Sendari tadi Aster terus bertanya tapi tak digubris oleh Mentari. Hingga langkah mereka berhenti di rooftop sekolah. Mentari menatap Aster dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Aster menjadi bertambah bingung kenapa Mentari membawanya ke sini. Di sisi lain ia mendapat tuduhan mencuri yang membuatnya bertambah kepikiran.
"Lo bisa bilang ke gue, kalau lo butuh uang. Bukan kayak gini caranya," sungut Mentari.
"Tar, gue nggak mencuri," ujar Aster.
"Kalau lo memang nggak mencuri harusnya ada bukti."
Aster menatap Mentari dengan lekat.
"Lo nggak percaya sama gue Tar? Lo memang udah nggak percaya lagi sama sahabat lo sendiri?" tanya Aster.
"Bukannya gue nggak percaya sama lo. Tapi gue hanya butuh bukti dari diri lo sendiri."
Mentari membalikkan tubuhnya dan menatap pemandangan di rooftop. Ia sebagai bagian anggota Osis juga merasa marah. Sebab ada salah satu siswa yang masuk ke ruang Osis, padahal tidak diperbolehkan untuk memasuki ruangan. Dan Aster sudah berani masuk ke sana.
"Gue bisa jelasin. Gue masuk ke ruang Osis hanya untuk ngasih ponsel lo yang ketinggalan. Setelah itu gue langsung keluar dan nggak menyentuh benda-benda yang ada di ruang Osis itu," jelas Aster.
Mentari menoleh ke arah Aster yang berdiri di belakangnya.
"Terus siapa yang ngizinin lo masuk?" tanya Mentari.
"Adik kelas. Ya, dia baru aja keluar dari ruang Osis dan gue tanya sama dia apakah lo ada di dalam. Lalu dia ngizinin gue masuk untuk ngasih ponsel lo."
"Kenapa nggak lo titipkan ke adik kelas itu?"
Aster merasa terpojokkan dengan pertanyaan Mentari. Ia tadi tidak kepikiran sampai situ. Andai saja ia titipkan ke adik kelas tadi, pasti ia tidak akan dituduh.
"Kenapa?"
"G-gue nggak kepikiran...."
"Lo bisa bawa ponsel gue. Setelah gue selesai kumpulan Osis lo bisa kan kasih ke gue?" potong Mentari.
Aster hanya bisa diam.
"Gue tau ponsel gue ketinggalan. Gue pikir ada lo di kelas ponsel gue pasti akan lo simpan dulu."
"Maaf Tar," lirih Aster dengan muka tertunduk ke bawah. "Gue tau, gue salah. Tapi untuk masalah mencuri itu bukan gue yang nglakuin."
Mentari berjalan ke arah Aster lalu memegang bahunya. Sedangkan Aster mendongakkan kepalnya menatap Mentari.
"Lo pasti bisa menyelesaikan masalah ini. Buktikan kalau memang lo tidak bersalah dan bukan lo yang mencuri dompet Surya."
"Satu lagi, hati-hati dengan ketua Osis Trijaya Manggala. Dia bisa ngelakuin apa aja ke lo," peringat Mentari.
Aster mengangguk mengerti.
"Mentari, lo nggak marah kan sama gue?" tanya Aster merasa takut.
"Wajar sih kalau gue marah ke lo. Tapi gue cuma kecewa aja. Tapi gue yakin lo adalah orang yang baik," ujar Mentari sembari tersenyum tipis lalu berjalan pergi dari rooftop karena masih ada urusan penting.
Aster menatap kepergian Mentari yang sudah menghilang di balik pintu rooftop.
"Gue harus mencari bukti-bukti bahwa bukan gue yang mencuri dompet itu."
*****
Seusai pulang sekolah Samudra mengajak Aster pergi ke kedai es krim yang letaknya tidak jauh dari SMA-nya. Mungkin sekitar dua meter saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perahu Aster
Teen FictionAster Aleisha Castarica, seorang gadis cantik yang dilahirkan di tengah keluarga yang memiliki segalanya. Setelah kejadian yang menimpanya sepuluh tahun yang lalu, semua kehidupannya menjadi berubah. Aster menjadi anak dari keluarga sederhana dan ti...
