Perahu Aster 60

36 0 0
                                        

"Papa Mama!"

Sepasang suami istri itu menoleh ke arahnya sambil mengerutkan dahi. Memandang seorang gadis dengan pakaian lungset tanpa disetrika, langsung terkejut.

Anak siapa yang berani masuk ke dalam rumahnya? Dengan penampilan yang tidak enak untuk dipandang.

"Kamu siapa?" tanya Boy sambil menggeser kursinya ke belakang hingga berbunyi suara decitan dari kursi tersebut.

"Saya anak Papa," jawab Aster tanpa menghilangkan senyum bahagianya. Lalu berjalan mendekati Boy.

"Anak saya?"

Aster langsung mengangguk.

"Iya, saya adalah anak Papa." Aster memeluk Boy dan membuat Boy terkejut.

Boy langsung menggelengkan kepalanya tidak percaya kalau Aster adalah anaknya. Mana mungkin ia memiliki anak dengan penampilan sederhana seperti ini. Boy langsung melepaskan pelukan Aster.

"Anak saya hanya satu," elak Boy.

Sementara Arum istrinya Boy langsung berdiri dari duduknya dan menatap Aster.

"Kamu jangan mengaku-ngaku sebagai anak di keluarga ini. Sudah banyak orang yang ingin menjadi bagian dari keluarga kami. Tapi kami tau kalau mereka itu hanya ingin mengambil harta kami," kata Arum langsung pada intinya.

"Maaf saya tidak bermaksud seperti itu. Kedatangan saya ke sini untuk bertemu dengan orangtua kandung saya."

Boy dan Arum tidak akan percaya kalau Aster adalah anak kandungnya. Mereka juga tidak akan mudah percaya dengan orang yang tidak dikenal dan mengaku-ngaku sebagai anak.

"Kalau kalian tidak percaya saya akan jelasin semuanya."

"Saya tidak butuh penjelasan dari kamu," sergah Boy.

"Tolong dengarkan saya sebentar," pinta Aster.

"Sepuluh tahun yang lalu saat saya masih berumur enam tahun, saya diajak pergi jalan-jalan sama orangtua saya. Waktu itu saya pergi ke taman kota dan tiba-tiba saya diculik oleh penjahat...."

Aster menceritakan semua kejadian di masa lalunya saat detik-detik diculik hingga ia beranjak dewasa. Aster juga menunjukkan sebuah kalung pemberian Mamanya waktu ulang tahunnya yang ke lima tahun.

Setelah mendengar cerita dari Aster, Boy dan Arum langsung meneteskan air matanya. Cerita itu memang sama persis saat mereka kehilangan putrinya yang tidak dapat ditemukan.

Arum menarik tubuh Aster ke dalam pelukannya beserta suara tangisnya yang pecah begitu saja.

"Maafkan Mama, Nak. Mama kurang bisa menjaga kamu waktu kecil," ucap Arum sambil terisak.

"Nama kamu Aster kan?" tanya Boy.

Arum melepaskan pelukannya sambil menatap wajah Aster dari dekat yang sangat mirip sekali dengan saudara kembarnya.

"Iya, saya Aster Aleisha Castarica," jawab Aster. Sementara Boy langsung memeluknya dan membelai rambut Aster.

"Akhirnya anak Papa kembali lagi," ungkapnya dengan rasa bersyukur. Begitu pula dengan Arum yang sangat berterima kasih kepada Tuhan yang telah mengembalikan putrinya.

******

Dari kecil Aster belum pernah merasakan masakan Mamanya, jadi Arum yang memasak makanan untuk Aster.

"Kalau kamu mau nambah lagi nggak apa-apa ambil aja," ujar Arum sambil menyendok sayur dari mangkuk.

"Iya Bu, ehh Mama," ralat Aster karena terbiasa memanggil Ibu.

Perahu AsterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang