"Lama banget ke warungnya?"
Protes Ibu saat Lyla masuk ke dapur dan menyerahkan plastik berisi telur pesanannya ke atas meja makan, namun ekspresi kesalnya langsung berubah ramah begitu Jeno ikutan masuk ke dapur. Ibu justru tersenyum dan menyenggol lengan Lyla yang lantas mengerutkan kening.
"Temenin tamunya sana di depan, jangan di dapur."
"Emangnya Ibu nggak mau aku bantuin?"
Seperti baru teringat sesuatu, Ibu langsung buru-buru mengambil rantang dari kabin dapur dan mengisinya dengan sayur yang baru selesai ia masak. Lalu di bagian lain rantangnya diisi oleh tiga potong ayam goreng beserta sambel terasi buatan Ibu.
"Kamu bantuin ibu ini aja, tolong anterin buat paman mu. Setau ibu istrinya pergi dinas ke luar kota tadi pagi, takutnya nggak ada yang masakin." Ibu merogoh bagian bawah alas kulkas dan mengeluarkan amplop putih dari dalam sana. "Sekalian nih kasih uang sewa apartemen, kalau dia nolak paksa aja atau selipin di mana gitu tanpa sepengetahuannya."
Lyla mengangguk mengerti sembari menerima rantang yang diserahkan Ibunya juga amplop putih berisi uang yang ia masukkan ke saku celana.
"Bu, aku izin nemenin Lyla boleh?" tanya Jeno yang mana membuat keduanya langsung menoleh.
Lyla yang lebih dulu bersuara. "Kamu di rumah aja, istirahat. Emangnya nggak capek apa?"
Mendengar itu Ibu pun ikut menimpali. "Tadi Ayah cerita katanya kamu bahkan nggak sempat istirahat kan, karena abis dari bandara langsung kemari?"
"Tadi saya sempat tidur di taksi kok, Bu. Tidurnya cukup, lagipula saya juga mau lihat-lihat daerah sini."
Ibu melirik Lyla seolah minta pendapatnya, padahal Lyla sendiri ingin meminta pendapat sang Ibu. Alhasil gadis itu hanya menghela napas berat seraya mengangguk terpaksa.
"Yaudah, terserah." Pandangan Lyla beralih pada Ibunya. "Oh iya, Bu. Katanya Jeno mau nginap di sini malam ini, boleh kan?"
"Boleh kok, cuma di rumah ini nggak ada kamar tamu. Kamu nggak apa-apa kalau tidurnya sama Soobin?"
"Iya nggak apa-apa kok, Bu."
Bagi Jeno selama ia diperbolehkan menginap di sini, tidur di mana saja bisa asal tidak disuruh tidur di luar. Tapi keluarga Choi tidak mungkin setega itu juga sih menyuruhnya tidur di luar, apalagi kelihatannya hubungan Jeno dengan orang tua Lyla sudah agak membaik. Memang tadi saat mengobrol dengan Ayah, Jeno cerita banyak hal, bahkan topik sensitif tentang keluarganya saja ia terbuka untuk bercerita. Mungkin karena alasan itulah Jeno jadi mudah diterima di keluarga ini, karena Jeno berusaha terlihat apa adanya di depan Ayah tanpa mencoba untuk menutup-nutupi sesuatu.
Kecuali fakta kalau ia suka menginap di apartemen Lyla ya, kalau itu sih biar jadi rahasia. Jeno takut bakal langsung diusir dari rumah begitu Ayahnya Lyla tau.
"Sewa apartemen tuh maksudnya apartemen yang selama ini kamu tempatin?"
Jeno bertanya saat mereka sudah berada di jalan menuju rumah pamannya Lyla. Katanya sih dekat, rumahnya sampingan sama kantor kepala desa.
"Iya, apartemen itu kan aslinya punya paman aku sewaktu dia masih kerja di Jakarta. Cuma karena sekarang udah pindah ke sini jadi apartemennya kosong, terus dia nyuruh aku buat nempatin. Sebenarnya dia nggak minta uang sewa sih, tapi Ayah sama Ibu nggak enak kalau aku numpang di sana makanya ngotot bayar sewa meski cuma setengahnya. Itupun kadang ditolak sama paman."
"Oh, gitu." Jeno mengangguk mengerti. Pemuda itu tampak memijat bahu dan lehernya yang mungkin terasa pegal, maklum saja karena Jeno kan belum sempat beristirahat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Two Sides ✓
FanfictionJeno itu tipe pacar yang hard on the outside but soft on the inside. Intinya beda banget deh, Jeno seperti punya dua sisi yang berbeda. Start : 12 Desember 2020 End : 23 November 2021 Copyright ©2020 by ApriLyraa
