Setelah merasa kepalanya tidak terjadi apa-apa, Aster segera beranjak pergi ke perpustakaan. Ia benar-benar hampir lupa dengan tujuan utamanya untuk meminjam buku. Gara-gara cowok nyebelin tadi.
Aster melangkahkan kakinya masuk ke dalam perpustakaan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan perpustakaan yang lumayan besar. Di dalam sudah banyak siswa-siswi yang sedang membaca buku, mencari-cari buku di rak, bahkan ada yang tidur dengan buku sebagai bantalnya.
Semua buku berjejer rapi di rak buku, dari atas hingga bawah. Aster berjalan ke kanan dan ke kiri untuk mencari buku sejarah Jepang. Sulit sekali mencari buku itu. Daritadi tidak ketemu-ketemu.
Aster berjalan pelan-pelan ke arah kanan, sambil mendongakkan kepalanya ke atas untuk melihat buku yang ia cari, siapa tahu ada di rak atas. Tanpa sengaja ia menginjak kaki seseorang.
"Aduh!" Orang itu meringis kesakitan.
Aster terlonjak kaget saat mendengar suara tersebut, karena ia tidak tahu kalau ada orang yang sedang duduk di bawah.
"Maaf, gue nggak sengaja. Lo nggak papa kan?" tanya Aster.
"Kaki gue sakit," ucap Cantika.
Aster mengulurkan tangan kanannya. "Sini gue bantu berdiri."
"Nggak usah, gue bisa berdiri sendiri," tolak Cantika yang masih duduk bersila di lantai.
Aster merasa bersalah dengan Cantika. Tapi ia memang benar-benar tidak sengaja telah menginjak kakinya.
"Yah! Gue kalah!" Cantika melempar ponselnya ke lantai dan mengerucutkan bibirnya. Sepertinya ia sangat kesal.
Aster dibuat kaget yang kedua kalinya. Setelah melihat Cantika melempar ponselnya ke lantai, beberapa pertanyaan sudah tergiang di kepala Aster. Kenapa Cantika melempar ponselnya? Kalah karena apa?
"Ponsel lo kenapa lo lempar?" tanya Aster.
"Gue kalah main game. Ini gara-gara lo yang nginjak kaki gue. Jadi nggak fokus, deh mainnya." Cantika berdecak kesal.
"Maaf, gue tadi kan nggak sengaja. Lagi pula ini perpustakaan, tempat untuk membaca buku. Bukan untuk bermain game," ujar Aster.
Cantika langsung berdiri dari duduknya. Lalu ia mengambil ponselnya yang sempat ia lempar tadi.
"Iya, gue tau ini perpustakaan," ucap Cantika.
"Nah, kalau lo udah tau ini perpustakaan, kenapa lo main game di sini?" Aster balik bertanya.
"Suka-suka gue lah. Yang penting gue happy," ujar Cantika sambil berkutik dengan ponselnya.
Tunggu dulu. Daritadi Aster masih sedikit belum connect tentang game itu apa. Walaupun ia sudah menyebutkan kata bermain game, tetap saja masih ada sesuatu yang dipertanyakan. Maklum, ia hanya connect tentang rumus trigonometri saja.
"Kalau boleh tau, game itu apaan sih?" tanya Aster.
Cantika yang mendengar pertanyaan dari Aster langsung tertawa.
"Lo nggak tau game itu apa?" Aster hanya menggeleng pertanda ia tidak tahu.
Cantika menahan tawanya sambil berkata, "Lo kalau jadi orang jangan terlalu ndeso."
Cantika sudah tak kuasa untuk menahan tawanya. Daripada kena dosa karena menertawakan orang, akhirnya ia langsung berjalan keluar meninggalkan Aster yang terdiam di tempat.
Aster menatap kepergian Cantika sambil berkata, "Apa gue memang terlalu ndeso, ya?"
****
Kerumunan para siswa-siswi sangat padat sekali seperti menunggu antrian pembagian sembako dari pemerintah. Mereka sedang memesan makanan dan minuman untuk mengisi perutnya yang kosong.
Aster celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri. Mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kantin. Ia mencari keberadaan Mentari, tetapi tak kunjung bertemu.
"Mentari kemana, sih?" tanya Aster pada dirinya sendiri.
Kemudian ia melangkahkan kakinya dengan pelan-pelan, dan membelah kerumunan para siswa-siswi di kantin. Aster masuk di tengah kerumunan yang membuat ia malas untuk ke kantin. Pasalnya sangat ramai sekali. Kalau bukan untuk menyusul mentari di kantin, ia sudah ogah-ogahan pergi ke kantin.
