⚪ t h a n k s t o f i x ⚪
Reva menatap keadaan kelasnya yang hancur berantakan. Semua orang tentu saja mengeluarkan unek-uneknya karena kelas mereka jadi seperti kapal pecah. Tak lama pun Pak Rido datang bersama Reon. Beliau malah ikut pusing dan berujung marah menanyakan siapa pelakunya.
Belum dicari, tapi sudah marah-marah memang sikap yang begitu melekat di kebanyakan orang awam.
“Pak, boleh lihat rekaman CCTV?”
Di sinilah Reva sekarang, di ruang keamanan. Dia dan Pak Rido sama-sama memeriksa rekaman CCTV kemarin sekitar jam pulang sekolah. Ada seorang gadis yang mirip dengan Reva terlihat dalam rekaman itu. Sekilas karena model rambut, seragam, dan masker yang menutupi wajahnya.
“Niana?” Pak Rido menoleh, mencari penjelasan lewat Reva yang sebenarnya lebih tidak tahu menahu dari Pak Rido.
Apa ini alasan Niana mengganti potongan rambutnya? Namun, sejak kapan? Karena Reva sendiri tidak begitu memperhatikan penampilan orang lain.
“Mana lagi anak itu.” Pak Rido dibuat mengurut kening. Pusingnya bukan kepalang. “Sudah-sudah, kamu kembali ke kelas. Saya mau cari Niana.”
Reva mengangguk menurut. Dia berjalan kembali ke kelasnya, dengan beberapa spekulasi yang bisa dia simpulkan. Sampai di kelas pun ada berita baru yang meluncur sampai ke telinganya. Entah siapa yang menyebarkannya, tapi Reva berterima kasih.
“Re, lo sudah lihat belum rekaman CCTV yang lagi rame?” Titra menarik-narik rok Reva agar segera melihat apa yang dia tunjukkan. Dia sempat syok ketika secara perawakan orang itu memang mirip dengan Reva seperti yang dicantumkan. Namun, Titra kenal bagaimana Reva.
Gadis itu duduk, memenuhi keinginan Titra.
“Katanya sih ini lo. Tapi, kok, gue gak percaya? Soalnya gue hapal jelas cara lo jalan gimana.”
Jika Reva tidak pernah memperhatikan orang lain melalui penampilannya, maka sebaliknya dengan Titra. Dia mengenali seseorang sampai ke akar-akarnya karena terbiasa membalas dendam. Dengan mengetahui jelas apa pun tentang seseorang, dengan mendengar ciri-cirinya saja Titra bisa menebak.
“Sampai situ aja?”
Titra menoleh sejenak, mengangguk. “Iya. Dia cuman ada keterangan kalau ini pelaku pembunuhan. Yang bunuh Kak Jio. Mana pakai seragam SMA, model rambutnya emang mirip sih sama lo. Tapi cara jalannya alay banget. Kalau dia mau bohongin gue, dia harusnya belajar cara jalan lo gimana.”
Reva melirik sekitar, lantas dia mengeluarkan buku-bukunya untuk mulai belajar. Bukan saatnya memikirkan hal lain.
Biarkan orang-orang mulai berspekulasi tentangnya. Karena memang itulah yang Reva butuhkan. Beberapa hari ke depan akan menjadi hari yang menyenangkan.
Dikucilkan semua orang hanya karena alasan yang numpang terbawa angin lewat.
⚪ t h a n k s t o f i x ⚪
“Klar?”
Reva melirik pintu masuk. Tubuh jangkung Fix menutupi sinar matahari sesaat sebelum Reva bisa melihat ekspresi wajahnya dengan jelas. Cowok itu menarik kursi, duduk di depan Reva seperti biasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Thanks to Fix | Revisi
Teen Fiction| Fiki UN1TY | Dalam proses revisi 5 Desember "Aku adalah ceritamu yang telah lama usai." Reva meletakkan penanya di dalam saku, menutup buku diary miliknya dengan perasaan yang dia sendiri tak bisa jelaskan bagaimana. Lembar terakhir yang dia gunak...
