Aster menikmati pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Tempat ini terasa begitu asing bagi Aster. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Aster menyadari kalau jalan ini bukan arah jalan menuju ke rumahnya.
"Dra, ini bukan arah jalan rumah gue."
Aster menepuk-nepuk pelan bahu Samudra. Sedangkan Samudra menatap kaca spion kirinya untuk melihat Aster yang ia bonceng.
"Iya gue tau," sahut Samudra masih fokus menyetir.
"Jangan-jangan lo mau nyulik gue ya?" tuduh Aster. Ia memiliki prasangka buruk dangan Samudra.
"Lo jangan suudzon. Mana mungkin gue nyulik lo." Samudra menghentikan motornya karena lampu lalu lintas telah berwarna merah.
"Kalau nyulik hati lo, itu pasti," lirih Samudra.
"Apa?" tanya Aster yang tak begitu mendengar suara Samudra karena suaranya tak begitu jelas dan tertimpa suara bising kendaraan lainnya.
"Lampu warna hijau lama nyalanya," ucap Samudra. Sedangkan Aster hanya manggut-manggut saja.
Lima detik kemudian, lampu hijau telah menyala. Semua kendaraan kembali melaju melanjutkan perjalanan.
Kini motor Samudra berhenti di depan Restoran Ceria. Aster bingung, kenapa Samudra membawanya ke sini?
"Ngapain kita ke sini, Dra?" tanya Aster.
Samudra melepas helm-nya lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Makan. Gue laper," jawab Samudra sembari meletakkan helm-nya di kaca spion.
"Cepetan turun. Atau mau gue turunin?" kata Samudra membuat Aster langsung bergegas turun dari motornya.
"Ayo masuk," ajak Samudra.
Aster masih berdiri di tempat sambil melihat ke sebuah restoran yang berada di depannya itu. Mulutnya sedikit terbuka lebar. Ini pertama kalinya ia melihat restoran semewah ini.
Restoran Ceria, memang restoran termewah dan terfavorit dikalangan masyarakat. Banyak orang yang mengunjungi restoran tersebut. Jadi setiap hari tak pernah sepi pengunjung.
"Aster, kok malah bengong." Samudra membuyarkan lamunannya.
"Ahh iya."
Tidak ingin lama-lama Samudra langsung menggandeng tangan Aster dan berjalan masuk ke dalam restoran. Gadis itu langsung tersentak kaget ketika tangannya digandeng secara tiba-tiba.
Jantungnya berdetak cepat tak seperti biasanya. Aster menarik napasnya lalu menghembuskannya secara perlahan. Hal ini ia lakukan berulang kali, agar ia bisa tetap tenang demi keamanan jantungnya.
******
"Lo mau pesan apa, Ter?" tanya Samudra sambil membolak-balik buku menu.
Aster langsung menggeleng.
"Gue nggak pesan," ucap Aster.
Samudra langsung mendongakkan kepalanya menatap Aster yang duduk di depannya.
"Kenapa?"
"Gue nggak lapar," kata Aster dan tentunya ia berbohong.
Aster memang benar-benar lapar. Namun mengingat dirinya hanya orang biasa yang tak banyak uang, ia rela tidak membeli makanan di restoran itu. Mana bisa ia akan membeli makanan yang harganya di atas dua ratus ribu. Buat beli jajan aja masih kurang-kurang.
"Lo jangan bohong Aster. Gue tau lo belum makan," ujar Samudra.
"Lo boleh pilih menu apa aja. Nanti gue yang bayar semua." Samudra menyodorkan buku menu kepada Aster.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perahu Aster
Teen FictionAster Aleisha Castarica, seorang gadis cantik yang dilahirkan di tengah keluarga yang memiliki segalanya. Setelah kejadian yang menimpanya sepuluh tahun yang lalu, semua kehidupannya menjadi berubah. Aster menjadi anak dari keluarga sederhana dan ti...
