Ketua geng yang terkenal berandal tapi sering ikut lomba olim.
Aksa Deovangga, pemuda berdarah Jerman-Indonesia. Sifatnya yang dingin banget kayak balok es di kutub utara, kaku banget kayak kanebo kering, ditambah ketus dan irit ngomong yang bikin s...
Kemal menyumpal mulut pemuda itu dengan bungkusan roti. "Muka lo tuh standart Jo, terima aja kenapa sih."
Aksa berdecih, "Di sukain ngga selalu enak. Belum ngerasa risih kan lo cuma karna di sukain." katanya yang sudah berpengalaman.
Saga terbahak. "Otak gue langsung singkron ke Vanessa Ga sumpah, ngga ada kompromi ini mah asli."
"Heh, kirain gue doang anjir yang ngerasa." sahut Venus tertawa geli. "Kemarin gue jumpa dia sih di jalan."
"Terus? Terus?" sambung Jojo yang sedang di rangkul oleh Raka.
"Kenapa malah gibahin cewek sih, inget tujuan kita ke sini ngapain goblo." sengit Kemal. Kemudian menoleh ke depan, sontak melebarkan mata saat menatap pemuda di depan sana "Nah! Itu kan anaknya."
Mereka sontak menoleh ke arah yang Kemal tunjuk, reflek memasang badan saat melihat pemuda itu. Ternyata tidak seperti yang Jojo dan Raka bayangkan.
"Heh, sini lo." kata Saga.
Ajun langsung menoleh, "Kalem anjir."
"Manggil gue?" ucap pemuda berambut ikal. Memandang sekilas kawannya lalu kembali menatap ketujuh pemuda itu.
Aksa terdiam, memandang pemuda kelas 10 itu dari atas sampai bawah. "Afka?"
Ia mengerjab. "Tau nama gue bang?" ucapnya sedikit kaget.
Raka berdecak, "Afka, kelas 10 Ips2. Tinggal di daerah Plaza mall, cat rumah lo warna abu-abu."
Afka melebarkan matanya, menoleh lagi ke arah kawannya dengan kedipan mata beberapa kali. "M-maksudnya apa nih?"
"Lo salah nyari lawan." ucap Venus. "Nih temen lo? Yang ngajakin buat gabung sama Carlavet kan?" ujarnya membuat keduanya mengerjab.
Pemuda di samping Afka berdehem. "Tau dari mana bang? Ada bukti?" balas Jeno yang lebih tenang.
"Lo juga yang ngasih bocoran ke Carlavet tentang anak Yeorim? Karna itu kan mereka sering di jegat tengah jalan." ucap Aksa. Memandang Jeno dengan kedua tangan bersidekap di dada. "Iya atau enggak?"
Afka menelan salivanya susah payah, menyenggol lengan temannya pelan. "Gue udah bilang kan kemarin jangan ngulah." bisiknya. "Baru kali ini gue nyesel temenan sama lo."
Jeno berdecak. "Apa yang lo dapetin kalau mihak ke mereka, kalau kita mihak ke Carlavet jelas kita dapet yang kita mau." ucapnya membuat Afka terdiam. Lalu kembali menatap ke depan, "Jadi mau main kroyokan?"