"Ibu percaya kan sama Aster?"
Nuri menghembuskan napas pelan dan membaca kembali isi surat itu dengan baik-baik. Nuri beralih menatap Aster yang sudah membendung air mata.
"Percaya tidak percaya Ibu pasti percaya sama kamu," kata Nuri.
Aster dapat bernapas lega. Ibunya mempercayainya kalau Aster memang tidak mencuri.
"Tapi kamu harus mencari bukti bahwa kamu tidak bersalah. Kalau tidak begitu, kamu akan terus disalahkan dan dijadikan tersangka."
Aster menganggukkan kepalanya.
"Iya Bu, Aster akan berusaha mencari buktinya," ucap Aster dengan yakin.
Kemudian Nuri beralih menatap Mentari yang masih berdiri di depannya.
"Mentari."
"Iya Tante."
"Surat ini saya bawa dulu. Besok biar Aster yang membawanya ke sekolah," ujar Nuri.
Mentari mengangguk.
"Baik Tante. Kalau gitu Mentari pamit pulang ya, Tante." Nuri mengangguk sembari tersenyum.
"Gue pulang dulu Ter," pamit Mentari.
"Iya hati-hati di jalan."
Kini tinggal Aster dan Nuri, keduanya sama-sama diam. Aster memikirkan bagaimana ia mencari bukti yang valid. Sedangkan Nuri masih menimbang-numbang, apakah ia akan menandatangani surat peringatan itu atau tidak?
******
Burung-burung baru saja melipat selimutnya, Samudra sudah datang pagi untuk menjemput sang pacar. Cowok itu memarkir sepeda motornya di dekat gang.
Sambil menunggu Aster tiba, ia memilih untuk bermain game.
Setelah satu jam berlangsung, akhirnya Aster berjalan keluar dari gang kompleks dan menghampiri Samudra yang sedang duduk di atas motornya.
"Udah lama nunggu di sini?" tanya Aster. Lalu Samudra mendongakkan kepalanya melihat kedatangan Aster.
"Nggak lama kok. Paling sekitar satu jam," jawab Samudra.
"Maaf Dra udah buat lo nunggu lama," ucap Aster merasa bersalah.
"Nggak papa Sha. Ini udah tugas gue sebagai pacar lo," sahut Samudra sambil memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Lo jemputnya jangan terlalu pagi, Dra."
"Mau gue jemput jam sembilan siang?"
"Nggak mau, yang ada gue dihukum."
Samudra langsung terkekeh pelan. Lalu menyalakan mesin motornya.
"Yuk berangkat."
******
Mulai masuk kelas pelajaran dimulai sampai bel istirahat berbunyi, Mentari diam saja dan tak banyak berbicara. Sepertinya Mentari sedang mendiamkan Aster.
Aster berkali-kali melihat Mentari yang duduk di sebelahnya tak kunjung mengajaknya berbicara. Ada apa ya?
"Mentari," panggil Aster membuka suara.
"Hmm."
"Lo kenapa?"
"Nggak papa."
Tidak apa-apa, jawaban yang selalu sering orang katakan jika ada sesuatu yang disembunyikan ataupun ada masalah pada dirinya.
"Lo marah sama gue? Gue salah apa Tar?" tanya Aster.
Aster takut jika sahabatnya marah kepadanya soal dirinya yang masuk ke ruang Osis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perahu Aster
Teen FictionAster Aleisha Castarica, seorang gadis cantik yang dilahirkan di tengah keluarga yang memiliki segalanya. Setelah kejadian yang menimpanya sepuluh tahun yang lalu, semua kehidupannya menjadi berubah. Aster menjadi anak dari keluarga sederhana dan ti...
