Ketua geng yang terkenal berandal tapi sering ikut lomba olim.
Aksa Deovangga, pemuda berdarah Jerman-Indonesia. Sifatnya yang dingin banget kayak balok es di kutub utara, kaku banget kayak kanebo kering, ditambah ketus dan irit ngomong yang bikin s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tadi sore kamu kemana? Kenapa ngga angkat-angkat telfon aku?"
Aksa memainkan pasir di bawah menggunakan kakinya, terdiam sesaat sebelum ia kembali menatap gadis itu. "Aku...ada urusan di store, sorry ngga bawa hp. Keasikkan di store jadi lupa sama janji kamu."
Shakilla menghela nafas panjang, ingin rasanya marah namun entah kenapa tidak bisa. Lalu yang ia lakukan detik berikutnya hanya tersenyum kecil, "Its okey, jangan di ulangin lagi ya?"
"Iya." sahut pemuda itu mengangguk. "Kamu...ngga nungguin aku jemput kan?"
"Hah?" ia mengerjab. Kemudian terkekeh kecil. "Engga lah, aku langsung pesen taksi online pas kamu ngga angkat telfon."
"Baguslah. Ayok pulang, udah malem." Aksa segera beranjak dari taman, berjalan lebih dulu meninggalkan seorang gadis yang masih terdiam kaku di tempatnya.
"Angsa."
Langkah besar pemuda itu terhenti, terdiam beberapa saat lalu membalikkan badan menatap sang empu yang memanggil namanya. Sontak terdiam kaku saat melihat Shakilla yang berdiri dengan kedua pipi yang sudah basah. Ia hanya...
"Hey, Killa? Are you okey?" Aksa mendekat, langsung mendekap tubuh dingin itu ke dalam pelukannya. Mengelus punggung kecilnya pelan sambil sesekali menciumi puncak rambutnya.
Shakilla terisak, meremas kuat kedua tangannya pada ujung kaos pemuda itu. Menyalurkan segala rasa yang sudah ia pendam beberapa hari. You know, gadis ini bukan tipe orang yang pandai menyimpan segala permasalahannya sendiri.
"A-aku takut...." isaknya pelan. "Sa, why you change hm? Sekarang rasanya kaya beda..." gadis itu terpejam. Masih terisak pelan mengeluarkan keluh kesahnya.
Aksa terdiam, mengangkat kepalanya untuk tidak mencium puncuk kepala gadis itu lagi. Mengepalkan kedua tangan saat dadanya ikut terasa nyeri dan sesak, seolah mendengar suara tangis Shakilla adalah hal yang paling menyakitkan baginya.
"Maaf, Killa."
Nyatanya dari sekian banyak yang ingin ia ucap, hanya kata maaf yang mampu keluar dengan sempurna. Kata yang lainnya seakan masih tersangkut di tenggorokan yang membuatnya mati-matian menelan saliva dengan susah payah.
"Kalau aku salah kasih tau, Sa. Aku ngga suka kamu kaya gini..." Shakilla melepaskan pelukan mereka. Mendongak ke atas menatap pemuda yang lebih tinggi darinya. "Rasanya tuh kaya kamu ada di sini tapi rasa dan pikiran kamu ada di orang lain."
Aksa tercekat, reflek membuang pandangannya ke sembarang arah untuk menghindari rasa bersalah. Lalu ia menggumam, "Hm, im so sorry. Maaf udah bikin kamu takut, maaf udah bikin kamu khawatir." ujarnya seraya kembali memeluk. Terus mengelus punggung kecil itu dengan mata terpejam.