"Tolong kerjain PR fisika gue," pinta Samudra.
"PR?" tanya Aster sekali lagi.
Samudra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara Aster menghembuskan napasnya panjang, lalu mengambil botol aqua yang berada di atas meja dan meminumnya.
"Lo nggak bisa ngerjain sendiri?"
"Gue lagi sibuk latihan voli, jadi nggak sempat buat ngerjain," ucap Samudra
"Sesibuk-sibuknya dengan kegiatan lo sehari-hari. Kewajiban seorang siswa itu adalah belajar dan salah satunya yaitu wajib mengerjakan PR di rumah."
"Sehabis latihan voli gue pasti capek dan butuh istirahat. Nggak mungkin dong gue harus ngerjain PR," ujar Samudra.
"Dasar anak pemalas," tuduh Aster.
"Gue nggak males, tapi capek."
"Sama aja."
"Lo bantuin gue ngerjain PR ya, please!" Samudra memohon kepada Aster agar mau mengerjakan PR fisikanya.
Aster diam sejenak. Aster masih menimbang-nimbang apakah ia harus membantu mengerjakan PR atau tidak. Jika iya, maka Aster akan punya urusan lagi dengan Samudra. Tapi jika tidak, ia akan terus dimintai pertolongan oleh Samudra.
Enaknya menolak atau tidak?
"Gimana lo mau kan bantu gue?"
"Gue bakal dapat apa kalau membantu mengerjakan PR lo?"
"Lo boleh makan sepuasnya di kantin ini," kata Samudra dengan enteng.
"Gue nggak hobi makan," ujar Aster.
Memang benar, Aster tak suka beli makanan banyak. Beli jajan di kantin dalam seminggu aja bisa dihitung. Mungkin satu sampai dua kali saja. Kalau tidak ingin banget makan makanan tersebut ia tidak ingin beli.
"Terus lo mau apa?"
"Uang satu milyar," ucap Aster dengan tak berdosanya.
"Gila lo mau memeras gue?"
"Mengerjakan sesuatu itu harus dapat imbalan. Salah satunya ya itu tadi. Percuma dong capek-capek ngerjain kalau nggak ada imbalannya," kata Aster.
"Ya nggak harus uang sebanyak itu."
"Yaudah kalau nggak ada imbalannya. Gue nggak mau ngerjain tugas lo."
"Membantu orang itu harus dengan ikhlas dan tak mengharapkan imbalan," jelas Samudra.
"Pokoknya gue nggak mau," tegas Aster.
Enak saja main menyuruh orang lain untuk mengerjakan PR-nya. Punya tangan dan otak gunanya untuk apa kalau bukan buat menulis dan berpikir. Kalau tidak digunakan otak itu akan mati dan lemot buat berpikir.
Samudra tak akan memaksa Aster lagi. Kalau Aster tidak mau ya sudah tidak apa-apa. Tapi Samudra punya cara lain agar PR-nya bisa selesai.
"Kalau lo nggak mau, its okay," ucap Samudra.
Aster hanya mengangguk saja. Lalu dari kejauhan ada seseorang yang sedari tadi memerhatikan mereka berdua. Dan mereka tak mengetahuinya.
"Mereka berdua terlihat akrab banget. Kayaknya Samudra udah move on dari gue."
******
Banyak siswa-siswi yang berlalu lalang di koridor kelas. Ada yang pergi ke kantin, pergi ke toilet, bahkan hanya sekedar jalan-jalan saja memutari sekolah bersama kawan-kawannya.
"Selamat siang Aster," sapa Langit yang kebetulan lewat di koridor.
"Siang juga," jawab Aster sembari berjalan masuk ke dalam kelasnya. Namun saat ia baru menginjakkan kakinya di ambang pintu kelas. Langit lebih dulu menarik lengan Aster.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perahu Aster
Teen FictionAster Aleisha Castarica, seorang gadis cantik yang dilahirkan di tengah keluarga yang memiliki segalanya. Setelah kejadian yang menimpanya sepuluh tahun yang lalu, semua kehidupannya menjadi berubah. Aster menjadi anak dari keluarga sederhana dan ti...
