mengerang kesakitan walau sudah ia tahan sebisanya. Lalu ia mendongak, "Bawa Killa keluar."

Gadis itu sontak menggeleng. "Enggak, lepas anjir. Gue nggak mau keluar Raka!" bentaknya. Melepas kasar tangan Raka, lalu dengan cepat menghampiri Aksanya. Hendak memegang pemuda itu namun lagi-lagi ia kalah cepat, Ajun dengan cekatan menarik kembali tubuh Shakilla dan membawanya keluar.

***

"Brengsek Devan!"

Reza mengumpat sepanjang jalan menuju markasnya dengan nama Devan. Merutuki dirinya sendiri yang bertindak gegabah. Harusnya ia mencari tau dulu siapa Shakilla yang di maksud teman-temannya, bukannya langsung membuat strategi seperti kemarin.

Brak!

Seisi ruangan langsung memandang ke arah pemuda yang berdiri di ambang pintu. Reza menatap beberapa temannya yang sudah tumbang, menatap lagi beberapa anggota Gral yang kebanyakan masih bisa berdiri.

"Za..." lirih Rio. Terbatuk pelan sambil memegangi perutnya. "Devan...Devan di dalem."

Ajun mengepalkan kedua tangannya marah. Harusnya ia sadar, dari awal pemuda itu tetaplah musuh. Sekalipun bunda dan mamah Reza berteman baik. "Sialan lo, gue kira lo bakal baik dan ngga seberani itu untuk nyakitin Shakilla."

AKSHA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang