Setelah proses pemakaman selesai, Aster baru sadarkan diri. Matanya begitu sembab, dadanya masih terasa sesak. Ia masih terbayang-bayang si jago merah yang melahab semua harta benda yang ada di dalam rumah tersebut, termasuk Ibunya.
Aster melihat ke sekeliling ruangan bernuansa putih yang nampak asing baginya.
"Gue ada di mana?" lirih Aster.
Pintu terbuka dan terlihat seorang wanita paruh baya yang berjalan masuk ke dalam ruangan.
"Nak Aster sudah sadar?" tanya wanita itu.
Aster menganggukkan kepalanya.
"Sudah."
"Syukurlah kalau sudah sadar." Wanita itu langsung bernapas lega sambil mengambil segelas air putih. "Nak Aster minum dulu, ya."
Aster menerima gelas itu lalu meminumnya sampai habis.
"Saya ada di mana?" tanya Aster.
"Kamu ada di klinik, Nak. Tadi kamu sempat pingsan di tempat kebakaran tadi. Jadi saya bawa Nak Aster ke sini," jelas wanita itu.
Aster hanya manggut-manggut saja. Kemudian ia teringat tentang keberadaan Ibunya.
"Ibu saya ada di mana, Bu?" tanya Aster kepada wanita itu.
"Ibu kamu sudah tenang di Surga, Nak."
"Maksudnya? Ibu saya tidak bisa diselamatkan?"
Wanita itu langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Nak."
Bulir-bulir bening kembali berjatuhan membasahi pipinya. Ia tidak menyangka peristiwa kebakaran itu berhasil merenggut nyawa Ibunya dan pergi untuk selama-lamanya. Benar-benar sangat tidak bisa diduga apalagi untuk diprediksi.
Aster segera turun dari tempat tidurnya. Sedangkan wanita paruh baya yang berdiri di sampingnya langsung bertanya, "Nak, kamu mau ke mana?"
"Saya mau pergi ke makam Ibu saya," jawab Aster.
"Ini sudah malam, Nak. Sebaiknya kamu pergi besok saja, ya."
Aster langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, saya harus ke sana sekarang."
"Tapi ini sudah malam."
"Saya tidak peduli ini siang ataupun malam. Yang terpenting saya bisa melihat Ibu saya sekarang." Aster tetap kekuh untuk pergi ke makam.
"Tapi Nak...."
Wanita itu tak melanjutkan ucapannya karena saat itu juga Aster langsung berlari keluar untuk pergi ke makam Ibunya.
******
Aster duduk di samping makam Ibunya dengan air mata yang terus berjatuhan. Lalu Aster meletakkan bunga mawar putih yang ia bawa di atas makamnya.
Hatinya sangat terpukul atas peristiwa yang terjadi hari ini. Bahkan ia sendiri tidak bisa mengucapkan salam perpisahan untuk yang terakhir kalinya. Kejadiannya memang begitu cepat.
"Bu." Aster menatap batu nisan yang bertuliskan nama Ibunya, Nuri.
"Kenapa Ibu pergi tanpa pamit sama Aster? Katanya Ibu mau mengantar Aster untuk bertemu Mama dan Papa. Tapi ternyata Ibu sendiri pergi ninggalin Aster."
"Sekarang Aster sendirian dan nggak punya siapa-siapa lagi. Bahkan rumah pun Aster juga nggak punya."
"Aster harus gimana Bu? Aster udah nggak punya kesempatan lagi untuk ikut tes beasiswa ke luar negeri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Perahu Aster
Teen FictionAster Aleisha Castarica, seorang gadis cantik yang dilahirkan di tengah keluarga yang memiliki segalanya. Setelah kejadian yang menimpanya sepuluh tahun yang lalu, semua kehidupannya menjadi berubah. Aster menjadi anak dari keluarga sederhana dan ti...
