Selamat membaca 💙
⚪ t h a n k s t o f i x ⚪
Titra bersenandung ria mendapat kabar Reva akan menjenguknya. Gadis itu juga menawarkan keperluan apa yang Titra butuhkan. Tanpa tahu malu pun Titra memesan banyak hal, dan respons Reva? Dia hanya tertawa dan mengiyakan semua. Nyamannya punya teman orang kaya, baik hati, dan tidak sombong. Titra doakan Reva masuk surga.
Sebenarnya bukan hanya itu yang membuatnya senang, Reva juga menyiapkan sesuatu untuknya. Sebelumnya Titra mengadu tentang Fix pada Reva, setelah itu gadis itu bilang akan membawakan kejutan.
“Permisi.”
Titra menoleh dengan wajah berbinar, kemudian dalam sekejap mendadak kecewa karena Reva sama sekali tak membawa apa-apa di tangannya.
Menangkap ekspresi itu, Reva jelas mengerti bahwa Titra lebih menunggu apa yang dia pesan ketimbang Reva sendiri. Namun, tak apa. Dia sangat jujur dengan ekspresinya, Reva juga ingin merasakannya.
“Cepat pulih, Ta.”
“Lo juga.” Titra terdiam beberapa saat. Sebenarnya, melihat Reva datang saja sudah membuatnya senang. Dia hanya gengsi saja memperlihatkannya. Karena itu membuktikan Reva benar-benar tulus berteman dengannya. “Wajah lo kenapa?”
“Re, gue taruh mana?”
Titra yang paling duluan menoleh. Matanya membola, mulutnya terbuka setengah. Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan?
“Taruh di situ aja, Bi.”
Titra menelan ludah. Sumpah, seribu kali lipat lebih tampan dari Fix. Titra menarik lengan Reva, mendekat ke telinga gadis itu.
“Itu Bion?” tanyanya tanpa berkedip menatap Bion.
“Iya. Dia kejutannya.”
“Hah?! Oh!”
“Get well soon. Gue Bion.”
Merasa dibicarakan, Bion pun bergerak mendekat. Dia mengulurkan tangan, mengajak Titra bekenalan sewajarnya. Hanya saja ekspresi gadis itu benar-benar bisa Bion pahami tanpa perlu sulit-sulit menerjemahkan.
Sekarang dia sadar, hanya dirinya yang kurang bisa mengekspresikan diri di antara semua teman Reva.
“Gue Titra! Biasa dipanggil Tata! Lo ganteng banget, buset!”
“Salam kenal.” Bion menarik kembali ulurannya. Menatap Reva meminta untuk diselamatkan. Dia merasa agak tidak nyaman.
Reva tersenyum, dia meminta Bion untuk menunggu di mana pun dia mau. Mungkin Reva tak akan lama karena setelah ini mereka akan mampir ke toko untuk melakukan beberapa hal.
“Sumpah, Re! Lo sama Bion aja jangan sama Fix!”
Tawa Reva terdengar. “Siapa pun yang bakal sama gue. Tokoh utamanya sekarang itu lo, Ta. Gue bawakan kebab pesanan lo.”
“Wah! Lo emang terbaik deh, Re!”
Reva tersenyum kecil. Dia memberikan beberapa kantung kresek yang berisi makanan pesanan Titra. Sedang kresek lain berisi bingkisan untuk keluarga Titra.
Aroma kebab menyeruak keluar ketika Titra buka, perutnya langsung meronta-ronta kelaparan. Dia benar-benar bersyukur bisa jadi teman sebangku Reva.
“Oh, ya. Muka lo kenapa?”
“Serupa kayak waktu itu.”
Titra menelan makanannya, berpikir sejenak. “Ditampar Niana lagi?” tanya Titra berhati-hati.
“Bukan Niana, tapi nenek gue.”
“Nenek biadab yang lo ceritain?! Sumpah! Buset dah itu manusia apa iblis?!”
“Ta ....” Reva memberi peringatan. Dia sudah pernah menjelaskannya pada Titra, gadis itu juga sudah berjanji untuk menahan umpatannya.
“Udah keterlaluan, Re! Lo gila ya!”
“Nenek ibu kandung papa gue. Mau bagaimana pun lo gak pantas memberikan penilaian buruk.”
Titra memutar kedua bola mata malas. Hanya sisi ini yang Titra kewalahan sendiri mencernanya. Titra hanya ingin Reva bersikap sewajarnya. Marah itu wajar, karena jelas dia memang salah dan keterlaluan. Reva berhak untuk melepaskan emosinya.
“Emangnya marah itu haram, ya? Semua orang juga bakal marah, Re, kalau diperlakukan kayak binatang. Bukan sekali dua kali! Tapi nyaris tiga tahun!”
Emosi Titra tidak bisa dia bendung. Dia tidak bisa mengerti, untuk kali ini benar-benar tak bisa mengerti.
“Baru kali ini nyentuh fisik.”
Titra tertawa sarkastik. Dia masih bisa membela neneknya?
“Mental lebih sulit sembuh ketimbang fisik.”
Karena Titra juga sempat merasakannya walau tidak segila apa yang Reva alami. Dia selaku dikucilkan karena dianggap tidak pantas menjadi teman. Sikapnya yang blak-blakan dan mudah marah membuat semua orang menatap sinis padanya.
“Gue cuma mau memadamkan api. Bukan jadi api, juga bukan jadi angin.”
“Kalaupun lo emang mau madamin, ya siram, Re! Kalau lo diam aja, kapan padamnya?”
Reva terdiam. Selama ini tidak ada yang berani memberinya nasihat dengan emosi yang meledak-ledak. Reva sudah sampai di tahap sejauh ini mempercayai Titra. Memegang janji gadis itu untuk menjaga semua rahasia.
Reva hanya sedang merasa dia perlu bentakan yang membuatnya jadi kuat. Bukan hanya bentakan yang perlahan menghancurkan dinding mentalnya. Tapi ... kebiasaan, sukses membuatnya tetap melakukan apa yang biasa dia lakukan.
“Gue gak mau kehilangan Papa.”
“Tapi lo mau buat Papa kehilangan lo?”
Reva kembali dibuat diam, menunduk dalam. Titra mengurut pelipis, membuang napas berat.
“Re ... lawan. Kumpulkan buktinya. Laporkan ke polisi. Lo gak bakal kehilangan Om Etan karena itu. Gue janji.”
Reva menggeleng. “Gue gak mau pegang janji lo yang itu, Ta.”
“Percaya gue! Gue janji!” Titra menggertak keras. Sesekali Reva harus diberitahu dengan keras. “Dengerin apa kata gue, Re ....”
Reva tetap menggeleng. “Sebentar lagi lulus, gue ke luar negeri buat kuliah. Nenek gak bakal kehilangan Papa, dan Papa gak bakal kehilangan gue.”
Titra mulai terdiam. Nyaris kehabisan akal.
“Gue tahu inti masalahnya ada di siapa. Ada di papa lo, ‘kan? Dia gak bisa milih antara lo atau ibunya. Itu emang pilihan berat, tapi ibunya udah salah jalan, Re. Papa lo lebih berhak ngelindungi keluarga yang sudah dia buat sendiri, ketimbang seseorang yang udah gak bener.”
“Tapi, Papa bisa ajak Nenek ke jalan—“
“Apa? Ke jalan yang bener?” Titra menyela seenaknya. “Selama hidup lo gak cukup, Re? Bertahun-tahun gak cukup? Bahkan sampai lo mati, gue tetap gak yakin itu terjadi.”
Reva kembali dibuat bungkam. Dia bisa mengerti kenapa Titra berpikir demikian. Reva bisa mengerti belasan tahun itu bukan waktu yang singkat untuk menerima semua benci dan amarah. Belasan tahun itu juga bukan waktu yang sedikit untuk menghancurkan Reva.
Dia bisa bertahan karena Etan sempat mengajaknya melarikan diri. Karena saat itu anggota keluarga yang lain masih utuh. Semua duka berawal dari kepulangan Reva. Reva bisa mengerti kenapa nenek begitu membencinya. Namun, orang lain tidak akan bisa mengertinya.
“Lo gak ngerti.”
“Iya gue emang gak ngerti. Tapi seenggaknya gue melihat dari sudut pandang orang normal, bukan malaikat kayak lo.”
“Ta ... gue berusaha ngerti. Tapi, regulasi otak gue menolak.”
“Lawan, Re. Rasain semua rasa sakit lo, lawan pakai itu.” Titra berkata yakin, memberikan tatapan yang serupa.
Titra ingin temannya bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik. Titra ingin Reva terlihat lebih manusiawi.
“Gue tahu gue cuma punya info terbatas tentang lo. Gue hanya tahu gimana keluarga besar lo bertindak. Gue hanya tahu kalau lo terbiasa memendam. Apa selama ini lo gak punya tempat untuk cerita?”
Titra mulai kembali tenang. Matanya menatap lekat-lekat sesuatu yang mulai pecah di sana. Seakan ada sesuatu yang berbunyi karena retak.
“Gue punya ... Kak Jio.”
“Hanya dia?”
“Bion.”
“Ada lagi?”
“Lo.”
Titra diam sejenak, dia menemukan satu alasan kuat yang bisa dia layangkan untuk Reva. Untuk masalah sulit mempercayai orang lain mungkin Titra bisa mengerti. Namun, dia tidak mengerti bila sudah sampai di tahap separah ini.
“Gak cukup, ‘kan, Re, kalau cuma diceritakan? Bahkan setengahnya aja sepertinya lo gak sanggup.”
Reva menatap Titra. Keningnya mengernyit sebab berusaha mencerna semua yang Titra katakan.
“Lawan, Re. Selesaikan. Kalau lo yakin nenek cuma salah paham, pasti ada dalangnya. Lo pikir Kak Jio gak pernah datangi gue seperti Fix? Lo salah besar.”
Reva tertegun. Merasa lebih sakit ketika nama Jio disebut dengan semua usaha yang dia lakukan selama ini.
“Lo gak mau buat usaha Kak Jio sia-sia, ‘kan? Demi Kak Jio, Re. Demi mama lo. Setidaknya demi mereka, walau bukan demi diri lo sendiri.”
⚪ t h a n k s t o f i x ⚪
Bion bisa mendengar suara Titra setiap kali gadis itu meninggikan suara. Namun, Bion sama sekali tak bisa mendengarkan suara Reva. Nyaris satu jam Bion diam di depan pintu, mendengar Reva dimarahi. Satu hal yang tak pernah sanggup Bion lakukan.
Bion sudah sering kali merasa brengsek setiap kali berbuat kesalahan. Hanya karena orang tuanya memiliki kedudukan dan harta yang banyak, kesalahan itu bisa ditutupi dengan mudah. Hanya karena gadis seperti Reva berdiri di sebelahnya, semua orang memakluminya.
Bion tertekan karena dituntut jadi sempurna. Bion tertekan karena dia tak pernah dibiarkan menggapai apa yang dia inginkan sesungguhnya.
Bion kehilangan dirinya sejak pertama kali dijanjikan kebahagiaan. Kebahagiaan yang telat diatur oleh orang tua dan lingkungannya.
Bion tertekan ketika dipertemukan dengan Reva lantas dipisahkan begitu saja. Dia ingin gadis itu. Dia ingin kebebasan memilih seperti gadis itu.
Awalnya begitu, sampai Bion tahu jika kebebasan itu lenyap dari hidup Reva, dan dia juga merasakannya. Bion merasa bebas hanya ketika dia bersama Reva, dan sekarang dia ikut merasa kehilangan.
“Ayo, Bi.”
Bion tersentak, menjatuhkan ponselnya. Sama sekali tidak sadar kapan pintu di belakangnya terbuka. Dia tidak sadar seberapa lama dia sudah melamun tidak jelas.
“Kenapa?”
Harusnya Bion yang menanyakannya.
Bion menggeleng, mengambil ponselnya lantas menyimpannya di dalam saku. Cowok itu menghela napas, meraih dan menggenggam tangan Reva. Berjalan beriringan dengan gadisnya. Memastikan dia tetap berada di samping, dekat dengannya.
“Bion ....”
Kakinya berhenti. Bion tahu jelas apa maksud dari panggilan itu. Reva mengerti ada yang salah darinya. Gadis itu menginginkan Bion memberi penjelasan.
Tubuh Bion merosot, berjongkok nyaris kehabisan tenaga. Dia menyembunyikan wajahnya, menenggelamkan air mata yang siap meluncur dari sana.
Bion merasa bersalah atas salah satu kematian, tapi dia benar-benar brengsek karena tidak sanggup bicara.
Tidak sanggup jika Reva meninggalkannya.
Reva ikut berjongkok, mengusap kepala Bion. Merasakan setiap helai rambut halus cowok itu. Bion tidak pernah sejatuh ini sebelumnya. Reva tidak pernah melihat Bion seputus asa ini.
“Apa yang lo takutkan?”
“Kalau gue tanya balik apa lo mau jawab?”
Reva diam sejenak.
“Gue takut kehilangan lo.”
Saat itu Bion menangis. Tidak lagi mencoba untuk menahan air mata yang mengganjal matanya. Kalimat yang sejak dulu ingin Bion dengarkan. Karena Bion juga merasakan yang sama.
“Gue juga,” lirih nyaris tak terdengar.
“Kalau gitu lihat gue, Bi. Jangan biarin gue hilang dari pandangan lo.”
Bion mendongak ketika jemari Reva bergerak membawa wajahnya. Jemarinya menyapu lembut air mata di pipinya. Rasanya dingin, tapi lembutnya menyampaikan kasih dengan baik ke otak maupun hati.
“Gue bisa hilang kapan pun, bahkan ketika lo mengedipkan mata. Jadi terus jaga gue, terus indahkan janji lo ke Kak Jio untuk jaga gue.”
Bion menggigit bibir. Mengangguk kecil. Setelah itu barulah dia kembali menemukan senyuman Reva terbit. Gadis itu tersenyum untuknya. Gadis itu terlihat baik-baik saja untuknya.
“Mau ke taman dulu?”
Bion menggeleng. Dia mengusap wajahnya sendiri, benar-benar membersihkan wajah sedihnya tadi. Perlahan dia berdiri, disusul Reva yang ikut berdiri. Dia malu. Malu sudah menangis di depan Reva.
“Langsung ke mobil?”
Bion mengangguk. Kali ini tangannya yang diraih. Kali ini tangannya yang digenggam. Kali ini Reva yang menuntunnya jalan. Dan Bion hanya bisa menerima semuanya seakan dia tidak pernah bersalah.
⚪ t h a n k s t o f i x ⚪
🥺🥺🥺
Terima kasih sudah membaca💙🙆🏻♀️
KAMU SEDANG MEMBACA
Thanks to Fix | Revisi
Teen Fiction| Fiki UN1TY | Dalam proses revisi 5 Desember "Aku adalah ceritamu yang telah lama usai." Reva meletakkan penanya di dalam saku, menutup buku diary miliknya dengan perasaan yang dia sendiri tak bisa jelaskan bagaimana. Lembar terakhir yang dia gunak...
