Beberapa minggu ini Aster sudah sangat ambis. Bahkan gadis itu sampai melupakan dirinya sendiri yang terkadang telat untuk makan. Ya, demi nilai Aster rela mempertaruhkan dirinya sendiri.
Jam istirahat sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Aster tak berniat untuk pergi ke kantin. Gadis itu berjalan menyusuri koridor kelas hingga berhenti di depan gedung perpustakaan. Tak ada bosan-bosannya Aster mengunjungi perpustakaan.
"Aster tunggu!"
Aster menghentikan langkahnya. Ia tak jadi masuk ke dalam perpustakaan. Aster membalikkan tubuhnya dan melihat Samudra sedang berjalan menuju ke arahnya.
"Lo mau ke perpus lagi?" tanya Samudra.
Aster mengangguk. "Iya."
"Gue boleh minta tolong nggak?"
"Minta tolong apa?"
"Bantuin gue ngerjain tu...."
"Nggak mau," sahut Aster dengan cepat. Ia sudah tahu tujuan dari ucapan Samudra. Kemudian ia berjalan masuk meninggalkan Samudra.
Sementara cowok itu langsung berjalan mengejar Aster yang sudah masuk ke dalam perpustakaan.
Suasana di dalam perpustakaan sangat sepi, tak ada orang yang berkunjung selain Aster sendiri.
Aster mencari tempat duduk yang nyaman untuk belajar. Ia memasang timer di ponselnya agar ia tahu batas waktu belajarnya agar tak kebablasan.
Suara derap langkah menuju tempat di mana Aster sedang belajar. Dengan santainya Samudra langsung menggeser kursi di sebelah Aster dan mendudukinya.
Cowok itu masih diam tak membuka suara sambil memperhatikan Aster yang sedang membaca buku.
"Gadis ini memang berbeda dari yang lain."
Lima menit telah berlalu, Samudra baru membuka suara.
"Lo mau kan bantuin gue ngerjain tugas?"
Pertanyaan Samudra tak mendapat respon dari Aster. Sendari tadi gadis itu terfokus ke bukunya dan tak menghiraukan keadaan di sekitarnya.
"Kok diam aja Ter. Jawab kek."
Tetap saja Aster tak merespon ucapan Samudra. Terdengar helaan napas panjang yang keluar dari hidung Samudra.
Dengan beraninya Samudra mengambil buku yang sedang dibaca oleh gadis yang duduk di sampingnya.
Sontak Aster menatap Samudra dengan tajam.
"Lo ngapain ngambil buku gue? Sini balikin!"
"Enggak akan gue balikin sebelum lo menjawab pertanyaan gue tadi," kata Samudra sembari menjauhkan buku yang ia pegang agar Aster tak bisa mengambilnya
"Pertanyaan apa?"
"Bantuin gue ngerjain tugas," ucap Samudra.
"Gue bukan pembantu lo."
"Plis, gue butuh bantuan lo." Samudra menyatukan kedua tangannya memohon kepada Aster agar mau membantunya.
"Ngerjain sendiri emang nggak bisa?" Aster balik bertanya.
"Gue nggak ada waktu buat ngerjain."
"Gue juga nggak ada waktu buat bantu lo."
Kalah telak dengan ucapan Aster. Samudra langsung terdiam.
Memprioritaskan diri sendiri itu penting. Itu sebuah kata yang Aster pegang agar ia tak lalai dengan semua tugasnya sendiri.
Sebenarnya ia juga mau-mau saja untuk membantu sekali dua kali. Namun jika orang yang dibantu tak pernah berusaha sendiri dan terus meminta pertolongannya hingga sepuluh kali lebih. Permintaan bantuannya patut ditolak, karena bisa dianggap tak mau berusaha. Dan selalu mengedepannya orang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perahu Aster
Teen FictionAster Aleisha Castarica, seorang gadis cantik yang dilahirkan di tengah keluarga yang memiliki segalanya. Setelah kejadian yang menimpanya sepuluh tahun yang lalu, semua kehidupannya menjadi berubah. Aster menjadi anak dari keluarga sederhana dan ti...
