Typo
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading!!
"Maafkan aku karena tidak bisa mempertahankannya."
"Jika kau berpikir sia-sia saja bertahan selama ini karena kejadian ini aku minta maaf. Tapi bagaimanapun kau sudah menjadi wanita hebat bagiku karena sudah mau bertahan meski mungkin kau sangat membenciku."
"Aku yang memintamu mempertahankannya tapi setelah kau bertahan aku malah tak bisa membuatnya bertahan. Maafkan aku karena ini kau harus menunda pendidikanmu. Setelah ini kau bisa melanjutkannya tanpa gangguan dariku lagi karena aku akan pergi dari hidupmu."
"Sekali lagi maafkan aku, meski hanya sebentar, tapi aku bahagia bersamamu apalagi saat kehadirannya, dan aku juga berterimakasih karena kau mau memberikan ia sesuatu yang menjadi haknya meski aku tau mungkin kau juga terpaksa melakukannya, sama seperti saat kau bertahan untuknya. Tapi tak apa, yang penting dia tetap bisa terhubung denganmu."
"Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik, aku akan doakan semoga kamu mendapatkan kebahagian yang kamu inginkan selama ini. Jangan melakukan sesuatu yang akan membuat orangtuamu khawatir lagi, mereka sangat menyayangi anak2 mereka."
.
.
.
.
.
03.05 am
Jessica terbangun dengan nafas memburu, sedikit keringat turun disela pelipisnya. Ia melihat jam di nakas.
"Jam tiga pagi? Kenapa dadaku terasa sesak." Ia memegang dadanya lalu beralih pada pipinya karena sesuatu mengalir.
Dihapusnya air mata yang menuruni pipinya itu dengan perasaan heran. "Kenapa aku bisa menangis? Kenapa ini?"
Kepalanya juga terasa sedikit berdenyut, ia memijit sedikit pangkal hidungnya agar mengurangi denyutan itu.
Tok tok tok...
"Aunty ini Jennie. Apa aunty Sica udah bangun? Jennie boleh masuk nggak." Terdengar suara Jennie yang serak.
"Aunty hikss Jennie boleh masuk kan?" Jessica mengerutkan keningnya saat mendengar isakan kecil dan suara gemetar Jennie.
Klik...
Pintu terbuka. Jennie yang memang tengah terisak langsung mengadah dan kemudian berhambur memeluk kaki Jessica membuat wanita itu terkejut.
"Hei kenapa? Apa kamu mimpi buruk lagi?" Jessica bertanya berusaha menghilangkan rasa sesak yang ia alami sebelumnya.
"Jennie takut aunty. Hiksss..."
Jessica melepas pelukan Jennie pada kakinya lalu ia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan gadis itu.
"Mimpi apa? Kenapa sampai menangis?" Ia berusaha selembut mungkin mencoba mengenyampingkan ego dan hatinya yang keras terhadap kehadiran anak-anak.
"Hiksss Jennie mimpi kalau Jennie mau dibuang sama eomma, Jennie mimpi kalau eomma benci sama Jennie. Hiksss... Eomma Seo nggak gitu kan aunty? Eomma Seo nggak akan buang Jennie kan?"
Jessica terdiam mendengar ucapan Jennie, ia menatap intens gadis kecil yang tengah menangis itu. Jelas sekali kalau ia ketakutan akan mimpinya.
"Setidaknya beri kesempatan untuknya hidup, jangan membunuhnya karena ia tak bersalah."
"Jika kau mau mempertahankannya dan memberinya kesempatan untuk hidup. Aku janji akan merawatnya dan menjauh darimu jika kau membenci kami. Tapi aku mohon jangan sakiti dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Chance
Random"Siapa gadis kecil yang kau bawa appa?" "Namanya Jennie Ruby Jane Kim mulai sekarang dia tinggal bersama kita karena dia akan menjadi cucu appa." "Whaaat?!!." Kaget mereka . . . . . . . 》♡《Kesempatan tak terduga pada Jessica Jung yang membuatnya ha...
