50| Masalah Baru

936 147 13
                                        

Park Siyeon datang lima menit lebih dulu ketimbang Jeno. Jadi saat pemuda itu masuk ke kafe tempat janjian mereka, Siyeon sudah duduk di sana sembari melambaikan tangannya dengan senyum ceria.

Namun sikap ramah Siyeon berbanding terbalik dengan wajah masam Jeno yang kini sudah menarik kursi untuknya duduk. Saat mereka sudah berhadapan begini, tanpa basa basi Jeno langsung bicara ke intinya.

"Jelasin sama gue apa yang terjadi sama kita malam itu, dan kenapa gue bisa berakhir tidur berdua sama lo."

Gadis Park itu tertawa geli merespon pertanyaannya. "Lo repot-repot ngajak gue ketemuan malam-malam gini cuma buat nanya itu?"

"Jawab gue sekarang, Park Siyeon!"

Seolah tidak takut dengan tatapan tajam yang Jeno berikan sekarang, gadis itu justru menyilangkan kedua lengannya ke dada sembari bersandar.

"Oke, kalau lo emang sepenasaran itu." Gadis itu tersenyum remeh ke arah Jeno. "Malam itu lo mabuk berat di bar, ingat kan?"

Jeno mengangguk mengiyakan, kalau itu sih dia tidak mungkin lupa. Tapi apa yang terjadi selanjutnya ia sama sekali tidak ingat. Jadi Siyeon kembali menjelaskan dengan wajah yang sangat meyakinkan.

"Tadinya gue mau bawa lo pulang ke rumah, tapi gue pikir lebih mudah kalau biarin lo nginep dulu di hotel. Setelah nganterin lo ke kamar hotel, lo malah cium gue secara tak terduga. Dan lo pikir gue bakal nolak?" Siyeon tertawa seolah itu adalah hal yang lucu. "Ya nggak lah, gue terima ciuman lo. Awalnya mungkin cuma ciuman bibir biasa, tapi lama kelamaan kita malah jadi terbawa suasana. Dan ya ... keterusan."

Jemari Jeno terkepal kuat di bawah meja, bahkan rahangnya nampak mengeras sekarang. Siyeon yang melihat itu tersenyum dalam hati sebelum kemudian memajukan wajahnya untuk bicara dengan pemuda itu dengan suara lirih agar mereka saja yang bisa mendengarnya.

"Itu cuma versi singkatnya. Lo mau gue ceritain secara detail malam panas kita?"

"BRENGSEK!"

Bentakan Jeno yang lumayan keras  mengundang tatapan heran dari orang sekitar, Siyeon sih santai saja. Malah sekarang dia mendongak menatap pada mata Jeno yang berkilat marah di hadapannya.

"Satupun ucapan lo nggak ada yang bisa gue percaya."

"Terus untuk apa lo minta gue jelasin kalau pada akhirnya lo juga nggak bakalan percaya?" Siyeon ikut berdiri, berhadapan langsung dengan Jeno yang hanya terpisah meja bundar di tengah mereka. "Berhenti denial, Lee Jeno. Kita udah ngelakuin sesuatu yang nggak seharusnya kita lakukan sebagai teman, buktinya juga udah jelas. Dan Lyla pun melihatnya."

Tangan Jeno semakin terkepal saat Siyeon menyebut nama Lyla, membuat gadis di depannya kembali tersenyum. Slingbag di atas meja itu Siyeon ambil, sebelum kemudian berjalan pergi melewati tubuh Jeno yang masih berdiri mematung. Namun sebelum benar-benar pergi, Siyeon berhenti sejenak di samping Jeno lalu berbisik di telinganya.

"Oh iya, satu lagi. Malam itu lo lupa pakai pengaman."

Setelahnya, gadis itu tertawa.

Setelahnya, gadis itu tertawa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Two Sides ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang