Selamat membaca 💙
⚪ t h a n k s t o f i x ⚪
“FIX! SUDAH JAM BERAPA INI?!”
Fix tersentak, matanya bergerak cepat menangkap jawaban jam dinding atas pertanyaan mamanya. Lelaki itu buru-buru beranjak, meninggalkan Pawpaw—kucingnya—kembali ke kamar. Dia sampai lupa kalau hari ini adalah hari Senin setelah diajak Pawpaw bermain mainan barunya yang kemarin Fix beli.
“Nah, ‘kan, nah, jadi buru-buru, ‘kan. Hati-hati!”
Fix hanya bisa memberikan cengiran tanpa rasa bersalah. Cowok itu duduk di meja makan sambil buru-buru makan nasi goreng yang mamanya siapkan, tak lupa kerupuk bawang yang tak boleh ketinggalan.
Vina hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan putranya. Dia menghela napas, kembali berkutat dengan perabot dapur kesayangan.
“Mau Mama bawain bekal, gak?”
“Boweh. Jangwan lupa kweupuk, Ma.”
“Telan dulu makanannya!”
Fix menelan dengan susah payah sembari memakai kaos kakinya. Sesekali dia masih menyempatkan diri bermain dengan Pawpaw yang menghampiri. Dasar, bagaimana bisa Fix menolak dengan wajah super duper menggemaskan itu?
“Gimana, sudah bisa jauhi Niana?” Vina melayangkan pertanyaan yang beberapa hari ini susah payah Fix hindari. Bekal yang dia siapkan sudah berada rapi di dalam tas Fix, tinggal netranya yang fokus memperhatikan gerak-gerik putranya.
“Pelan-pelan, Ma.” Fix sedikit menggerutu.
Meski mamanya mengusulkan ribuan alasan untuk Fix menjauhi Niana, otaknya pun tak mau kalah mencari ribuan elakkan. Kadang Fix merasa kasihan, jika apa yang sebenarnya Niana curhatkan padanya benar.
“Reva gimana di sekolah?”
Fix menggaruk tengkuknya, menatap piring di depan. “Baik, sih. Dia berani ngelawan Pak Rido. Bukan ngelawan, lebih tepatnya buat Pak Rido sadar. Semacam itulah.”
Vina menghela napas, mendengar nama Pak Rido saja sudah membuatnya jengah. Dari zaman kakaknya Fix bersekolah di sana, orang itu tidak berubah.
“Baguslah. Biar lebih waras BK di sekolah kamu.”
Fix tertawa canggung. Benar juga. Sampai saat ini Fix belum menceritakan panjang lebar tentang masalahnya dengan Pak Rido. Jika Fix ceritakan, mamanya pasti menaruh perhatian lebih pada Reva.
“Ya udah, Fix berangkat. Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Hati-hati.”
“Iya, Ma.” Suapan terakhir meluncur dengan mulus ke dalam mulut. Fix membelai Pawpaw untuk yang terakhir kali pagi ini, lantas bergegas keluar rumah bersiap berangkat.
Sebenarnya hanya perlu waktu lima menit Fix sampai di sekolah dengan motornya. Tinggal mencocokkan jam berangkat agar tak terjebak macet di jalan. Juga agar tak kehabisan tempat parkir di dalam.
Cuaca hari ini cukup mendung. Syukurlah, setidaknya Fix tidak akan kebanjiran seperti Senin lalu. Upacara hari ini bisa terasa lebih manusiawi sedikit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Thanks to Fix | Revisi
Teen Fiction| Fiki UN1TY | Dalam proses revisi 5 Desember "Aku adalah ceritamu yang telah lama usai." Reva meletakkan penanya di dalam saku, menutup buku diary miliknya dengan perasaan yang dia sendiri tak bisa jelaskan bagaimana. Lembar terakhir yang dia gunak...
