19| Serba Salah

1.5K 207 3
                                        

Langit di jam enam sore sudah nyaris gelap kala Choi Lyla keluar dari gedung departemennya.

Yeji sempat menawarinya tumpangan tadi, karena katanya jika Lyla memesan taksi online maka gadis itu harus menunggu setidaknya tujuh menit sampai taksinya datang. Mengingat di jam-jam segini biasanya jalanan macet parah, ditambah lagi tidak jauh dari kampus mereka itu ada lampu merah.

Jadi ya sudah, Lyla iyakan saja. Mereka berjalan beriringan keluar dari gedung sembari bercanda, hampir tidak sadar bahwa Lee Jeno sudah berdiri sejak tadi di depan sana sembari bersandar pada mobil.

"Choi Lyla!"

Yang punya nama agak tersentak kala seruan tiba-tiba itu terdengar, baik Lyla maupun Yeji sama-sama menoleh ke sumber suara. Terlihat Jeno melambaikan tangannya pada sang pacar yang kemudian dibalas lambaian pula oleh Lyla.

"Dijemput Jeno ya?" Tanya Yeji menyenggol lengannya.

Lyla hanya bisa meringis tidak enak hati pada temannya itu. "Iya kayaknya. Gue nggak jadi nebeng lo deh, Ji. Nggak apa-apa kan?"

"Iya nggak apa-apa, santai" balasnya sambil tersenyum. "Kalau gitu gue duluan ya"

"Iya, hati-hati"

Hwang Yeji mengangguk lalu berjalan pergi lebih dulu menuju parkiran, gadis itu juga sempat melempar senyum pada Jeno sebagai bentuk sapaan yang hanya dibalas oleh Jeno seadanya.

"Kok ada disini? Kirain udah pulang"

Saat Lyla datang menghampiri, Jeno dengan sigap membuka pintu mobil dan meletakkan tangannya beberapa senti di atas kepala Lyla saat gadis itu masuk. Setelah memastikan Lyla masuk dengan aman tanpa harus terantuk atap mobil, Jeno setengah berlari memutari mobilnya lalu masuk lewat pintu satunya.

"Aku nungguin kamu" jawab Jeno sembari tersenyum, jenis senyum yang membuat Lyla gemas lalu menepuk-nepuk kepalanya lembut seolah sedang menepuk kepala anak anjing yang pintar. Senyum Lee Jeno semakin lebar saja sebelum akhirnya memilih untuk menjalankan mobilnya meninggalkan area kampus.

"Kamu kan udah selesai kelas dari tadi, pasti lama ya nungguinnya?" Lyla bertanya tidak enak hati.

Meskipun Jeno pacarnya, dan pemuda itupun tidak pernah keberatan tentang apapun yang berhubungan dengan Lyla, tetap saja rasanya tidak enak hati jika harus merepotkan pemuda itu. Lyla bukan jenis gadis manja yang kemana-mana harus ditemani dan diantar jemput pacar, jika ia bisa melakukannya sendiri maka akan ia lakukan tanpa harus membebani Jeno.

"Sebenarnya nggak juga. Tadi beres kelas sekitar jam empat, tapi kemudian dilanjut lagi konsultasi ke dosen masalah maket. Terus nungguin kamu deh di perpustakaan sambil baca-baca buku, mungkin sekitar setengah jam aja aku langsung kesini"

"Oh, gitu" Lyla mengangguk mengerti. "Ngomong-ngomong maket, denah yang kamu buat waktu itu udah selesai?"

Jeno mengangguk cepat, tangannya sibuk memutar stir sementara matanya berfokus pada kaca spion. Memastikan tidak ada orang di belakang mereka barulah Jeno membelok arah mobilnya. Ini bukan arah menuju apartemen Lyla.

"Udah kemarin, jadi nanti tinggal bikin maketnya aja lagi. Eh, ini nggak apa-apa kita makan di luar dulu ya? Aku lapar, hehe"

Tidak masalah, karena Lyla pun merasa lapar sekarang. "Iya, nggak apa-apa"

Tidak lama kemudian mobil Jeno berhenti di depan salah satu rumah makan, dan saat keduanya keluar dari mobil Lyla bisa langsung mencium aroma ayam bakar yang menggugah selera.

Jeno pandai memilih tempat makan yang enak, dan kelihatannya tempat ini juga nyaman.

Mungkin karena bersamaan dengan jamnya orang pulang kerja, tempat ini dipenuhi oleh banyaknya pegawai kantoran juga beberapa mahasiswa seperti mereka yang memilih makan sambil mengerjakan tugas di depan laptop.

Two Sides ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang