Perahu Aster 59

29 0 0
                                        

Cowok bertubuh tinggi itu duduk di pinggir lapangan memandang ke depan. Tidak ada panas matahari, yang ada hanya mendung. Mungkin matahari sedang malas melihat sosok orang yang sedang patah hati.

Samudra menghembuskan napasnya. Merutuki nasibnya saat ini. Mengingat Feri yang sudah tidak selalu ada untuknya melainkan terkurung di penjara membuat dirinya ingin saja membenci Feri.

Namun Feri masih sebagai ayah kandungnya sendiri, tidak mungkin ia harus membenci ayahnya sendiri. Mungkin perasaan kecewa pasti ada.

"Woi! kenapa lo ngelamun aja?" tanya Langit yang berdiri di sebelahnya.

"Nggak papa."

"Pasti ini ada apa-apanya. Lo putus cinta sama Aster kan?" tebak Langit.

Samudra langsung mendongak ke atas menatap Langit.

"Kok bisa tau?"

Langit tertawa renyah.

"Bisalah gue kan punya ilmu menerawang keadaan hati manusia dan punya indra ke seratus."

Samudra hanya bergidik ngeri.

Kemudian Langit ikut duduk di sebelah Samudra dan memandang ke arah lapangan.

"Kenapa lo bisa putus sama Aster? Padahal gue udah dukung lo pacaran sama Aster."

Samudra menoleh sembilan puluh derajat menatap Langit.

"Dukung gue?" Langit langsung mengangguk.

"Dulu gue dukung lo karena lo satu-satunya orang yang diterima oleh Aster. Gue ikut seneng lihat lo sama dia selalu bahagia bersama. Meskipun bahagianya bukan bersama gue. Lo ingat kan waktu tujuh bulan yang lalu?"

Samudra mengangguk mengingat kejadian saat Aster memberikan keputusan menerima cintanya.

"Kenapa lo bisa putus sama dia?" Langit terus bertanya.

"Karena gue adalah beban di hidupnya. Setiap gue bersamanya selalu ada masalah yang menimpanya. Karena gue juga dia jadi kecewa dan membenci gue."

"Pantesan waktu dia kena musibah lo nggak ada. Lo ke mana aja hah? Lo nggak tau betapa hancurnya dia waktu itu. Bego banget lo jadi cowok. Nemenin pacarnya aja nggak bisa." Rahang Langit mulai mengeras tangannya terkepal kuat.

"Sampai dia tinggal sementara di rumah gue," tambah Langit.

"Tinggal di rumah lo?" Samudra membulatkan kedua matanya.

"Iya karena dia nggak punya rumah."

Samudra langsung menundukkan kepalanya ke bawah. Cowok macam apa dia menemani pacarnya saja tidak bisa. Bahkan sampai tidak tahu kejadian kebakaran itu. Dan ia juga pernah meninggalkan Aster di depan cafe waktu itu. Seharusnya ia menanyakan apa yang terjadi, tapi malah pergi demi cewek lain yang tidak penting.

Ini semua memang salah Samudra sendiri. Tidak bisa membuat bahagia pacarnya, tapi malah membuatnya terbebani.

"Maaf gue memang benar-benar nggak tau."

******

Mentari mengajak Aster untuk makan di kantin yang sebenarnya Aster berkali-kali menolak untuk ke kantin karena tidak punya cukup uang. Tapi akhirnya Aster mau ke kantin karena Mentari yang akan membayar makanan yang dipesan oleh Aster.

"Thanks Mentari," ucap Aster sambil menyendok bakso di mangkuk.

"Iya. Lo jangan sungkan-sungkan kalau sama gue. Gue kan sahabat lo." Aster mengangguk sembari tersenyum.

"Aster!" panggil Cantika dari kejauhan. Kemudian ia berlari menuju meja paling ujung.

"Gue cari lo di kelas, di perpus bahkan di toilet pun nggak ada. Ehh, ternyata lo ada di sini," ujar Cantika sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan.

Perahu AsterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang