Selamat membaca🙆🏻♀️
⚪ t h a n k s t o f i x ⚪
Kata orang cinta gak harus memiliki. Jadi untuk apa memperjuangkan seseorang yang perasaannya ada di pelabuhan lain?
- Titra Anjani
⚪ t h a n k s t o f i x ⚪
Titra menatap semua bingkisan yang mereka bawa. Dua jam berkeliling dan menjelaskan pada Fix bukan hal yang mudah. Selain dia begitu cerewet dia juga agak sulit diatur. Sungguh melelahkan hingga emosi Titra terus diuji selama Fix bisa bicara.
Pada akhirnya Titra memilih beristirahat di sebuah kafe. Memesan kopi untuk mengingatkannya bahwa ada yang lebih pahit dari pada Fix.
“Gue mau kasih tahu lo permintaan ketiga gue.”
Fix berjengit, bersiap protes. “Lah, tadi apaan?”
“Ngajak jalan doang. Bukan permintaan ketiga.”
Titra mengangkat bahu tak acuh. Dia belajar cara sederhana menipu seseorang lewat sebuah kalimat dari Reva. Gadis itu bisa menyelesaikan masalah hanya dengan mengoreksi kalimat yang keluar dari mulut lawan. Juga bisa mengendalikan orang lain lewat kalimatnya yang apabila tidak diperhatikan akan terjebak.
Sejak awal Titra tidak mengatakan ini adalah permintaan ketiganya. Dia hanya meminta ditemani saja. Fix tidak memperhatikannya.
Fix berdecak malas. Merutuki Titra dalam hati. Sedangkan si empunya mendengkus geli. Titra geleng-geleng kepala, mengambil satu paper bag lantas sisanya dia berikan pada Fix.
Kening Fix mengernyit kebingungan. Dia menatap Titra penuh tanda tanya. Bukankah dia bilang ini semua adalah kado untuk sepupunya juga barang yang dia inginkan?
“Kasih ke Reva. Satu per satu tapi, jangan langsung borongan biar gak kayak orang norak.”
“Hah?” Fix semakin bingung.
“Lo suka Reva, ‘kan? Perjuangin lah!”
Fix semakin kehilangan kemampuannya untuk menerjemahkan kalimat. Kepalanya terus berputar, tubuhnya seolah terkunci saking terkejutnya.
“Lo suka gue, ‘kan?”
Tawa Titra pecah. Jika dikatakan dengan percaya diri oleh Fix dia jadi kesal sendiri padahal tidak salah. “Sejak awal gue gak punya restu dari Tuhan, yang kedua gue juga gak punya restu dari nyokap lo. Dan, gue udah tahu gimana ngenesnya lihat lo perjuangin milik orang lain. Gue gak mau jadi bego gitu.”
Titra menyeruput kopi, menunjukkan sebuah ketenangan yang seharusnya pun Fix lakukan. Ini bukanlah suatu hal yang pantas dipermasalahkan hingga menurunkan fungsi kerja tubuh yang sesungguhnya.
“Awalnya gue emang niat manfaatin Reva biar bisa dekat sama lo.” Titra meletakkan cangkirnya. “Tapi, keadaan udah nolak gue dari awal. Gue minta tiga permintaan cuman buat muasin rasa penasaran gue jadi seseorang yang dispesialkan.”
Titra tersenyum kecil. “Gue iri sama Niana. Iri karena ada orang seperti lo di samping perusak.”
Diam sejenak untuk membuang napas. Selama mengenal Reva, dia jadi tulus menyukai gadis itu. Hampir semua hal dari Reva membuatnya nyaman berteman dengannya. Banyak hal baru yang Titra dapat, salah satunya antara privasi dan sosial.
“Dan gue tahu. Reva gak bakal berpikir untuk saingan sama gue. Dia tahu gue suka lo makanya dia sedikit jaga jarak. Tapi ketika gue gak mencoba untuk perlihatkan perasaan gue, dia bersikap seolah gak ada jarak di antara kalian. Dia pintar baca situasi walaupun gak kelihatan ngubah suasana.”
Sudah lama Titra memperhatikan Reva. Sayang sekali cowok bodoh di depannya ini sama sekali tidak sadar. Sekarang Titra mengerti kenapa Fix mampu bertahan untuk waktu yang lama di samping Niana.
