Cukup lama waktu yang Ayah butuhkan untuk mengobrol dengan Lee Jeno di ruang tamu, rasanya ini sudah nyaris satu jam.
Selama itu pula Lyla dan Ibunya menunggu di dapur sembari memasak untuk makan siang, berhubung mereka kedatangan Jeno jadi Ibu memasak lebih banyak dari biasanya. Soobin sendiri memilih untuk main ke rumah temannya yang berada tidak jauh dari sini, sedangkan Xiaojun beserta orang tuanya terpaksa harus pulang tanpa mendapatkan kepastian tentang pertunangan tadi.
Lyla tidak tau pasti bagaimana keputusan Ayah masalah pertunangan itu, tapi ia harap Ayahnya mau membatalkannya nanti. Lagipula Lyla sama sekali tidak mencintai Xiaojun, rasa cintanya telah pudar dari lama dan yang tersisa hanyalah perasaan kesal karena ucapan pemuda itu yang menjelek-jelekkan Jeno.
Saking kesalnya Lyla sampai tidak sadar sudah memotong kentang dengan cara yang kasar, Ibu yang sedang berada di sebelahnya sampai mengernyit ngeri menyaksikan tingkahnya. Tidak ingin sesuatu yang buruk sampai terjadi, Ibu mengambil alih pisau dapur dari tangan Lyla lalu menggeser tatakan beserta potongan kentangnya pula.
"Mending kamu ke warung aja sana, beliin ibu telur sekilo." wanita itu menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan pada Lyla lalu mendorongnya agar segera pergi.
Tadinya Lyla ingin menolak, tapi ternyata dorongan Ibunya cukup kuat hingga mau tidak mau Lyla terpaksa menurutinya. Langkah kaki gadis itu refleks terhenti saat bertemu pandang dengan Jeno yang masih mengobrol bersama Ayah di ruang tamu. Kali ini wajah Ayah terlihat lebih santai bahkan tadi sempat dilihatnya sedang tertawa bersama Jeno, sepertinya hubungan mereka mulai dekat.
"Mau ke mana, La?"
Suara Ayahnya mengejutkan Lyla yang sempat terpaku menatap Jeno, gadis itu buru-buru mengalihkan pandangannya pada sang Ayah.
"Ke warung bentar, Yah. Beliin Ibu telur."
Setelah itu tanpa menunggu respon dari Ayahnya, Lyla sudah buru-buru pergi mengabaikan Jeno yang terus saja menatapnya dengan senyum di wajah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hai."
Kehadiran Jeno yang begitu tiba-tiba sukses membuat Lyla tersedak es kiko yang ia makan. Lyla terbatuk-batuk heboh hingga membuat air matanya sedikit keluar, Jeno yang khawatir pada si gadis langsung buru-buru menghampiri. Namun saat tangannya hendak menyentuh bahu Lyla, gadis itu justru mundur dua langkah darinya.
Jeno mematung menatap tangannya yang gagal menjangkau bahu si gadis, senyum pedih di wajahnya terlihat jelas saat sadar kalau hubungan mereka belum juga bisa membaik sejak kejadian di hotel waktu itu. Mungkin ini memang momen yang pas untuk meminta maaf dan menjelaskan pada Lyla tentang apa yang terjadi sebenarnya di hari itu.
"La, aku minta maaf."
Choi Lyla tidak meresponnya, bahkan sebisa mungkin menatap ke arah lain lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Jeno beberapa langkah di belakang. Plastik berisi telur pesanan Ibunya tanpa sadar Lyla genggam kelewat erat, begitupula es kiko di tangan satunya. Perjalanan dari rumah ke warung tidak seberapa jauh memang, maka dari itu Lyla memilih untuk berjalan kaki saja. Andai saja ia tau kalau Jeno akan datang menghampiri, Lyla pasti akan naik motor Soobin tadi.