"Ini manusia atau pasukan semut, sih? Banyak banget," gumam Aster.
"Aster!" panggil Mentari sambil melambaikan tangannya ke arah Aster.
Aster yang mendengar suaranya dipanggil langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut. Dan ternyata Mentari berada di meja paling ujung di dekat jendela.
Aster langsung berjalan menghampiri Mentari.
"Ternyata lo ada di sini. Daritadi gue cari nggak ada," kesal Aster.
Mentari terkekeh pelan. "Seperti biasa gue kalau ke kantin selalu duduk di dekat jendela. Apa lo lupa?"
"Gue baru ingat sekarang. Pasalnya kantinnya rame banget, jadi nggak kelihatan. Kalau gue nggak janji sama lo untuk nyusul ke kantin, gue nggak bakal ke kantin. Rame," kata Aster.
"Kalau memang nggak janji, lo bakal nggak ke kantin juga?" tanya Mentari.
"Tergantung. Lihat dulu situasinya. Kalau sepi, datang ke kantin. Kalau rame, nggak datang ke kantin," jelas Aster.
Mentari mengaduk jus jeruknya sambil berkata, "Gini, ya punya sahabat yang otaknya ada isinya, kalau menentukan sesuatu selalu dipertimbangin."
"Harus, dong."
Aster segera duduk di kursi sebelah Mentari. Ia membuka buku sejarah Jepang yang ia bawa dari perpustakaan tadi. Ia membolak-balikkan setiap kertas untuk mencari bab penting yang ingin ia baca.
"Lo nggak pesan makanan?" tanya Mentari.
"Gue nggak lapar. Nanti kalau gue udah lapar baru pesan makanan," jawab Aster.
Mentari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sudah hafal dengan kebiasaan Aster. Kalau belum lapar ia tidak makan dan menunggu dulu sampai ia lapar, baru mau makan.
"Jadi harus menunggu lapar dulu, baru pesan makanan?" tanya Mentari.
Aster mengangguk-nganggukkan kepalanya sambil membaca bukunya. Kemudian Mentari melanjutkan memakan baksonya yang sempat ia tunda.
Setelah selesai membaca kalimat yang terakhir, Aster langsung menutup bukunya dan meletakkan di atas meja. Ia teringat suatu hal yang ingin ia ceritakan kepada Mentari.
Aster mencolek bahu Mentari. Lalu Mentari menoleh ke arahnya.
"Ada apa? Lo udah lapar?" tanya Mentari.
"Enggak, gue belum lapar. Gue cuma mau menceritakan suatu kejadian yang menimpa gue ketika berjalan ke perpustakaan tadi," kata Aster.
Mentari yang penasaran dengan cerita Aster langsung mengubah posisi duduknya menghadap ke arah Aster.
"Kejadian apa? Lo tertimpa apa?" tanya Mentari yang sudah tidak sabar ingin mendengar ceritanya.
Aster menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Lalu menceritakan semua kejadian yang menimpanya beberapa menit yang lalu. Ketika ia berjalan melewati lapangan bola voli sampai ia mencari buku di rak dan menginjak kaki seseorang.
Mentari hanya melongo saat Aster menceritakan kejadian yang dialaminya hari ini.
"Gitu ceritanya. Untung kepala gue nggak kenapa-napa. Kalau terjadi apa-apa dengan kepala gue, apalagi sampai bocor. Bakal gue tuntut itu cowok nyebelin," kesal Aster.
"Emangnya cowok yang melempar bola voli ke kepala lo siapa?" tanya Mentari merasa penasaran.
"Nah, itu dia. Gue nggak tau namanya," ujar Aster.
Mentari menepuk jidatnya sendiri. Aneh-aneh saja cerita dari sahabatnya yang satu ini. Mentari merasa ingin tertawa, tapi ia juga merasa kasihan. Pasti kepalanya sakit sekali saat kena pukulan bola voli yang lumayan berat. Berbeda dengan bola futsal yang sedikit ringan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perahu Aster
Teen FictionAster Aleisha Castarica, seorang gadis cantik yang dilahirkan di tengah keluarga yang memiliki segalanya. Setelah kejadian yang menimpanya sepuluh tahun yang lalu, semua kehidupannya menjadi berubah. Aster menjadi anak dari keluarga sederhana dan ti...
