8 || Sakit

196 45 0
                                    

Halo.

Selamat membaca 💙

⚪ t h a n k s  t o  f i x ⚪

Bukan pemandangan aneh ketika Gama berdiam diri di gerbang belakang hanya untuk menunggu pacarnya. Satu hal yang membuat semua orang belum terbiasa adalah ketika yang cowok itu nantikan bukanlah Niana, melainkan Reva. Lesung pipi yang tercetak jelas di kedua pipi dia tampilkan dengan bangga. Seakan ini bukanlah masalah dan tidak akan menimbulkan masalah.

Perlu seisi dunia akui bahwa Gama bukanlah berandal tanpa hati. Dia melawan hanya saat dia anggap itu adalah sebuah kesalahan. Dan Gama bukanlah seseorang yang menjadikan semua masalah jadi hal yang perlu dibantai habis begitu saja.

“Pagi, Re,” sapa Gama sembari menyejajarkan langkahnya dengan Reva.

“Pagi,” balas Reva ramah. Segitu saja cukup, ‘kan?

“Gimana tadi malam? Mimpiin gue, gak?”

“Mimpinya gak terima tamu. Lagi mati lampu.”

Gama tertawa mendengar kalimat aneh yang meluncur dari bibir Reva. Aneh, tapi entah kenapa terdengar lucu di telinga Gama.

Seandainya Gama mengerti apa yang Reva maksud dengan kalimat itu, mungkin dia tidak akan memberi tawa sebagai respons. Gama tidak akan pernah mampir ke dalam mimpinya, bahkan diri Reva sendiri tidak akan. Selama mimpinya masih berupa kegelapan tanpa setitik pun cahaya.

Have a nice day. Makan bareng di kantin seperti biasa. Tenang, Niana gak bakal berani lagi ngamuk sama lo. Gue janji.” Gama mengusap puncak kepala Reva lembut, lantas dia melambai sambil melangkah menuju kelasnya sendiri.

Tugas Reva hanya tinggal menunggu Gama hilang dari pandangannya, setelah itu tiba gilirannya masuk ke dalam kelas. Tak banyak hal aneh yang dia lakukan, menyiapkan buku-buku untuk pelajaran hari ini sudah jadi kebiasaan.

“Ngapain lo?” tanya Titra yang melihat Reva sibuk mengeluarkan buku-buku pelajaran. Seingatnya Reva sudah masuk ke grup kelas, seharusnya walau hanya gosip yang belum jelas, Reva telah mengetahuinya.

“Nyiapin buku.”

“Lo lupa hari ini sambutan Kepala Dinas Pendidikan?”

So?” tanya Reva masih tidak mengerti.

“Ya gak belajar lah. Pasti kelas kita sebagai kelas unggulan ditunjuk ikut nyambut.”

“Kelas unggulan masih berlaku?”

“Iya! Lima orang di sepuluh besar paralel, dan sisanya paling jauh di empat puluh besar udah membuktikan kita kelas unggulan. Ketambahan lo jadi enam orang, deh.”

“Seyakin itu gue masuk sepuluh besar?”

Of course! Malahan firasat gue yang modelan Albert Einstein begini pasti peringkat satu. Nyingkirin Niana. Liat aja nanti.”

Reva terkekeh geli, terserah Titra saja. Lagi pula, Reva sama sekali tak berniat untuk mengungguli Niana.

“Woy! Buruan ke gedung seni!” Reon berteriak dari sela-sela jendela. Lagi-lagi mengundang kegaduhan karena memang pengumuman itu yang mereka nantikan sejak menginjakkan kaki di sekolah. Yes! Terbebas dari ulangan Matematika.

Thanks to Fix | Revisi Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang