"Perut gue laper. Yuk, buruan ke kantin. Gue udah nggak tahan lagi."
Suara keroncongan di dalam perutnya terdengar begitu nyaring, segera minta asupan makanan. Sendari tadi Cantika merintih kelaparan sambil memegangi perutnya.
"Udah berapa tahun lo nggak makan?" tanya Aster sembari menatap Cantika.
"Kayaknya udah satu tahun," jawabnya.
"Tahan banget lo nggak makan selama berbulan-bulan bahkan sampai satu tahun," ucap Aster sambil geleng-geleng kepala, merasa prihatin.
Cantika langsung memukul lengan Aster dan membuatnya mengaduh kesakitan.
"Mana ada. Satu bulan nggak makan gue pasti udah mati. Jangankan satu bulan, satu hari aja gue udah lemes tak berdaya."
Aster langsung terkekeh pelan.
"Gue kira lo kuat nahan lapar. Kayak hewan apa ya, gue lupa namanya." Aster mengingat-ingat nama hewan yang mampu bertahan hidup tanpa makan selama berhari-hari.
"Hewan itu bisa bertahan hidup tanpa makan," tambahnya.
"Gue manusia bukan hewan," sahut Cantika membuat Aster langsung tertawa. Sementara Mentari hanya mendengar obrolan kedua temannya itu juga ikut tertawa.
"Cepetan lama banget lo," ucap Cantika tak ingin lama-lama.
"Iya bentar, sabar dulu." Aster masih mengambil buku catatan dari dalam tasnya.
"Tar, lo ke kantin nggak?" tanya Cantika.
Mentari beralih menatap Cantika.
"Ya ke kantin dong, masa enggak."
"Yuk buruan!" ajak Cantika, lalu gadis itu berjalan dulu keluar kelas. Kemudian Aster dan Mentari menyusulnya dari belakang.
******
Kantin. Tempat idaman para murid di Trijaya Manggala bahkan sangat favorit sekali. Jadi jangan kaget kalau datang ke kantin, karena ramainya mengalah-ngalahkan pasar malam.
Tiga gadis yang berjalan masuk ke kantin langsung mencari meja yang masih kosong. Kebetulan masih ada satu meja yang kosong letaknya paling ujung dekat jendela. Tiga gadis itu langsung bergegas menuju meja tersebut, sebelum orang lain mendahuluinya.
"Kalian mau pesan makanan apa? Biar gue yang pesenin," tanya Cantika.
"Gue pesen martabak telor sama es teh," kata Mentari.
"Gue basreng sama air putih," sahut Aster.
"Udah itu aja? Nggak nambah lagi?"
"Kalau lo yang bayar gue mau nambah lagi," kata Mentari dengan senyum semangat.
"Elah, ada maunya lo." Cantika langsung bergegas memesan makanan.
Aster meletakkan buku catatan yang ia bawa tadi di atas meja. Lalu ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan membuka layarnya. Aster menekan google yang berada di beranda ponselnya, ia ingin mencari referensi materi untuk menambah wawasan.
"Serius amat lo. Lagi lihat apaan?" tanya Mentari sambil mendekatkan wajahnya ke arah ponsel milik Aster untuk ikut melihatnya.
Aster mendekatkan ponselnya ke arah Mentari.
"Lagi nyari materi buat bahan referensi," kata Aster.
Mentari langsung menjauhkan wajahnya setelah melihat layar ponsel Aster. Lalu Memtari menghembuskan napas panjang.
Ia sudah menduga kalau Aster akan membuka google bukan membuka sosial media.
Derap langkah sepatu terdengar begitu terburu-buru. Saat langkah itu sampai di dekat meja tempat Aster menunggu pesanannya. Tanpa diduga, air jus langsung mengguyur buku catatan yang berada di atas meja, beserta suara gelas pecah yang jatuh membentur lantai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perahu Aster
Ficção AdolescenteAster Aleisha Castarica, seorang gadis cantik yang dilahirkan di tengah keluarga yang memiliki segalanya. Setelah kejadian yang menimpanya sepuluh tahun yang lalu, semua kehidupannya menjadi berubah. Aster menjadi anak dari keluarga sederhana dan ti...