“Itu barang-barang yang kemungkinan besar Reva suka. Gue udah perhatiin sosmed dia, gue perhatiin penampilan dia juga. Pecinta biru. Pantas sikapnya kayak laut. Tenang, tapi berbahaya. Indah di permukaan hingga beberapa meter ke bawah, tapi semakin dalam semakin gelap, dan gak bakal mampu lo gapai dengan cara apa pun.”
Fix terdiam, menyimak dengan baik semua ucapan Titra yang terlontar. Ada sedikit hantaman ketika Titra menyamakan Reva dengan laut dalam. Dia mengerti sekarang, cocoklogi yang Titra buat memang masuk akal.
“Dih, gue ngomong apaan, dah.” Titra tertawa. Geli sendiri dengan perumpamaannya. Hanya saja itulah yang terbayang di dalam kepala. “Intinya ya gitu deh. Gue sadar kok gue suka sama lo cuma pengaruh lingkungan aja. Banyak yang suka sama lo, gue jadi ikutan. Selain itu ya tadi, iri.”
Fix semakin mengerti. “Thanks, Ta. Gak nyesel gue ngasih lo tiga permintaan.”
“Sudah gue bilang dari awal, ‘kan? Lo gak bakal nyesel.”
“Thanks.”
Titra berdecak, mulai meledek Fix yang bertingkah sesuai dengan apa yang dia tolak mentah-mentah. Menjilat ludah sendiri. Mungkin Titra memang terlihat seperti orang jahat, tapi dia sama sekali tak ingin menyakiti temannya. Karena hanya Reva yang tahan dengan sikap keras kepala dan kasarnya. Dan gadis itu sukses membuat Titra terpesona dengan sikap tenang miliknya. Membuat Titra ingin menjadi sepertinya.
“Habis ini langsung lo kirim.” Titra kembali memberi saran. Dia tidak mau Fix membuat kekacauan. Bisa sia-sia perjuangan telinganya menampung semua cerewet dan pertanyaan.
Mungkin Reva merasakan yang sama saat bersamanya.
“Tapi, dia lagi sedih, Ta. Masa gue kirim hadiah?”
“Sedih?” Titra tertegun. Baru pertama kali mendengar Reva memiliki emosi. “Reva sedih? Sedih karena apa?”
“Kakaknya baru aja koma.”
“Hah? Serius? Reva punya kakak?”
Ternyata benar Reva seperti laut. Titra melewatkan banyak hal dan tak pernah menyentuh dasar gadis itu.
Fix mengangguk kecil. Menjelaskan sedikit tentang siapa Jio. Alasan kenapa Fix akhirnya bergerak lebih awal untuk mencari tahu tentang Reva. Bagaimana Jio meyakinkan tentang perasaannya.
“Kira-kira besok dia sekolah gak, ya? Gue menjomlo lagi dah di kelas.”
“Gue juga gak tahu. Tapi, kabar duka omnya aja langsung masuk sekolah. Kalau cuman sepupunya sakit gue rasa dia tetap masuk, sih.”
Titra menoleh, jika tanpa emosi pasti akan begitu. “Ya, semoga deh.” Titra berpikir sejenak.
Jika keadaannya seperti ini, tentu dia harus mengubah hadiah yang harus Fix berikan nanti. Sesuatu yang lebih pas, yang menghibur dan tidak merepotkan.
“Gue tahu lo harus kasih dia apa. Entar gue temani nyari.”
“Ya Allah. Kaki gue udah mau patah ini.” Fix mengadu frustrasi. Dia bersungguh-sungguh. Kenapa, sih, cewek mampu berbelanja berjam-jam tanpa lelah? Mengerikan.
“Dih, jari lo main piano seharian aja gak patah. Baru jalan dua jam udah sambat.”
“Beda ceritalah!”
“Sama aja, Fix. Sama-sama lo pakai kali.” Titra memutar bola mata malas. Sungguh berlebihan.
“Tapi jari gue ada sepuluh, kaki gue cuman dua.”
“Ah, bodolah! Jadi nyari gak?!”

KAMU SEDANG MEMBACA
Thanks to Fix | Revisi
Teen Fiction| Fiki UN1TY | Dalam proses revisi 5 Desember "Aku adalah ceritamu yang telah lama usai." Reva meletakkan penanya di dalam saku, menutup buku diary miliknya dengan perasaan yang dia sendiri tak bisa jelaskan bagaimana. Lembar terakhir yang dia gunak...