37. Kedewasaan yang Tumbuh

14 7 0
                                    

HAPPY READING
.
.
.

"Dari sekian banyak luka, kemarahan orang tua adalah yang paling menyakitkan."

Seorang gadis dengan tirus di kedua pipinya memasuki gerbang sekolahan yang sudah ramai dipadati seluruh siswa. Lagi dan lagi, sisa air mata yang mengguyur deras area wajahnya kemarin masih begitu berbekas di sekitar matanya. Bisa dilihat dari cekungan merah terukir di sisi matanya, mempertegas kalau cairan bening itu seolah-olah mengandung pedang yang membuat mata Nisya menjadi bengkak. 

Derap langkah seseorang tiba-tiba memasuki indra pendengarannya. Nisya diam-diam melirik sembari terus berjalan, mengintai siapa orang yang mulai mendekat ke arahnya. Sampai tiga detik berikutnya, ia mendengkus saat tahu si cacing kerawit lah yang berjalan mendekatinya. 

"Halo, Nisya! Good morning, cantik! Apa kabarnya, Bro? Kok masih hidup, sih?" sapa Syifa sok akrab seraya merangkul pundak Nisya. 

"Kepo lu," balas Nisya sinis. 

"Eh, enggak boleh gitu. Kita in---"

"Ini bocah apa-apaan lagi mepet-mepet mulu? Demen lo sama gue, hah?!" decak Nisya menghentikan langkahnya sambil menatap tajam Syifa yang terus menghimpit tubuhnya. 

"Sensian amat," cibir Syifa mencebikkan bibir. 

Nisya menghela kasar. Kali ini kedua insan itu berada di lorong utama SMP Antariksa. Dan kebetulan saat Nisya baru saja tiba di sekolah, Syifa datang dan langsung menghampiri pimpinan Imposter itu untuk menanyakan di mana Kisya berada. Sebab, sejak insiden Kisya yang pingsan di museum, bosnya itu dikabarkan harus dirawat inap di rumah sakit.  

"Mau apa lo? Bilang cepetan!" suruh Nisya mengerlingkan matanya. "Tuh tas  gontai-ganti mulu lagi kek anak PAUD lo," cibirnya sambil menunjuk tas bermotif Doraemon yang Syifa panggul.

"Si Kisya mana, Nis? Kok enggak berangkat bareng tumben?" tanya Syifa celingak-celinguk, tapi tidak menemukan kehadiran Kisya sejak tadi. 

"Mati." 

"Alhamdulillah."

"Sinting emang lo," decih Nisya melemparkan tatapan tajam seraya kembali melangkah maju sebab bel pasti tak lama lagi berbunyi. 

Syifa membelalakkan kedua matanya tatkala Nisya lewat begitu saja di depannya. Tidak ingin melepaskan sebelum mendapat jawaban, Syifa pun segera berlari dan tak lama berhasil mencekal lengan Nisya dengan kuat. 

"Apa lagi, sih, lo?!" tanya Nisya sarkas. 

"Jawab gue. Ke mana si Ki---"

"Mulutnya bisa jauhin dikit enggak? Mulut lo bau azab sumpah," ucap Nisya asal sambil menggeriap ngeri. 

"Emang enggak bener gue nanya sama gas elpiji kayak lo."

"Iya, jangan nanya sama gue," kata Nisya seketika membuyarkan khayalan Syifa yang sempat niat menabok dirinya. 

"Terus nanya ke siapa dong?" 

"DKM masjid sono. Tanya matinya mau dikuburin apa ditimbun sampah," jawab Nisya asal kemudian benar-benar melenggang jauh meninggalkan Syifa.

***

Warga sekolah dibuat terkesima oleh dua geng perusuh sekolah karena hari ini mereka tidak membuat ulah di jam istirahat. Jika biasanya mereka menjadi provokator ketika ada siswa yang bertengkar, tapi untuk hari ini semua kenakalan itu tiba-tiba menghilang, membuat keadaan sekolah menjadi tenang. Bahkan, sebagian siswa menyangkal kalau ini merupakan salah satu siasat Imposter dan Victor untuk membuat kekacauan yang lebih besar lagi. Ada juga yang mengira kalau Imposter dan Victor sedang cuti berbuat dosa. 

NIKISYA [END] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang